Harapan Besar Industri Otomotif Nasional terhadap Insentif 2026
Pelaku industri otomotif nasional memiliki harapan besar terhadap insentif pemerintah pada tahun 2026, meskipun kondisi pasar masih lesu hingga akhir 2025. Namun, nasib insentif tersebut seolah menggantung karena adanya perbedaan pendapat antara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan sinyal bahwa tidak akan ada insentif khusus bagi industri otomotif pada 2026. Ia menilai bahwa industri saat ini sudah cukup stabil dan tangguh sehingga dukungan fiskal tidak lagi mendesak.
Selain itu, Airlangga menyebutkan bahwa geliat industri terlihat dari penyelenggaraan berbagai pameran otomotif sepanjang tahun, seperti Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS), Indonesia International Motor Show (IIMS), serta Gaikindo Jakarta Auto Week (GJAW). Namun, ia tetap membuka kemungkinan adanya kajian lanjutan terkait insentif otomotif ke depan.
Di sisi lain, Kemenperin menilai industri otomotif membutuhkan insentif untuk memperkuat ekosistemnya dari hulu ke hilir. Insentif tersebut bertujuan untuk mempertahankan utilisasi produksi, melindungi investasi dan pekerja industri dari PHK, serta meningkatkan daya saing produk otomotif dalam negeri.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief menilai bahwa pendapat yang keliru jika menyimpulkan industri otomotif berada dalam kondisi kuat hanya dengan bertumpu pada indikator pertumbuhan di segmen tertentu. Menurutnya, banyaknya pameran otomotif di berbagai tempat Indonesia bukanlah ukuran industri sedang kuat. Sebaliknya, banyak pameran adalah upaya dan perjuangan industri untuk tetap mempertahankan demand di tengah anjloknya penjualan domestik sekaligus melindungi pekerjanya dari PHK.
Selain itu, penurunan tajam penjualan kendaraan bermotor roda empat yang jauh berada di bawah angka produksinya, bersamaan dengan lonjakan penjualan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) impor, merupakan fakta yang tidak dapat diabaikan. Penjualan EV menunjukkan peningkatan signifikan, namun kenaikan tersebut didominasi produk impor.
Dari total penjualan kendaraan EV sepanjang 10 bulan 2025 mencapai 69.146 unit, dengan sekitar 73% merupakan kendaraan impor. Artinya, nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja industrinya berada di luar negeri.
Sementara itu, segmen kendaraan lain yang diproduksi di dalam negeri dan memiliki pangsa pasar terbesar di industri otomotif nasional justru terus mengalami penurunan penjualan secara signifikan, bahkan berada jauh di bawah tingkat produksi tahunan di segmen tersebut.
Data Gaikindo mencatat, sepanjang Januari-Oktober 2025 penjualan mobil wholesales tercatat sebanyak 635.844 unit, atau masih turun 10,6% (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama pada 2024 sebesar 711.064 unit. Penjualan mobil secara ritel pun ikut merosot 9,6% yoy menjadi 660.659 unit, dibandingkan pada 10 bulan 2024 yang mencatatkan angka 731.113 unit.
Oleh karena itu, Kemenperin menegaskan bahwa insentif otomotif menjadi instrumen krusial dalam upaya memulihkan pasar kendaraan bermotor sekaligus menjaga keberlangsungan industri otomotif nasional, serta dapat mendorong daya beli masyarakat sebagai konsumen kendaraan.
Harapan Pelaku Industri
Kalangan pelaku industri otomotif masih sangat menantikan adanya insentif pada 2026, mengingat penjualan mobil hingga menjelang tutup tahun 2025 berada di ujung tanduk. Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Putu Juli Ardika menyatakan bahwa stimulus pemerintah sangat dibutuhkan untuk mendongkrak penjualan otomotif nasional, di tengah daya beli masyarakat yang masih melemah.
Gaikindo berharap pemerintah kembali memberikan insentif untuk mendukung penjualan mobil domestik, dengan skema serupa seperti saat pandemi Covid-19. Sebagai pengingat, pada awal 2022, pemerintah memperpanjang insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) Ditanggung Pemerintah (DTP) sebagai bagian dari program pemulihan industri otomotif, yang terbukti mendorong penjualan mobil hingga menembus lebih dari 1 juta unit pada 2022.
Meski penjualan mobil pada 10 bulan 2025 masih di kisaran angka 600.000 unit, Gaikindo menargetkan penjualan mobil domestik dapat mendekati 800.000 unit hingga akhir 2025. “Kalau volume penjualan makin besar, nanti yang lain ikut bergerak. Kita harus menjaga kesempatan kerja, menjaga ekspor kita, dan menjaga ekosistem otomotif ini bisa dipertahankan,” ucap Putu.
Senada, Wakil Presiden Direktur TMMIN Bob Azam mengatakan Indonesia perlu mempertahankan posisi sebagai pasar otomotif terbesar di Asean agar pelaku industri tidak hengkang dari Tanah Air. “Kami harapkan bisa 800.000 total marketnya, supaya kita masih bisa di atas Malaysia. Karena reputasi itu penting, kalau Indonesia sudah tidak nomor satu di Asean, nanti khawatirnya ekosistemnya pindah,” ujar Bob di Tangerang.
Bob menambahkan bahwa sejumlah negara Asean, seperti Vietnam dan Malaysia, masih memberikan insentif untuk memperkuat pasar otomotif. Vietnam, misalnya, menurunkan PPN dari 10% menjadi 8%, sedangkan Malaysia memberikan program insentif bagi pembeli mobil sejak masa pandemi.
Terlebih, industri otomotif dinilai memiliki efek pengganda (multiplier effect) dan berkontribusi besar terhadap pendapatan daerah. “Saat ini sebagian besar pajak daerah tergantung penjualan mobil. Kalau jualan mobilnya turun, pendapatan daerah juga turun. Apalagi tahun depan dana transfer ke daerah dipotong. Jadi harus dipikirkan betul-betul,” pungkas Bob.
📲 Ikuti terus berita kami di Google News .





