Darurat Kekerasan Anak, Guru BK Diminta Lebih Perhatian

by -118 Views



JAKARTA, 1News.id

– Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian mengungkapkan kekhawatirannya terhadap meningkatnya kasus kekerasan di lingkungan sekolah. Ia menyoroti banyaknya laporan tentang perundungan atau bullying yang terjadi pada anak-anak.

“Kita sudah berada dalam situasi darurat kekerasan, dan pasti ada banyak penyebabnya,” ujar Hetifah saat ditemui di lapangan Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam), Jakarta Pusat, Minggu (23/11/2025).

Menurut Hetifah, kasus-kasus tersebut harus menjadi pemicu bagi guru bimbingan konseling (BK) untuk lebih memperhatikan kondisi siswa. Ia menegaskan bahwa tugas guru BK tidak hanya sebatas mencegah dan menangani masalah di sekolah.

“Karena kasus perundungan juga sering terjadi di luar sekolah bahkan di rumah,” tambahnya.

Ia menekankan pentingnya pengamatan terhadap setiap perubahan perilaku anak. Baik guru maupun orang tua harus lebih peduli dan responsif.

“Sekarang, kita tidak bisa lagi cuek. Setiap anak memiliki kondisi yang berbeda, jadi harus dikenali dengan baik,” ujarnya.

Selain itu, Hetifah juga menyerukan peran aktif semua pihak dalam mencegah kekerasan terhadap anak. Menurutnya, ini bukan tanggung jawab hanya dari satu pihak saja.

“Bukan hanya dari anak, tapi juga dari orangtua, guru, dan masyarakat sekitar,” tegas Hetifah.

Ia juga menyoroti pentingnya memahami pergaulan, komunikasi, dan aktivitas yang dilakukan anak-anak. Langkah ini dinilai penting untuk mewaspadai potensi paparan paham radikalisme.

“Ini bukan hanya karena game, tapi ada banyak cara yang digunakan untuk menembus pikiran anak-anak kita. Itu menjadi peringatan serius,” ujarnya.

Sebelumnya, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat ada 1.052 kasus yang dilaporkan sepanjang tahun 2025. Dari jumlah tersebut, 16 persen atau sekitar 165 kasus terjadi di lingkungan sekolah.

Komisioner KPAI Aris Adi Leksono menyatakan bahwa angka ini tidak boleh dianggap remeh. Dari total kasus, 26 di antaranya berujung pada kematian. Anak-anak yang terlibat memilih mengakhiri hidupnya di rumah atau menggantung diri di sekolah.

“Sepertiga dari kasus bunuh diri terjadi di satuan pendidikan,” kata Aris.

📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.