Banjir yang Melanda Tiga Provinsi pada 25-27 November 2025
Pada periode 25 hingga 27 November 2025, tiga provinsi di Indonesia dilanda banjir yang disebabkan oleh curah hujan yang mencapai lebih dari 150 mm per hari. Curah hujan tinggi ini memicu peningkatan debit air sungai dan menyebabkan banjir yang mengakibatkan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur.
Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir menewaskan 164 orang, 79 orang hilang, dan 12 orang terluka. Peristiwa ini terjadi di beberapa wilayah seperti Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Langkat, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, serta Kabupaten Tapanuli Selatan.
Beberapa narasi muncul yang menyebut bahwa proyek Food Estate menjadi penyebab banjir. Namun, Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki, membantah hal tersebut dalam konferensi pers yang digelar di kantornya pada Jumat (28/11/2025).
Penyebab Banjir adalah Perubahan Fungsi Lahan
Rohmat menjelaskan bahwa penyebab utama banjir adalah perubahan fungsi lahan di kawasan daerah aliran sungai (DAS) di tiga provinsi tersebut. Ia menegaskan bahwa tidak ada proyek Food Estate yang berada di DAS yang terkena banjir.
Ia mengungkapkan bahwa areal penggunaan lain (APL) telah mengubah wajah DAS Krueng Geukuh, DAS Krueng Pasee, dan DAS Krueng Keureto. APL mencakup pertanian lahan kering, perkebunan, permukiman, hingga pertambangan.
Di Sumatera Utara, banjir terjadi di DAS Sibuluan, Kolang, Aek Pandan, Badiri, dan Garoga. Rohmat menyebut bahwa sekitar 85 persen lahan di DAS Aek Pandan termasuk APL, sementara di DAS Badiri sebesar 80 persen, dan di DAS Garoga sebesar 77 persen.
Kondisi serupa juga terjadi di Sumatera Barat, antara lain di DAS Anai, Antokan, Banda Gadang, Masang Kanan, Masang Kiri, dan Ulakan Tapis. Penggunaan lahan di enam DAS ini didominasi APL dengan proporsi antara 45 sampai 98 persen.
Tanggung Jawab Bersama dalam Pengelolaan Lahan
Rohmat menegaskan bahwa alih fungsi lahan harus menjadi tanggung jawab bersama. Ia menyoroti pentingnya pemerintah daerah dalam memastikan bahwa areal penggunaan lain, seperti pertanian, tidak berubah menjadi pemukiman, kawasan industri, atau vila-vila.
Selain itu, Kemenhut akan melakukan rehabilitasi hutan di DAS yang dibabat serta pelaksanaan revegetasi di sempadan sungai dan lereng curam untuk meningkatkan stabilitas lahan.
Upaya Mitigasi Banjir
Untuk mencegah banjir di masa depan, Kemenhut akan membangun sistem aplikasi untuk pemantauan mitigasi banjir. Sistem ini diharapkan dapat menjadi early warning dan dapat diakses oleh publik.
Curah hujan tinggi dan perubahan tutupan lahan yang tidak sesuai dengan fungsi kawasan hutan diperparah oleh meningkatnya laju sedimentasi dan menurunnya kapasitas sungai dalam menyalurkan aliran permukaan.
Kerusakan Infrastruktur dan Upaya Pemulihan
Banjir yang melanda tiga provinsi juga menyebabkan kerusakan infrastruktur. Di Tapanuli Selatan, jalur nasional Sidempuan-Sibolga terputus di satu titik, sedangkan jalur Sipirok-Medan terputus di dua titik.
Di Mandailing Natal, beberapa ruas jalan seperti Singkuang-Tabuyung dan Bulu Soma-Sopotinjak terputus akibat banjir dan longsor. Upaya pembukaan akses sedang dilakukan melalui pengerahan alat berat.
📲 Ikuti terus berita kami di Google News .





