Drone Asing Muncul di Bandara Eropa, Kekhawatiran Perang Hibrida Meningkat

by -540 Views

Ancaman Drone yang Mengguncang Eropa

Suara peringatan dari pengeras suara menjadi pembuka malam mencekam di Kyiv ketika sirene udara berbunyi dan warga diminta menuju tempat perlindungan bawah tanah. Tak lama kemudian, deru ratusan drone Rusia terdengar seperti kawanan nyamuk di atas awan. Suara senjata antipesawat, ledakan, hingga sirene ambulans mewarnai serangan tersebut, menegaskan bahwa drone telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perang modern.

Namun, keberadaan drone kini tak lagi terbatas di garis depan Ukraina. Negara-negara di Eropa Barat mulai melaporkan kemunculan drone tak bersenjata yang berdengung di sekitar bandara, pangkalan militer, dan infrastruktur penting. Fenomena ini memunculkan dugaan bahwa Rusia menjalankan operasi “perang hibrida” untuk menguji kesiapan negara-negara NATO.

Drone di Polandia Picu Penutupan Bandara

Pada 9 September, sekitar 20 drone Rusia terbang melintasi wilayah Ukraina dan masuk ke Polandia. Insiden ini memaksa otoritas setempat menutup empat bandara sekaligus. Jet tempur NATO dikerahkan dan sejumlah drone berhasil ditembak jatuh, sementara sisanya jatuh di wilayah Polandia. Kejadian tersebut dinilai sebagai salah satu pelanggaran wilayah udara NATO paling serius sejak perang di Ukraina meletus.

Situasi inilah yang kemudian mendorong perdebatan mengenai kebutuhan pembangunan tembok drone di Eropa. “Momentum ini benar-benar didorong oleh serangan-serangan baru-baru ini,” ujar Katja Bego, peneliti senior dari program keamanan internasional di lembaga riset Chatham House.

Kemunculan Drone di Bandara Eropa

Selain Polandia, penampakan drone misterius juga dilaporkan di Belgia, Denmark, Norwegia, Swedia, Jerman, dan Lituania. Salah satunya muncul di bandara utama Belgia dekat Brussel di awal bulan ini. Berbeda dengan drone serang Rusia di Ukraina yang mudah diidentifikasi, drone yang muncul di Eropa Barat bersifat anonim dan belum dipersenjatai bahan peledak. Hal ini membuat asal-usulnya sulit dipastikan.

Kecurigaan mengarah ke Rusia. Sejumlah pejabat intelijen Barat menduga Moskwa menggunakan proksi untuk mengoperasikan drone berjarak pendek secara lokal guna menciptakan gangguan. Kremlin membantah tuduhan tersebut. Belgia menjadi sorotan karena merupakan lokasi markas besar NATO, Uni Eropa, dan Euroclear atau lembaga kliring keuangan internasional bernilai triliunan dolar.

Diskusi mengenai pembebasan aset Rusia yang dibekukan senilai 200 miliar euro di negara tersebut dinilai dapat menjadi salah satu alasan mengapa drone misterius bermunculan di sekitar bandara Brussels, Liege, hingga pangkalan militer.

Upaya Penguatan Pertahanan Eropa

Inggris mengirim tim spesialis anti-drone dari Resimen RAF yang bermarkas di RAF Leeming, Yorkshire Utara, untuk membantu Belgia memperkuat pertahanan. Ancaman drone dianggap berbahaya bukan hanya karena risiko tabrakan dengan pesawat yang lepas landas dan mendarat, tetapi juga kemungkinan digunakan untuk kegiatan pengawasan di area sensitif seperti pembangkit listrik atau fasilitas militer.

Diskursus mengenai pertahanan udara Eropa semakin menguat seiring berkembangnya teknologi drone. Sebagian drone yang kini mampu terbang lebih dari 1.000 kilometer memicu kekhawatiran tentang kapasitas NATO menghadapi serangan besar-besaran. Rusia sebelumnya mengimpor drone Shahed 136 dari Iran sebelum memproduksi versi domestik, Geran 2. Beberapa di antaranya terbang ke Polandia pada September lalu.

Pertanyaan pun muncul: bagaimana jika Rusia meluncurkan 200 atau bahkan 2.000 drone secara bersamaan? Menurut CEO perusahaan jasa TI Denmark Netcompany, André Rogaczewski, respons berupa pengerahan jet tempur setiap kali drone muncul tidak berkelanjutan. “Itu tidak efektif dan tidak bijaksana dalam menggunakan uang pembayar pajak,” ujarnya.

📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.