Kisah Perjalanan Samsung: Membangun Solusi Nyata dari Ide Keren Anak Muda Indonesia

by -596 Views

Samsung: Berinvestasi pada Pengembangan Generasi Muda melalui Program CSR

Samsung telah hadir di Indonesia selama lebih dari tiga dekade, tidak hanya berkontribusi secara ekonomi tetapi juga berkomitmen untuk mengembangkan generasi muda. Dalam rangka mendukung pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas, Samsung menyelenggarakan dua program Corporate Social Responsibility (CSR) yang fokus pada pelajar SMA/SMK/MA hingga mahasiswa D3/D4/S1, yaitu Samsung Solve for Tomorrow (SFT) dan Samsung Innovation Campus (SIC). Kedua program ini memberikan pembekalan keahlian teknologi untuk menciptakan solusi nyata bagi masyarakat.

Samsung Solve for Tomorrow (SFT)

Samsung Solve for Tomorrow (SFT) adalah sebuah kompetisi inovatif yang menantang peserta untuk menggunakan ilmu STEM (Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematika) dalam membuat solusi inovatif dari masalah sosial yang ada di sekitar mereka. Selama program berlangsung, peserta juga diberikan pembelajaran tentang AI amplification dan sesi mentoring oleh karyawan Samsung serta para ahli profesional dari mitra operasional program.

Program ini dirancang agar peserta dapat menjawab tantangan nyata di kehidupan sehari-hari dengan menggunakan pendekatan design thinking dan penerapan teknologi. Pada tahun pertama penyelenggaraannya, SFT diikuti oleh 309 tim dengan total 1.087 peserta. Hasilnya sangat memuaskan, sehingga Samsung meraih Platinum Award kategori Best Provision of Literacy and Education di ajang Global CSR & ESG Summit 2024.

Tahun berikutnya, SFT memperluas partisipasi hingga ke tingkat mahasiswa D3, D4, dan S1. Hal ini semakin memperluas kesempatan bagi generasi muda untuk berinovasi dan memberikan kontribusi langsung bagi masyarakat.

Pada 2025, antusiasme terhadap SFT meningkat drastis dengan 2.603 pendaftar dari seluruh Indonesia, di mana 2.274 di antaranya lolos ke babak penyisihan. Peserta terbagi dalam dua tema utama, yaitu Environmental Sustainability via Technology dan Social Change Through Sport & Tech. Dari sini, lahir berbagai ide segar seperti konversi limbah plastik menjadi listrik dan inovasi sport-tech untuk membuka akses olahraga bagi perempuan dan penyandang disabilitas.

Samsung Innovation Campus (SIC)

Samsung Innovation Campus (SIC) merupakan program edukasi yang memberikan pelatihan intensif di bidang teknologi masa depan seperti Coding dan Programming, IoT, serta AI kepada pelajar dan mahasiswa. Di akhir program, peserta diminta untuk mempresentasikan hasil pembelajaran mereka berupa prototype dari ide solusi yang memberikan dampak positif pada lingkungan sekitar mereka.

Sejak 2019, SIC hadir untuk membekali generasi muda dengan keterampilan digital yang relevan dengan kebutuhan industri. Program ini memadukan teori, praktik, mentoring, serta studi kasus yang diambil dari tantangan nyata dunia kerja. Sebagai bagian dari inisiatif global Samsung yang telah menjangkau 35 negara, SIC menjadi wadah penting dalam melahirkan talenta digital baru.

Di Indonesia, jumlah peserta SIC terus meningkat setiap tahun. Tidak hanya pelajar, para pengajar juga mendapat manfaat melalui program training of trainers yang memperkuat kapasitas pendidikan digital. Hingga 2025, lebih dari 20.000 pelajar dan mahasiswa serta ratusan guru telah mengikuti SIC. Pendaftar SIC Batch 6 mengalami peningkatan sekitar 40% dibandingkan batch sebelumnya, menunjukkan antusiasme yang tinggi dari pelajar dan mahasiswa yang ingin memiliki keterampilan digital.

Dari perjalanan ini, lahir ratusan proyek inovatif, seperti solusi lingkungan berbasis IoT dan aplikasi edukasi berbasis AI. SIC juga memperkuat kolaborasi dengan institusi pendidikan, pemerintah, dan NGO, memastikan program ini berkelanjutan sekaligus memberi dampak nyata bagi ekosistem pendidikan digital Indonesia.

Karya Inovatif Peserta SFT & SIC

Pada 2024, SFT menghadirkan karya inovatif berbasis AI, seperti alat deteksi risiko sudden cardiac death Portable Kit D-Dimer Level Detector dari Tim Solyd Ias Universitas Brawijaya dan aplikasi pendeteksi karies gigi Dentalint dari Tim Cemerlang Universitas Gadjah Mada di kategori universitas. Di kategori SMA, Tim Masetasia MAN Insan Cendekia Serpong berhasil menciptakan situs yang dapat mendeteksi gejala demensia, sedangkan tim SMAN 1 Sidoarjo membuat aplikasi penerjemah bahasa isyarat HandsTalk yang dapat menunjang komunikasi melalui Google Meet ataupun WhatsApp antara teman tuli dan teman dengar.

Di sisi SIC, ide-ide praktis juga terus bermunculan. Pada SIC Batch 6, tim PawPal dari BINUS University merancang perangkat IoT dan AI untuk membantu anak-anak mengurangi waktu menatap layar dengan pendekatan gamifikasi. Sementara itu, tim Daely dari Universitas Bina Nusantara melalui Batch 5 meluncurkan AI and IoT-Based Drowsiness Detection System for Drivers yang mereka bawa ke tingkat internasional dan meraih Merit Award di ajang Asia Pacific ICT Alliance Awards (APICTA) 2024.

Tim Daely membuat sistem deteksi kantuk berbasis AI dan IoT yang bertujuan meningkatkan keselamatan berkendara. Berawal dari keinginan untuk membuat keselamatan di jalan lebih mudah diakses oleh semua orang, Daely berhasil menjadi yang terbaik di kompetisi Samsung Innovation Campus pada Batch 5 yang diikuti oleh 4.076 peserta. Mewakili Indonesia di panggung APICTA, tim ini mempresentasikan versi terbaru dari Daely di hadapan 27 tim dari 12 negara se-Asia Pasifik.

Rangkaian karya ini menunjukkan bagaimana SFT dan SIC tidak hanya memberi ilmu, tetapi juga membentuk generasi muda sebagai problem-solver, mendorong para alumni program akan terus menjadi penggerak perubahan yang membawa Indonesia menuju masa depan digital yang inklusif dan berkelanjutan.




📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.