DLH Kolaborasi dengan ITS Teliti Pencemaran Mikroplastik di Surabaya

by -152 Views

Kerja Sama DLH Surabaya dan ITS dalam Penelitian Mikroplastik

Di Kota Surabaya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bekerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk melakukan penelitian mengenai pencemaran mikroplastik. Langkah ini diambil sebagai tindak lanjut dari hasil penelitian yang dilakukan oleh berbagai lembaga seperti Jaringan Gen Z Jatim Tolak Plastik Sekali Pakai (Jejak), Komunitas GrowGreen, River Warrior, dan Ecoton.

Kepala DLH Surabaya, Dedik Irianto, menjelaskan bahwa kota metropolitan seperti Surabaya sulit menghindari pencemaran mikroplastik. Menurutnya, penyebab utama pencemaran tersebut adalah pembakaran sampah, gesekan roda kendaraan dengan ban, serta timbunan plastik yang sering ditemukan di sekitar kota.

“Jika mikroplastik sudah terlepas ke udara, biasanya akan terjebak di awan. Setelah kondensasi, mikroplastik ini ikut turun bersama hujan,” ujar Dedik pada Selasa (18/11).

Hasil penelitian bersama ITS akan digunakan sebagai dasar untuk menentukan langkah-langkah yang akan diambil pemerintah. “Kami akan bekerja sama dengan ITS untuk melakukan pengujian kualitas air hujan di Surabaya. Hasilnya nanti akan menjadi dasar bagi langkah-langkah medikasi berikutnya,” tambah Dedik.

DLH Surabaya rutin melakukan penelitian kualitas air dan udara di Kota Pahlawan. Khusus penelitian kualitas air sungai, terdapat 44 titik pengamatan. Dedik menjelaskan bahwa jika sungai mengandung mikroplastik, maka uap air yang berasal dari darat juga bisa membawa mikroplastik ke udara.

Upaya Pemerintah dalam Mencegah Pencemaran Mikroplastik

Untuk mencegah pencemaran mikroplastik, Pemkot Surabaya telah memiliki aturan yang melarang penggunaan tas plastik sekali pakai. Aturan ini diatur dalam Perwali 16 tahun 2022. Dedik menyampaikan bahwa kebijakan ini sangat berpengaruh terhadap penurunan jumlah mikroplastik di Surabaya.

Selain itu, sistem pengelolaan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo menggunakan gasifikasi power plant. Lewat sistem ini, sisa pembuangan berupa Fly Ash dan Bottom Ash yang mengandung mikroplastik ditangkap agar tidak mencemari udara.

“TPA Benowo menggunakan sistem gasifikasi power plant. Ini juga menangkap Fly Ash dan Bottom Ash yang banyak kandungan mikroplastiknya. Pengelolaan sampah semaksimal mungkin dilakukan agar tidak menimbulkan mikroplastik di udara,” jelas Dedik.

Berbagai Langkah yang Dilakukan untuk Mengurangi Pencemaran

DLH Surabaya terus berupaya memperbaiki kualitas lingkungan melalui berbagai inisiatif. Salah satunya adalah meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengurangan penggunaan plastik sekali pakai. Selain itu, pihaknya juga aktif dalam mengedukasi masyarakat tentang pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan.

Pemerintah kota juga berkomitmen untuk memperkuat kebijakan pengelolaan sampah, termasuk memperluas cakupan program daur ulang dan pengurangan limbah plastik. Dengan kerja sama antara instansi pemerintah dan akademisi seperti ITS, diharapkan dapat diperoleh data yang lebih akurat dan solusi yang lebih efektif dalam menghadapi masalah mikroplastik.

Langkah-langkah ini tidak hanya bertujuan untuk menjaga kesehatan masyarakat, tetapi juga untuk menjaga keberlanjutan lingkungan di Kota Surabaya. Dengan kolaborasi yang baik, diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat bagi seluruh warga kota.

📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.