
Peran Komunikasi Publik dalam Menjaga Hubungan Internasional
Pernyataan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian yang membandingkan nilai bantuan sebesar Rp1 miliar dari Malaysia terhadap bencana di Sumatera dengan anggaran pemerintah Indonesia menimbulkan perhatian khusus dari kalangan akademisi. Pernyataan tersebut dinilai memiliki potensi untuk mengaburkan makna solidaritas antarnegara.
Diksi “masih kalah” yang digunakan oleh Mendagri dinilai berisiko mengubah persepsi publik tentang bantuan kemanusiaan menjadi ajang pembandingan kekuatan, bukan sekadar bentuk dukungan antar negara. Hal ini menunjukkan pentingnya penggunaan kata-kata yang tepat dalam menyampaikan informasi sensitif, khususnya di ranah internasional.
Kritik dari Pakar Komunikasi Publik
Dr. Evi Novianti, pakar komunikasi publik dari Universitas Padjadjaran (Unpad), memberikan penjelasan kritis terkait cara pejabat publik mengomunikasikan isu-isu sensitif. Ia menekankan bahwa pemilihan kata dalam merespons bantuan negara sahabat harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan kesadaran akan dampak psikologisnya.
Menurut Evi, diksi “masih kalah” cenderung bersifat komparatif-hirarkis. Hal ini bisa menggeser makna bantuan kemanusiaan menjadi ajang pembandingan kekuatan, bukan lagi soal solidaritas. Ia menilai bahwa dalam hubungan diplomatik, bantuan tidak hanya sekadar angka di atas kertas, melainkan simbol hubungan baik yang tidak sepatutnya diadu secara nominal.
Dampak Psikologis pada Masyarakat
Evi juga mengkhawatirkan adanya dampak psikologis dari pernyataan tersebut. Ada kekhawatiran munculnya psychological distancing atau kerenggangan psikologis antara masyarakat Indonesia dan Malaysia. Pernyataan itu dapat memicu rasa tidak dihargai pada pihak pemberi bantuan dan membuat publik domestik bersikap defensif, yang berisiko mereduksi makna empati lintas negara.
Strategi Komunikasi yang Lebih Efektif
Sebagai evaluasi bagi komunikasi publik pemerintah, Evi menyarankan penggunaan strategi appreciative framing. Strategi ini mengedepankan rasa hormat tanpa menghilangkan pesan mengenai kemandirian bangsa.
“Manajemen komunikasi seharusnya menekankan appreciative framing: mengakui kontribusi pihak luar secara hormat, sambil menyampaikan kapasitas anggaran nasional sebagai bentuk kesiapan negara, tanpa diksi komparatif yang berpotensi merendahkan,” ujar Evi.
Konteks Pernyataan Mendagri Tito
Sebelumnya, Mendagri Tito mengomentari kontribusi bantuan dari negara tetangga, Malaysia, kepada korban terdampak bencana di Sumatera. Menurut Tito, nilai bantuan dari Malaysia tersebut dinilai tidak signifikan.
Ia mengungkapkan bahwa ia sempat menerima informasi mengenai adanya pengusaha dari Malaysia yang berencana menyumbang obat-obatan untuk warga yang terdampak bencana di Aceh. Namun, setelah dilakukan kajian mendalam, total nilai bantuan bencana tersebut diperkirakan hanya mencapai sekitar Rp1 miliar.
“Setelah dilihat (jenisnya), obat, dikaji, berapa banyak obat-obatan yang dikirim, itu nilainya tidak sampai Rp1 miliar, kurang lebih Rp 1 miliar,” kata Tito dalam sebuah wawancara video bersama Helmy Yahya, dikutip Rabu, 17 Desember 2025.
📲 Ikuti terus berita kami di Google News .







