Perbaikan Aktivitas Manufaktur Indonesia di Kuartal IV-2025
Memasuki kuartal IV-2025, aktivitas manufaktur di Indonesia menunjukkan tanda-tanda perbaikan yang signifikan. Berdasarkan data S&P Global, Purchasing Manager’s Index (PMI) sektor manufaktur Indonesia meningkat menjadi 51,2 pada Oktober 2025, dibandingkan dengan 50,4 pada bulan sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa sektor manufaktur mulai mengalami pertumbuhan.
Wakil Ketua Umum Kadin, Erwin Aksa, menyampaikan bahwa kenaikan indeks manufaktur ini terutama didorong oleh permintaan domestik yang tetap kuat. Ia menjelaskan bahwa konsumen masih aktif berbelanja, terutama di sektor makanan, minuman, produk rumah tangga, dan kesehatan. Hal ini menjadi indikasi positif bahwa sektor manufaktur mulai kembali bergerak.
Survei Konsumen Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) masih berada di level tinggi, yaitu 115,0 pada September 2025. Ini menunjukkan bahwa keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi cukup baik.
Meskipun ada tekanan dari biaya produksi, khususnya bahan pangan dan pertanian, Erwin menilai tekanan tersebut masih dalam batas wajar. Ia menambahkan bahwa pabrik-pabrik mulai berani menambah produksi karena stok menipis dan permintaan yang membaik.
Peningkatan ekspansi manufaktur pada Oktober 2025 lebih kuat dibandingkan September 2025, seiring pemulihan permintaan menjelang akhir tahun. Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia mencatat saldo bersih tertimbang (SBT) kegiatan usaha triwulan III mencapai 3,79%, naik dari 1,5% pada triwulan II. Peningkatan paling menonjol terjadi pada sektor industri pengolahan dengan SBT 4,04%, lebih tinggi dibanding kuartal sebelumnya.
Erwin menilai bahwa situasi saat ini jauh lebih stabil dibanding beberapa bulan lalu. Tahun lalu, industri masih dalam fase “wait and see” karena permintaan global yang lesu, tetapi kini arah angin sudah mulai berubah.
Beberapa subsektor seperti makanan-minuman, kimia, logam, dan kendaraan bermotor sudah menunjukkan peningkatan aktivitas. Menurutnya, ini bukan sekadar rebound musiman, melainkan tanda bahwa fondasi industri mulai kembali menguat.
Kadin menilai momentum ekspansi manufaktur masih berpeluang berlanjut hingga akhir 2025, ditopang daya beli masyarakat yang membaik serta inflasi yang terjaga. Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama dari kenaikan harga bahan baku pertanian dan ekspor yang belum sepenuhnya pulih akibat permintaan global yang moderat.
Erwin menilai peluang pertumbuhan manufaktur ke depan akan banyak bertumpu pada industri hilir dan bernilai tambah tinggi, seperti kimia, logam dasar, alat angkut, serta produk makanan olahan. Ia optimistis, bila momentum ini terus terjaga, pada 2026 sektor manufaktur bisa kembali menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi.
Yang paling penting sekarang adalah memastikan agar ekspansi ini berlanjut. Bukan hanya angka PMI-nya naik, tapi juga berdampak ke lapangan kerja dan investasi baru.
📲 Ikuti terus berita kami di Google News .





