1 Riyal Kalah Jarak dari 1 Dolar

by -231 Views



Pada malam yang penuh tawa dan keakraban, EO mengumumkan permainan sederhana. Peserta diminta untuk membawa uang asing dan menyebutkan negara asalnya. Tidak penting nominalnya, yang dicari adalah asal negara yang paling jauh. Awalnya terdengar seperti permainan biasa, tapi suasana langsung berubah menjadi seperti audisi “Siapa Mau Jadi Miliarder”.

Saya yang biasanya tidak pernah menang undian apa pun tiba-tiba merasa ada peluang. Di dalam dompet, saya menemukan satu riyal Arab Saudi yang sudah lama tertidur di balik kartu ATM. Saya memeriksa dengan penuh hormat, seperti sedang mengecek tiket lotre sebelum diumumkan: ya, benar, 1 riyal itu masih ada. Dalam hati saya mulai muncul harapan. Arab Saudi cukup jauh, pikir saya. Mungkin saja saya bisa menang.

Ketika nama saya dipanggil, saya maju dengan percaya diri. Saya mengangkat koin riyal itu seperti Simba baru lahir yang diangkat Rafiki di film Lion King—penuh kebanggaan, harapan, dan sedikit dramatis. Beberapa orang bertepuk tangan. Saya mulai membayangkan kemenangan kecil malam itu. Tidak ada hadiah besar, tapi menang permainan begini selalu terasa menyenangkan.

Tapi hidup, seperti biasa, suka mengatur plot twist tanpa berkonsultasi dulu dengan perasaan kita.

Belum sempat saya duduk kembali, seorang peserta lain melangkah pelan ke depan. Gayanya santai, seperti orang yang tidak berniat menang, hanya ingin menyetor absensi. Dengan wajah tanpa beban, ia mengangkat selembar uang dan berkata, “Saya bawa 1 dolar Amerika.”

Suasana langsung riuh. Beberapa orang bersiul. Saya hanya bisa menahan senyum. Dalam hitungan beberapa detik, seluruh mimpi kemenangan saya terbang seperti burung merpati dilepas di upacara pernikahan—teratur, anggun, tapi menyakitkan.

Saya kalah. Bukan karena jumlah uangnya lebih besar. Bukan karena bentuknya lebih keren. Tapi karena jarak negaranya lebih jauh. Arab Saudi 7.000 km. Amerika Serikat 14.000 km. Selisih yang cukup membuat riyal saya tidak punya masa depan di podium juara.

Saya kembali ke kursi sambil tertawa sendiri. Kadang hidup memang sesederhana itu—kita sudah merasa siap jadi pemenang, tapi semesta tiba-tiba berbisik, “Sabar ya, belum rezekimu.”

Meski begitu, saya tetap merasa bangga. Riyal saya mungkin kalah jarak, tapi setidaknya ia punya nilai sentimental yang tidak bisa dikalahkan dolar mana pun. Dan kalau bicara soal pahala, barangkali riyal saya tetap juara.

Malam itu saya tidak pulang sebagai pemenang permainan, tetapi pulang dengan satu cerita yang cukup lucu untuk dibagikan. Dan bukankah itu juga sebuah kemenangan kecil?

📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.