BRICS Menghadapi Tantangan dalam Ambisi Dedolarisasi Global di Tengah Tekanan Geopolitik

by -128 Views

Ambisi Dedolarisasi BRICS Menghadapi Tantangan Berat

BRICS, yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, kembali menghadapi tantangan besar dalam upaya mereka untuk mendedolarisasi ekonomi global. Meskipun ambisi ini telah menjadi tema utama sejak awal berdirinya kelompok tersebut, dinamika geopolitik global membuat langkah-langkah yang diambil semakin rumit. Pertanyaan muncul: seberapa realistis BRICS bisa menantang dominasi dolar AS?

Sejumlah data menunjukkan bahwa transaksi antaranggota BRICS dengan menggunakan mata uang lokal memang meningkat. Namun, tantangan struktural untuk menggantikan dolar sebagai mata uang internasional utama masih sangat besar. Tidak hanya itu, fondasi institusional yang kuat untuk mendukung inisiatif ini juga belum terbentuk.

Iran dan Kebutuhan Akses Alternatif

Iran, yang saat ini sedang dalam proses pengembangan aliansi perluasan BRICS, menyoroti pentingnya instrumen pembayaran alternatif untuk menghindari sanksi global. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan, “Kami ingin berdagang dengan negara lain di mana kami membayar dalam mata uang digital. Ini sudah menjadi kebutuhan bagi kami.” Pernyataan ini disampaikan saat konferensi deBlock Summit, yang mencerminkan pendekatan individual dari negara-negara anggota BRICS.

Upaya Pengurangan Ketergantungan pada Dolar

Sejak KTT BRICS pertama di Yekaterinburg pada 2009, belum ada proposal formal mengenai mata uang bersama BRICS. Namun, Rusia dan Tiongkok terus mendorong pengurangan ketergantungan pada dolar melalui inisiatif seperti sistem pembayaran alternatif BRICS Pay untuk menyaingi jaringan SWIFT. Inisiatif ini selaras dengan kepentingan mereka dalam menghadapi sanksi dan tekanan politik dari Washington.

Rusia melaporkan bahwa 99,1 persen transaksi perdagangan dengan Tiongkok telah dilakukan dalam rubel dan yuan. Sementara itu, Brasil sepakat dengan Tiongkok untuk menyelesaikan perdagangan bilateral dalam mata uang lokal sejak 2023. Presiden Luiz Inácio Lula da Silva bahkan mengecam sistem dolar dengan menyebutnya sebagai “alat dominasi Amerika”, sebuah kritik yang semakin memperkuat perdebatan global.

Perbedaan Pandangan di Antara Anggota BRICS

Namun, tidak semua anggota BRICS memiliki pandangan serupa. India, misalnya, tetap menolak gagasan mata uang bersama BRICS. Menteri Luar Negeri India, Subrahmanyam Jaishankar, menegaskan, “Dolar sebagai mata uang cadangan adalah sumber stabilitas ekonomi internasional … saat ini yang kita inginkan dunia lebih stabil, bukan lebih bergejolak.” Sikap ini menunjukkan bagaimana fragmentasi kepentingan internal menjadi hambatan utama dalam mencapai konsensus.

Respons Agresif dari Amerika Serikat

Kompleksitas semakin meningkat ketika Amerika Serikat menunjukkan respons agresif. Presiden Donald Trump pernah memperingatkan akan menerapkan tarif hingga 100 persen untuk negara BRICS yang membuka opsi mata uang alternatif. Ancaman ini menunjukkan bahwa dedolarisasi bukan hanya agenda ekonomi, tetapi juga arena pertarungan geopolitik.

Analisis Internasional tentang Tantangan Struktural

Analisis internasional turut menegaskan hambatan struktural dalam upaya dedolarisasi. Ekonom senior Otaviano Canuto menilai dominasi dolar bertahan karena keunggulan likuiditas dan kepercayaan global yang sulit ditandingi. Direktur Kebijakan Moneter Bank Sentral Brasil, Nilton David, bahkan menilai bahwa perubahan itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat, dengan menyatakan, “Saya tidak berpikir itu akan berubah dalam dekade mendatang.”

Indonesia dalam Posisi Pragmatis

Sementara itu, anggota baru seperti Indonesia berada dalam posisi pragmatis. Meski kini bergabung sebagai anggota penuh BRICS, tujuan Indonesia lebih kepada memperluas akses perdagangan. Seperti dikutip dari ANTARA News, Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede, menegaskan, “Kita masuk BRICS bukan berarti kita mendukung dedolarisasi Tiongkok dan Rusia … inisiatif kita lebih kepada ekspansi mitra dagang kita.” Posisi ini menyoroti bagaimana sebagian negara melihat BRICS sebagai kendaraan ekonomi, bukan agenda geopolitik semata.

Kesimpulan

Pada akhirnya, meskipun dedolarisasi terus mengemuka sebagai narasi besar BRICS, realitas politik, ekonomi, dan geopolitik menunjukkan bahwa jalannya masih panjang. Dominasi dolar, ketidaksepakatan internal BRICS, dan tekanan eksternal menjadikan ambisi ini lebih sebagai proses bertahap daripada revolusi cepat dalam arsitektur keuangan global.

📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.