Kunjungan Menkopolkam ke Aceh Utara, Perhatian terhadap Korban Banjir
Bupati Aceh Utara Ismail A Jalil menyampaikan bahwa kebutuhan mendesak saat ini adalah percepatan penyediaan hunian sementara dan permanen bagi para korban banjir. Hal ini disampaikannya dalam kunjungan kerja Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menko Polkam) RI Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago ke Desa Bungkah, Kecamatan Muara Batu.
Dialog dengan Korban Banjir
Dalam kunjungan tersebut, para korban banjir menyampaikan permintaan hunian sementara (huntara) karena rumah mereka rusak parah atau bahkan hanyut disapu banjir. Menkopolkam Djamari Chaniago berdialog langsung dengan para korban di lokasi pengungsian dan mendengarkan keluhan yang disampaikan warga.
Para pengungsi mengungkapkan bahwa sejak hari ketiga pascabanjir, Bupati Aceh Utara telah turun langsung ke lapangan dan mengerahkan seluruh kekuatan pemerintah daerah untuk membantu warga terdampak. Ayahwa, demikian panggilan akrab Bupati Aceh Utara, juga menjadi korban banjir kali ini, bahkan sempat terkurung dan tidak bisa keluar.
Permintaan Percepatan Hunian
Ayahwa menegaskan bahwa kebutuhan paling mendesak saat ini adalah percepatan penyediaan hunian sementara dan permanen bagi para korban banjir. Ia berharap pemerintah pusat dapat mempercepat penyediaan hunian agar masyarakat bisa segera meninggalkan lokasi pengungsian.
“Pak Menko, saya berharap pemerintah pusat bisa mempercepat penyediaan hunian bagi korban banjir. Sebentar lagi Ramadhan, jangan sampai masyarakat saya masih berada di pengungsian saat bulan suci,” ujar Ayahwa.
Ia menjelaskan bahwa sebagian pengungsi sudah tidak memiliki rumah karena hanyut disapu banjir. Sementara sebagian besar lainnya tidak dapat menempati rumah mereka karena tertimbun lumpur tebal hingga setinggi atap.
Tanggapan dari Menkopolkam
Menkopolkam Djamari Chaniago menanggapi permohonan Ayahwa dengan berjanji akan segera meneruskan permintaan pemerintah daerah dan masyarakat Aceh Utara kepada Presiden RI Prabowo Subianto. Ia menekankan pentingnya kesabaran dan optimisme dalam menghadapi bencana.
“Yang terpenting saat ini adalah kesabaran, kita semua terluka. Saya harap masyarakat tetap tabah, dan pemerintah akan memaksimalkan dukungan untuk pemulihan Aceh,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi langkah Bupati Aceh Utara yang dinilai telah mengerahkan seluruh kemampuan daerah dalam penanganan bencana. Namun demikian, ia mengakui adanya keterbatasan yang dimiliki pemerintah daerah.
“Manusia punya keterbatasan, Allah Maha Kuasa tanpa batas. Kita akan berusaha semaksimal mungkin agar korban banjir dapat segera pulih,” pungkasnya.
Situasi Banjir di Aceh
Untuk diketahui, banjir besar melanda 18 kabupaten/kota di Aceh dari mulai 25 November sampai awal Desember 2025. Daerah terdampak paling parah di antaranya, Aceh Utara, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Bener Meriah, dan Aceh Tengah serta sejumlah daerah lainnya.
📲 Ikuti terus berita kami di Google News .







