Perjalanan 3 Tahun 3 Bulan 3 Hari Seorang Pemimpin
Heni Susilawati, yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Perumda Aneka Usaha Darma Putra Kertaraharja (PDAU) Kuningan, resmi mengakhiri masa kepemimpinannya setelah berjuang selama 3 tahun 3 bulan 3 hari. Angka-angka ini bukan sekadar angka biasa, melainkan simbol dari perjalanan yang penuh makna dan dedikasi.
Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya @henisusilawati795, pada 1 November 2025, Heni menyampaikan pesan yang sarat makna. Ia menulis bahwa ia menyerahkan surat pengunduran diri dari jabatan Direktur Perumda Aneka Usaha Kuningan periode 2022-2027. Dengan kata-kata yang elegan, ia menjelaskan bahwa ia telah mengabdikan diri selama 3 tahun 3 bulan 3 hari, sebuah perjalanan yang tidak hanya tentang jabatan, tetapi juga tentang waktu, dedikasi, dan mungkin sedikit luka yang tak terucapkan.
Unggahannya bukan sekadar pengumuman, tetapi seperti catatan akhir dari seseorang yang pernah menghadapi badai dan tenang dalam kapal bernama BUMD—Perumda Aneka Usaha Kuningan. Dalam tulisan tersebut, Heni mengisahkan bagaimana selama masa jabatannya, ia berhasil menyelesaikan masalah lama, memperbaiki tata kelola organisasi, dan mengembangkan bisnis wisata.
Kata-kata “kehormatan, kebanggaan, dan kebahagiaan” menjadi penutup perjalanannya, yang seakan menyempurnakan simbolisme “tiga” yang menghiasi kisah mundurnya. Namun, publik mulai bertanya-tanya: mengapa Heni mundur di tengah jalan, tepat di angka tiga seolah begitu teka-teki?
Sumber di lingkungan pemerintah daerah menyebut bahwa surat pengunduran diri Heni Susilawati dari jabatan Direktur PDAU Kuningan diterima langsung oleh Bupati, H. Dian Rachmat Yanuar, dan efektif berlaku mulai 1 November 2025. Bupati mengakui bahwa Heni menyampaikan alasan ingin mengembangkan karier di tempat lain, meskipun ia belum sempat bertemu langsung karena agenda yang padat.
Bupati Kuningan mengatakan bahwa ia sudah menugaskan Kabag Perekonomian dan SDA yang juga selaku Dewan Pengawas PDAU Kuningan, Tatiek Ratna Mustika, untuk menindaklanjuti administrasi serta menyiapkan serah terima jabatan agar roda perusahaan daerah tetap berputar tanpa hambatan. Meski langkah Heni meninggalkan perusahaan di saat Perumda Aneka Usaha Kuningan masih berjuang meningkatkan kontribusi terhadap PAD, bisa diibaratkan seperti nahkoda yang melompat dari kapal saat gelombang masih bergulung.
Namun, Bupati menanggapinya dengan kebijaksanaan birokratis. Ia menyatakan bahwa ia tidak akan menghalangi siapa pun yang ingin berkembang di bidang lain. Ia optimis bahwa PDAU Kuningan bisa tumbuh lebih cepat dengan model bisnis baru.
Pemerintah Kabupaten Kuningan kini tengah menyiapkan skenario baru untuk Perumda Aneka Usaha—termasuk kemungkinan berkolaborasi dengan pihak ketiga di sektor wisata dan mempercepat rotasi bisnis yang lebih likuid. Dinas Pariwisata juga akan dilibatkan untuk menata ulang potensi wisata daerah agar bisa menjadi “mesin penggerak” baru bagi perusahaan milik daerah itu.
Sementara itu, unggahan Heni di Instagram justru memunculkan multi-tafsir. Kalimat-kalimatnya terdengar halus namun mengandung nada simbolik—seolah menyiratkan bahwa di balik angka “tiga” itu ada cerita panjang tentang keseimbangan antara idealisme dan realita birokrasi, atau mungkin sesuatu hal yang bersifat politis secara dia mantan Ketua KPU Kuningan.
Bagi sebagian orang, keputusan mundur di tanggal itu terasa seperti sebuah ungkapan keikhlasan. Bagi yang lain, mungkin ini adalah bentuk perlawanan paling lembut dari seorang perempuan yang pernah memimpin, memperjuangkan, lalu memilih pergi dengan kepala tegak.
Bupati Kuningan pun tak lupa menyampaikan apresiasi atas dedikasi Heni selama masa kepemimpinan. Ia menegaskan bahwa serah terima estafet kepemimpinan akan segera dilakukan agar kinerja perusahaan tetap stabil dan pelayanan publik tidak terganggu.
Kini, setelah 3 tahun 3 bulan 3 hari mengukir langkah sebagai Direktur PDAU Kuningan, Heni meninggalkan jejak yang tak biasa—angka, waktu, dan kata berpadu dalam kisah pengabdian yang berakhir bukan karena kalah, tapi karena tahu kapan harus berhenti.
Dan seperti kata pepatah tua, kadang sebuah akhir yang elegan jauh lebih berharga daripada jabatan yang bertahan tanpa arah.
📲 Ikuti terus berita kami di Google News .





