Gus Dur Pernah ke Israel, Mengapa Gus Yahya Diminta Mundur? Ini Faktanya

by -385 Views

Latar Belakang dan Perjalanan Gus Dur ke Israel

KH Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur memiliki peran penting dalam dunia perdamaian dan dialog lintas agama. Selain dikenal sebagai tokoh yang humoris dan membela kaum kecil, ia juga dianggap berani melangkah ke wilayah yang jarang dijajah oleh pemimpin Muslim lainnya. Salah satu tindakan paling kontroversial dalam kiprahnya adalah kunjungan-kunjungan ke Israel, sebuah langkah yang masih menjadi bahan diskusi hingga saat ini.

Kunjungan tersebut tidak terjadi sekali. Sepanjang kariernya sebagai tokoh lintas agama, Gus Dur beberapa kali mengunjungi Israel, salah satunya ketika menyaksikan perjanjian damai antara Israel dan Yordania. Langkah ini dilakukan jauh sebelum ia menjadi Presiden RI, ketika ia masih memimpin PBNU dan dikenal sebagai tokoh pluralis yang aktif dalam jaringan intelektual internasional.

Peristiwa ini kembali menjadi sorotan setelah munculnya isu mengenai KH Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya yang didesak mundur akibat kasus penyelenggaraan program Akademi Kepemimpinan Nasional NU yang menghadirkan narasumber yang dianggap tidak tepat oleh sebagian ulama. Hal ini lantaran narasumber terkait dengan jaringan zionisme internasional.

Awal Kunjungan: Undangan Perjanjian Damai Israel-Yordania

Seperti yang diketahui dari laman NU Online, kunjungan Gus Dur yang paling dikenang terjadi pada tahun 1994, ketika ia menerima undangan langsung dari Perdana Menteri Israel, Yitzhak Rabin, untuk hadir dalam prosesi penandatanganan perjanjian damai antara Israel dan Yordania.

Dalam perjalanan itu, Gus Dur merasakan kuatnya keinginan masyarakat Israel untuk hidup damai, tanpa memandang agama maupun asal-usul mereka. Ia berinteraksi dengan warga Yahudi, Arab, Muslim, maupun Kristen, dan semuanya menyampaikan pesan serupa, hanya mereka yang hidup dalam bayang-bayang perang yang sungguh memahami arti kedamaian.

Pada masa itu, kunjungan seorang tokoh Muslim Indonesia ke Israel dianggap tidak lazim, bahkan tabu, karena Indonesia secara resmi tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Namun bagi Gus Dur, dialog lintas batas justru merupakan arena penting untuk merawat perdamaian global, bukan pengakuan politik.

Tidak Mewakili Negara, Tapi Tetap Jadi Sorotan

Gus Dur datang bukan atas nama negara. Ia datang sebagai intelektual, ulama, dan aktivis perdamaian. Meski begitu, perannya yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum PBNU membuat langkahnya tetap disorot, dan kritik pun bermunculan dari dalam maupun luar komunitas NU.

Reaksi publik beragam. Sebagian menilai Gus Dur terlalu berani menabrak sensitivitas politik luar negeri Indonesia, sementara yang lain mengapresiasi keberaniannya menjembatani dialog dengan komunitas yang selama ini dipenuhi prasangka. Namun Gus Dur tetap teguh pada prinsipnya, umat beragama harus berbicara satu sama lain, meskipun sejarah dan politik mengatakan sebaliknya.

Tujuan Besar: Mendorong Ruang Dialog Israel-Palestina

Kunjungan itu bukan sekadar momentum intelektual. Gus Dur dipercaya sebagai figur Muslim moderat yang diterima di berbagai komunitas global. Ia berusaha menggunakan jejaring tersebut untuk membuka ruang dialog antara tokoh-tokoh Israel dan Palestina. Gagasan Gus Dur sederhana, Indonesia tidak mungkin bisa berperan dalam perdamaian Palestina dan Israel jika tidak menjalin hubungan diplomatik dengan keduanya.

Gus Dur selalu menegaskan dukungannya terhadap kemerdekaan Palestina, dan sikap itu konsisten hingga akhir hayatnya. Kunjungannya ke Israel justru ia lihat sebagai upaya memperluas jalur komunikasi agar isu Palestina mendapatkan dukungan moral lebih kuat dari kalangan Yahudi progresif, seperti bergabungnya dirinya dengan yayasan Shimon Peres.

📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.