Pelatihan Lisensi D Nasional Digelar di Kudus, Dongkrak Sepak Bola Usia Dini

by -84 Views

Komitmen untuk Membangun Fondasi Sepak Bola Usia Dini

Bakti Olahraga Djarum Foundation kembali menunjukkan komitmennya dalam memajukan sepak bola usia dini dengan menggelar program sertifikasi pelatih Lisensi D Nasional. Kali ini, program ini diadakan bersama MilkLife dan PSSI, yang berlangsung selama sepekan, mulai dari 29 September hingga 5 Oktober 2025 di Supersoccer Arena, Kudus. Program ini diikuti oleh 30 peserta yang terdiri dari pelatih lokal dan guru olahraga.

Program ini merupakan bagian dari rangkaian MilkLife Soccer Challenge (MLSC), yang sebelumnya telah digelar di Kudus. Pelatihan ini dipimpin oleh Muhammad Hanafing Ibrahim, pelatih berlisensi AFC Pro yang bertindak sebagai Coach Educator PSSI. Tujuan utamanya adalah memperkuat fondasi sepak bola sejak tingkat dasar, termasuk memperluas akses sertifikasi resmi bagi para pendidik olahraga.

Menurut Program Director MilkLife Soccer Challenge, Teddy Tjahjono, program ini dilakukan sebagai respons atas tingginya minat terhadap MLSC dan kebutuhan akan pelatih berkualitas di tingkat akar rumput. Ia menyebutkan bahwa banyak guru olahraga dan pelatih lokal memiliki potensi besar, namun seringkali belum memiliki pelatihan formal.

“Kami hadirkan sertifikasi ini agar lebih banyak pelatih bisa memberikan pembinaan secara benar dan profesional kepada anak-anak,” jelas Teddy.

Melalui kerja sama ini, pelatih dapat mendapatkan sertifikasi lisensi D dengan biaya terjangkau hanya Rp750 ribu. Ini menjadi kesempatan yang sangat baik karena biasanya biaya untuk program ini mencapai jutaan rupiah.

Pelatihan ini dibagi menjadi dua sesi utama, yaitu teori dan praktik. Di ruang kelas, peserta mempelajari berbagai modul seperti Filosofi Sepak Bola Indonesia (Filanesia), strategi bertahan-menyerang, manajemen pertandingan, hingga tahapan pengembangan pemain. Sementara itu, sesi praktik mengajak peserta langsung mengaplikasikan materi di lapangan, dibantu oleh para pemain muda sebagai peraga latihan.

Pelatih Hanafing menekankan pentingnya penguasaan enam teknik dasar, yakni passing, control, dribbling, running with the ball, heading, dan scoring, sebagai fondasi dalam melatih pemain usia dini. Menurutnya, pondasi ini harus benar, karena itulah yang dinilainya membuat pemain berkembang.

“Lisensi D ini bukan hanya formalitas. Ini adalah dasar utama untuk menjadi pelatih yang bisa mendidik dengan cara yang benar. Kalau fondasinya salah, maka ke depannya pemain tidak akan berkembang maksimal,” ujar Hanafing.

Dengan didampingi oleh Yayat R. Hidayat dan Pamungkas Yuli Kurniawan, pelatihan berlangsung interaktif dan intensif dengan mendorong peserta untuk berdiskusi, mengkritisi, dan saling memberi masukan. Lebih dari sekadar pengembangan kompetensi individu, program ini juga membawa misi besar, yakni membangun ekosistem sepak bola yang lebih sehat, khususnya di level daerah. Termasuk di dalamnya adalah penguatan pembinaan sepak bola putri, yang kini mulai mendapat perhatian lebih serius.

“Semakin banyak pelatih berkualitas di daerah, semakin kuat pula pondasi sepak bola kita. Dan itu juga berlaku untuk sepak bola putri, yang ke depannya kami harapkan bisa berkembang pesat,” tambah Teddy.

Salah satu peserta, Just Nurkha Habibi, guru olahraga di SD Muhammadiyah Birrul Walidain Kudus, mengaku pelatihan ini menjadi pengalaman baru yang sangat berharga. Ia mengatakan mendapatkan ilmu dengan biaya yang relatif lebih terjangkau.

“Ilmunya luar biasa. Kami dilatih untuk berpikir kritis, menyusun program latihan, hingga memecahkan masalah di lapangan. Harganya sangat terjangkau untuk ilmu seberat ini. Saya berharap pelatihan ini terus berlanjut hingga lisensi C atau lebih tinggi lagi,” tuturnya.

📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.