Perayaan Syukuran Lembaga Seni Budaya Fanfare Santa Caecilia
Administrator Apostolik Keuskupan Larantuka, Mgr. Frans Kopong Kung, Pr, menghadiri perayaan syukuran Lembaga Seni Budaya Fanfare Santa Caecilia Keuskupan Larantuka. Acara tersebut digelar di Gedung Multi Event Hall (OMK) St. Caecilia pada hari Sabtu, 29 November 2025. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya spiritualitas iman yang diwariskan oleh Santa Caecilia.
Santa Caecilia dikenal sebagai tokoh yang memiliki keteguhan iman sejak usia muda. Ia rela mengorbankan nyawa demi mempertahankan keyakinannya sebagai pengikut Kristus. Hal ini menjadi inspirasi bagi seluruh anggota Fanfare untuk berani mewartakan sukacita Injil dalam kehidupan sehari-hari.
Mgr. Fransiskus menyampaikan bahwa dengan memilih Santa Caecilia sebagai pelindung Lembaga Seni Budaya Fanfare, semua anggota telah menyadari nilai-nilai spiritualitas iman Katolik yang diwariskan oleh Santo tersebut. Ia menekankan bahwa Fanfare tidak boleh pensiun hanya karena uskupnya pensiun. Justru, mereka harus terus berkarya dan bangkitkan kembali semangat serta keberanian untuk tampil berbeda.
Di tengah kompleksitas tantangan hidup saat ini, Mgr. Fransiskus mengingatkan agar Fanfare tetap menjaga semangat dan keberanian dalam mewartakan Injil. Ia menyoroti situasi masyarakat yang cenderung tergoda oleh pesta pora, musik yang hingar-bingar, dan aktivitas yang tidak sehat seperti mabuk-mabukan hingga berujung pada perkelahian.
Dengan terus menajamkan spiritualitas kesukacitaan seorang gadis remaja bernama Caecilia, Administrator Apostolik Keuskupan Larantuka tersebut mengajak para pengurus dan anggota Lembaga Seni Budaya Fanfare untuk senantiasa mengalirkan sukacita Injil melalui keindahan dan kelembutan serta kemerduan musik dan nyanyian.

Baginya, kelembutan dan keindahan musik serta alunan suara yang merdu dapat membuat orang lebih mudah merasakan dan melihat keindahan Tuhan. Ia menekankan bahwa Fanfare harus berani melawan arus, berani tampil beda, dan terus mewartakan Injil dengan penuh sukacita dalam spirit Santa Caecilia.
Di tengah nilai-nilai hidup yang semakin tergerus oleh pesta pora, Fanfare harus menampilkan kelembutan dan keindahan musik dan lagu yang membuat orang-orang dengan sukacita menangkap keindahan karya Tuhan. Ia juga mengingatkan warga Fanfare agar tidak pensiun, meskipun dirinya telah memutuskan untuk pensiun dari jabatan Uskup Larantuka.
Nilai Spiritualitas dalam Musik dan Nyanyian
Musik dan nyanyian memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan spiritual. Dalam konteks Lembaga Seni Budaya Fanfare Santa Caecilia, musik bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga sarana untuk menyampaikan sukacita Injil. Dengan menggunakan keindahan dan kelembutan musik, pesan-pesan agama dapat disampaikan secara lebih efektif dan mendalam.
Berikut beberapa nilai spiritual yang bisa diambil dari perayaan ini:
- Keberanian dalam Berjuang: Seperti Santa Caecilia, setiap anggota Fanfare diajak untuk berani bertahan dalam iman dan tidak takut menghadapi tantangan.
- Sukacita dalam Pelayanan: Sukacita adalah inti dari ajaran Injil. Setiap aktivitas musik dan nyanyian harus dilakukan dengan penuh sukacita dan kegembiraan.
- Kebijaksanaan dalam Menghadapi Tantangan: Di tengah dinamika dunia modern, Fanfare diminta untuk tetap menjaga nilai-nilai kebenaran dan kebaikan.
Pentingnya Keberlanjutan dalam Karya
Meskipun Uskup Fransiskus telah pensiun, ia tetap percaya bahwa karya-karya yang telah dibangun oleh Fanfare harus terus berlangsung. Kehadiran Fanfare di tengah masyarakat merupakan bentuk perwujudan iman yang aktif dan dinamis. Dengan terus berkarya, Fanfare tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga menjadi sarana untuk menyebarkan sukacita Injil.
Maka dari itu, setiap anggota Fanfare harus sadar akan tanggung jawabnya sebagai pembawa pesan spiritual melalui musik dan nyanyian. Dengan begitu, karya-karya mereka tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi jembatan untuk menghubungkan manusia dengan Tuhan.
📲 Ikuti terus berita kami di Google News .





