Beras Sumbang Deflasi September 2025, BPS: Dampak Penyaluran SPHP

by -488 Views

Penurunan Harga Beras di September 2025

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa harga beras mengalami penurunan pada bulan September 2025. Hal ini menjadi salah satu faktor yang menyumbang deflasi pada periode tersebut. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa komoditas beras menjadi salah satu peredam inflasi pada bulan tersebut dengan tingkat deflasi sebesar -0,13% secara bulanan (month-to-month/mtm).

“Di bulan September, beras mengalami deflasi. Ini merupakan pencapaian yang baik karena sebelumnya, bulan-bulan sebelumnya beras selalu mengalami inflasi,” ujar Amalia dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah 2025 di Kantor Kemendagri, Jakarta, Senin (6/10/2025).

Secara historis, beras selama bulan September antara tahun 2021 hingga 2024 umumnya mengalami inflasi. Namun, pada September 2025, komoditas ini justru mengalami deflasi. Dalam hal ini, beras menjadi penyumbang deflasi kedua di bulan tersebut.

“Deflasi beras secara bulanan di bulan September ini adalah deflasi kedua di tahun 2025. Sebelumnya, deflasi beras juga terjadi pada April 2025,” tambahnya.

Perbedaan Wilayah dalam Deflasi dan Inflasi Beras

Dalam hal sebaran wilayah, BPS mencatat bahwa deflasi beras paling dalam terjadi di Aceh dengan deflasi sebesar 5,06% mtm. Sementara itu, inflasi beras tertinggi terjadi di Papua Selatan sebesar 0,94% secara bulanan.

Meskipun demikian, Amalia memperingatkan bahwa beras sudah masuk ke dalam kategori level harga tinggi. Meski inflasi atau kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) masih tergolong rendah, level harga beras saat ini sudah tergolong tinggi.

“Walaupun nanti beras tidak masuk radar dalam penyumbang inflasi, tetapi yang perlu kita catat sama-sama adalah level harga untuk beras dan minyak goreng masih dalam level harga yang tinggi, karena sekali lagi yang dibayar oleh konsumen adalah level harga, bukan inflasi,” ujarnya.

Penurunan Harga Beras di Berbagai Tingkat Distribusi

Sebelumnya, BPS mencatat bahwa harga rata-rata beras mengalami penurunan secara bulanan di seluruh tingkat distribusi pada September 2025. Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, M. Habibullah, menjelaskan bahwa penurunan harga beras ini terjadi di tengah momentum panen gadu dan penyaluran beras program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) oleh Perum Bulog.

“Penurunan harga beras [secara bulanan] dipengaruhi masa panen gadu di beberapa wilayah, sehingga pasokan gabah meningkat di beberapa wilayah,” ujar Habibullah dalam konferensi pers Rilis BPS, Rabu (1/10/2025).

Selain itu, penurunan harga beras juga dipengaruhi oleh penggunaan stok gabah di penggilingan yang cukup banyak dari periode sebelumnya. “Penggilingan menggunakan stok yang ada dan juga terjadi penyesuaian harga beras pada kualitas sebagai imbas penyaluran beras SPHP,” tambahnya.

Menurut dia, ketiga faktor ini diperkirakan menjadi penyebab penurunan harga rata-rata beras secara bulanan, baik di tingkat penggilingan, grosir, maupun eceran pada September.

Data Harga Beras di Berbagai Tingkat Distribusi

Berdasarkan data BPS, rata-rata harga beras turun di semua tingkat distribusi, baik di penggilingan, grosir, dan eceran pada September 2025.

Perinciannya, harga beras di penggilingan turun 0,62% mtm dari Rp13.596 per kilogram pada Agustus 2025 menjadi Rp13.512 per kilogram pada September 2025.

Kemudian, harga beras di tingkat grosir turun tipis 0,02% mtm menjadi Rp14.290 per kilogram dari Rp14.292 per kilogram.

Selain itu, BPS juga mencatat harga beras di tingkat eceran turun 0,13% mtm menjadi Rp15.375 per kilogram dari bulan sebelumnya Rp15.395 per kilogram.

📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.