Harga cabai melonjak jelang Nataru, Wamendag ungkap alasannya

by -1140 Views

Kenaikan Harga Cabai Jelang Nataru, Faktor Cuaca dan Stok yang Tidak Stabil

Harga cabai di berbagai daerah Indonesia mengalami kenaikan tajam menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Hal ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah, terutama setelah Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kenaikan harga cabai yang mencapai angka yang sangat tinggi. Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti menyampaikan bahwa kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi salah satu penyebab utama kenaikan harga tersebut.

Menurut Dyah, keadaan cuaca yang tidak stabil memengaruhi produksi cabai di beberapa wilayah. Ia menjelaskan bahwa dalam kunjungannya ke Surabaya, ia menemukan bahwa sejumlah daerah mengalami gangguan dalam proses pertanian akibat cuaca ekstrem. “Ya jadi kalau cabai itu memang faktor cuaca ya, di mana-mana saya keliling, saya keliling ke beberapa wilayah itu biasanya karena cuaca,” ujar Dyah.

Dyah juga menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan kunjungan ke wilayah Indonesia Timur untuk memastikan stabilitas harga bahan pokok (bapok) menjelang Nataru. Dalam laporan BPS, harga cabai merah tertinggi mencapai Rp200.000 per kilogram di kabupaten Nduga dan kabupaten Mappi sebesar Rp155.500 per kilogram. Di samping itu, harga cabai rawit juga mencapai angka yang sangat tinggi, yaitu Rp200.000 per kilogram pada pekan kedua Desember 2025.

Kenaikan Harga Cabai Rawit dan Merah

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa cabai rawit mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) hingga 75,56% di berbagai wilayah Indonesia pada pekan kedua Desember 2025. Data menunjukkan bahwa jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga cabai rawit meningkat dari 261 menjadi 272 kabupaten/kota.

Secara nasional, rata-rata harga cabai rawit pada pekan kedua Desember 2025 berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP). Rata-rata harga cabai rawit naik 49,88% dibandingkan November 2025. HAP konsumen untuk cabai rawit berada di level Rp40.000–57.000 per kilogram. Pada November 2025, harga cabai rawit secara rata-rata nasional berkisar Rp43.728 per kilogram, namun di minggu kedua Desember 2025 sudah melonjak mencapai Rp65.541 per kilogram.

Pudji menjelaskan bahwa kenaikan harga cabai rawit sejalan dengan kondisi cuaca yang memengaruhi tanaman hortikultura. “Sehingga ini menjadi salah satu pendorong mungkin terjadinya kenaikan harga cabai rawit di minggu kedua Desember 2025,” ujarnya.

Daftar Harga Cabai di Berbagai Wilayah

Pada pekan kedua Desember 2025, harga cabai rawit tertinggi mencapai Rp200.000 per kilogram, yakni di kabupaten Nduga. Diikuti oleh kabupaten Paniai sebesar Rp179.000 per kilogram, dan kabupaten Intan Jaya sebesar Rp170.000 per kilogram. Sementara harga cabai rawit terendah berada di level Rp25.000 per kilogram.

Senada dengan cabai rawit, cabai merah juga mengalami kenaikan IPH di 73,89% wilayah di Indonesia. Rata-rata harga cabai merah pada pekan kedua Desember 2025 berada di atas HAP Rp37.000–55.000 per kilogram. Secara umum, harga cabai merah sampai dengan pekan kedua naik 10,73% dibandingkan November 2025.

BPS mencatat harga cabai merah tertinggi mencapai Rp200.000 per kilogram di kabupaten Nduga, kabupaten Mappi sebesar Rp155.500 per kilogram, dan kabupaten Kepulauan Anambas sebesar Rp147.000 per kilogram. Sedangkan harga cabai merah terendah mencapai Rp20.000 per kilogram.

Upaya Pemerintah dalam Mengendalikan Inflasi

Untuk mengendalikan inflasi dan memastikan ketersediaan stok bahan pokok, pihaknya beserta kementerian terkait dan sejumlah asosiasi petani maupun pedagang telah melakukan rapat koordinasi. Tujuannya adalah memastikan ketersediaan stok dan keterjangkauan harga bapok jelang perayaan Nataru.

“Kemarin kita juga sudah rapat koordinasi di tingkat kementerian dengan beberapa asosiasi untuk memastikan bahwa bahan-bahan pokok kita itu tersedia lintas wilayah,” tegas Dyah.

Selain itu, pihaknya akan terus memantau situasi pasar dan melakukan langkah-langkah strategis agar harga bahan pokok tetap stabil. Hal ini dilakukan guna mencegah adanya gejolak ekonomi yang bisa memengaruhi masyarakat, terutama di masa liburan natal dan tahun baru.

📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.