Kampus Universitas Tadulako dan Konflik yang Mengguncang
Kampus Universitas Tadulako (Untad) tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekitar. Wilayah seperti Tondo Ngapa, Tondo Duyu, Vatutela, dan Layana memiliki hubungan yang sangat erat dengan kampus. Mereka adalah bagian dari aliran darah kehidupan kampus, sehingga tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Pemahaman akan hubungan timbal balik antara kampus dan warga sekitar telah menjadi benang merah dalam berpikir masyarakat setempat. Melukai mereka sama saja melukai diri sendiri, karena mereka adalah bagian dari struktur kehidupan kampus.
Namun, kini lingkungan akademik Untad kembali terganggu oleh insiden keamanan serius yang berkepanjangan. Konflik antarmahasiswa lintas fakultas memicu tawuran yang semakin memanas. Setelah sempat mereda, kini api perseteruan kembali menyala dan bahkan meluas, menyeret masyarakat sekitar kampus sebagai korban. Ancaman blokade jalan masuk kampus dijadwalkan berlangsung pada Senin (31/11).
Insiden ini memicu reaksi dari masyarakat sekitar, terutama setelah pesan berantai menginformasikan bahwa seorang warga sipil dari kawasan Tondo, yakni AKAMSI alias Anak Kampung Sini (Tondo), menjadi korban pengeroyokan dan pelemparan. Akibat peristiwa tersebut, keluarga besar korban tidak menerima.
“Untuk sementara kegiatan dikampus ditiadakan berhubung ada musibah AKAMSI kena keroyok dan Lempar karena info A1 hari Senin semua warga Tondo ngapa, Tondo Duyu, Vatutela dan Layana akan memblokir jalan masuk Ke Kampus Untad baik Mahasiswa Maupun Karyawan/Dosen dilarang masuk sebelum oknum Mahasiswa yang melakukan Pengroyokan dipertemukan sama Warga tondo.”
Pesan tersebut menunjukkan eskalasi konflik dari internal kampus ke ranah publik, di mana masyarakat sekitar kini menuntut pertanggungjawaban langsung dari pihak kampus dan oknum pelaku.
Dampak Tawuran Internal yang Menyeret Warga
Berdasarkan penelusuran tim redaksi, insiden ini memiliki benang merah yang kuat dengan rentetan tawuran antarfakultas yang berulang kali terjadi di Untad. Konflik terbaru dilaporkan melibatkan mahasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dengan Fakultas Kehutanan. Bentrokan yang terjadi pada Jumat (28/11/2025) melibatkan aksi saling serang, termasuk pelemparan batu dan benda padat lainnya, sebagaimana video amatir yang beredar.
Dalam video tersebut menunjukkan jika insiden tersebut, selain merusak fasilitas, serangan ternyata juga mengenai pihak di luar kelompok bertikai, termasuk warga Kelurahan Tondo dan seorang pekerja kebersihan yang dilaporkan mengalami luka di bagian kaki. Keterlibatan korban dari masyarakat sipil inilah yang memicu kemarahan kolektif warga Tondo, Duyu, Vatutela, dan Layana, yang kini mengancam untuk melumpuhkan aktivitas akademik Untad.
Kepimpinan yang Tidak Responsif
Menyikapi perkembangan yang semakin meluas ini, tim Redaksi Pikiran Rakyat telah meminta tanggapan resmi dari pihak Rektorat Untad. Tanggapan Rektor sangat dinantikan oleh publik, khususnya dalam merespons dua isu krusial:
- Bagaimana sikap pimpinan kampus terhadap ancaman blokade massal oleh warga yang menuntut mahasiswa pelaku diketemukan?
- Bagaimana langkah strategis untuk menghentikan siklus tawuran antarfakultas yang telah mencoreng nama baik institusi pendidikan terbesar di Sulawesi Tengah ini, serta memberikan jaminan keamanan bagi warga sekitar.
Namun, Rektor yang dimintai konfirmasi lag-lagi hanya memilih tidak merespon, sebagai sikap yang mencerminkan pemimpin yang tidak komunikatif. Bahkan menurut kalangan kampus sendiri, yang direspon oleh rektor hanya hal-hal yang memuji-muji, dan jika dikritik maka langsung diblokir.
Tuntutan Warga dan Ancaman Kelumpuhan Kampus
Ancaman blokade pada Senin (31/11) ini menjadi alarm tertinggi bagi Untad. Warga berharap ada komunikasi yang sejuk antara pimpinan kampus dengan warga, agar situsasi ini tidak semakin melebar demi terlaksananya layanan akademik bagi mahasiswa.
Namun, lemahnya komunikasi personal dan kelembagaan terhadap warga sekitar telah semakin memicu keruhnya suasana, sebab terkesan ada kondisi hubungan antara kampus dan warga sekitar bagai air dan minyak, keluh mereka.
Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk pada Senin (31/11), diharapkan pihak keamanan ikut menyejukkan suasana antara kampus dan warga sekitar sehingga tidak berkembang lebih jauh.
Namun, kata sejumlah pihak, ini perlu komunikasi yang baik antara pimpinan kampus dengan warga, yang selama ini terkesan kurang berjalan baik karena terkesan ada pola kepemimpinan birokratis yang sulit ditembus warga akar rumput.
“Jangankan warga biasa ingin menemui Rektor, petinggi kampus dan petinggi dari luar saja terkadang antri berjam-jam namun akhirnya gagal bertemu orang nomor satunya kampus”, kata mereka yang pernah merasakan betapa sulitnya menembus ruangan rektor yang dijaga secara berlapis-lapis mulai dari lantai 1 sampai ke lantai 2, yang dinilai kalah-kalah Style-nya gubernur dan menteri.
Salah seorang warga yang dihubungi media ini membenarkan pesan berantai yang beredar luas itu. “Recana hari senin….mulai naik ke atas (baca: kampus) warga”, tulisnya via WhatsApp.
📲 Ikuti terus berita kami di Google News .





