Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, menjelaskan proses penemuan dan penanganan cengkeh asal Indonesia yang terkontaminasi radioaktif Cesium-137. Ia menyampaikan bahwa kasus ini bermula dari temuan Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau Food and Drug Administration (FDA) pada akhir September 2025. Saat ini, pemerintah Indonesia sedang dalam tahap akhir pemusnahan produk yang terkontaminasi tersebut.
Diaz mengungkapkan bahwa FDA menemukan kandungan Cs-137 di produk cengkeh yang diimpor dari PT Natural Java Spice (NJS) di Surabaya. Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar Cesium mencapai 732,43 Bq per kilogram, yang berada di bawah ambang batas aman yang ditetapkan FDA, yaitu 1.200 Bq/kilogram. Namun, meskipun di bawah ambang batas, FDA tetap memutuskan untuk mengembalikan produk tersebut ke Indonesia.
Berikut adalah kronologi lengkap penemuan dan penanganan kasus ini:
1-3 Oktober: Inspeksi Awal
Menindaklanjuti temuan tersebut, Satgas Penanganan Cs-137 dari pemerintah Indonesia langsung melakukan inspeksi ke pabrik PT NJS di Surabaya. Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ditemukan kontaminasi Cs-137 di fasilitas tersebut. “Sebenarnya ini seharusnya masih di bawah batas intervensi, batas aman yang ditetapkan FDA itu sendiri, yakni 1.200 Bq per kilogram,” ujar Diaz.
Tim kemudian melanjutkan verifikasi ke sejumlah perkebunan pemasok cengkeh di Pati (Jawa Tengah), Lampung Selatan, dan Pesawaran (Lampung).
8-11 Oktober: Verifikasi Lapangan
Hasil investigasi lapangan di ketiga daerah menyimpulkan tidak ada indikasi kontaminasi radiasi di lokasi-lokasi perkebunan. Tim Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) juga mengambil sampel bunga cengkeh, kakao, dan tanah dari delapan titik untuk dianalisis di laboratorium. “Dari delapan titik di kebun cengkeh ini di Lampung Selatan dan Pesawaran untuk kemudian dianalisis di laboratorium,” kata Diaz.
25 Oktober: Temuan Paparan Radiasi
Paparan radiasi Cs-137 kemudian justru ditemukan di pemakaman umum Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, dengan tingkat radiasi 1,05–1,3 mikrosievert per jam, melebihi ambang batas alamiah 0,5 mikrosievert per jam. Pemerintah kemudian melakukan langkah penyemenan di area tersebut, yang menurunkan kadar radiasi menjadi 0,11-0,18 mikrosievert per jam, sehingga dinyatakan aman.
“Jadi atas pertimbangan dari Bapeten dan BRIN, tim kemudian melakukan penyemenan. Jadi disemen di titik ini, dan hasilnya radiasinya turun dari 1,05-1,30 ke 0,11-0,18,” ujarnya.
1 November: Cengkeh Tiba di Tanjung Perak
Selanjutnya, kontainer berisi 21,6 ton cengkeh pengembalian dari Amerika tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Dari jumlah itu, 13,5 ton di antaranya terindikasi terkontaminasi Cs-137 dengan paparan 0,02–0,12 mikrosievert per jam, masih di bawah batas aman Bapeten. “Walaupun sebenarnya radiasi ini masih di bawah ambang batas yang ditetapkan Bapeten,” ucap Diaz.
4 November: PT NJS Melimpahkan Cengkeh
PT NJS menyatakan kesediaan untuk menyerahkan 13,6 ton cengkeh terpapar radiasi tersebut untuk dimusnahkan. Pemerintah melakukan dekontaminasi kontainer menggunakan metode kering dan memindahkan seluruh cengkeh ke gudang PT NJS di Benowo, Surabaya.
Diaz menegaskan, langkah terakhir yang kini disiapkan adalah pemusnahan seluruh cengkeh yang terkontaminasi. “KLH bersama BRIN dan Bapeten akan memulai proses pemusnahan cengkeh yang terkontaminasi Cs-137 sebesar 13,6 ton ini,” ujarnya.
Terkait sumber radioaktif Cs-137 di produk cengkeh, Diaz mengatakan Tim Satgas juga telah terjun ke wilayah kebun hingga gudang cengkeh milik PT NJS yang berada di Provinsi Lampung, dan tidak menemukan kontaminasi Cs-137.
Wilayah yang diperiksa, di antaranya tiga kebun cengkeh milik masyarakat di Kabupaten Pesawaran, Lampung; gudang cengkeh di Sidomulyo, Lampung Selatan; kebun cengkeh masyarakat di Penengahan, Lampung Selatan; kebun cengkeh masyarakat di Kalianda, Lampung Selatan; persawahan masyarakat di Penengahan, Lampung Selatan; area pemakaman umum di Penengahan, Lampung Selatan; serta area Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan.
“Pada 8-11 Oktober 2025, tim gabungan Bapeten, KLH, BRIN, dan Polri sudah melakukan investigasi ke wilayah-wilayah, tidak ditemukan kontaminasi CS-137. Perkebunan di ketiga kabupaten tersebut ditanyakan Bapeten sudah clean and clear,” ujar dia.
Kontaminasi CS-137 justru ditemukan oleh tim investigasi di area pemakaman umum di Penengahan, Lampung Selatan. “Pada 25 Oktober 2025, tim malah menemukan adanya paparan Cs-137 di pemakaman umum Penengahan, Lampung Selatan, dengan laju dosis sebesar 1,05-1,30 mikroSievert/jam. Ini sudah di atas ambang batas Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika atau FDA dan Bapeten, yakni 0,5 mikroSievert/jam,” tuturnya.
Untuk wilayah pemakaman yang terpapar tersebut, Satgas telah dilakukan betonisasi lokasi setinggi 13 sentimeter. “Yang di pemakaman sudah disemen 13 sentimeter, harusnya sudah aman,” ucap Diaz.
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH Rasio Ridho Sani mengatakan pengamanan lokasi dengan menggunakan proses pembetonan karena lokasi temuan berada cukup jauh dari tempat penyimpanan limbah sementara, yakni di Jakarta.
Selain itu, KLH juga akan terus memantau dan berkoordinasi dengan Bapeten dan BRIN. “Setelah kami lakukan penyemenan, kami juga akan lakukan monitoring. Ya kami akan berkoordinasi, tentu ini menjadi otoritas daripada Bapeten dan BRIN,” ujarnya.
Ia menyebutkan sumber Cesium di pemakaman berjarak sekitar 3-5 kilometer dari perkebunan cengkeh yang menyuplai ke PT NJS. Ia juga mengatakan jarak pemukiman terdekat dari sumber radioaktif sekitar 50-100 meter. “Kami masih menelusuri sumber paparan Cesium yang berada di pemakaman tersebut,” ucapnya.
Sebelumnya, Satgas Cs-137 memastikan hanya satu dari 12 kontainer berisi cengkeh yang dikirim ke Amerika terindikasi terkontaminasi zat radioaktif. “Satu kontainer suspect 137 (Cs-137) berisi cengkeh dijadwalkan tiba di Surabaya pada 29 Oktober 2025. Jadi kontainer yang suspect itu hanya satu,” kata Ketua Bidang Diplomasi dan Komunikasi Satgas Penanganan Cs-137, Bara Krishna Hasibuan.
Satgas telah melakukan pemeriksaan lapangan untuk kesiapan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, serta pengujian di laboratorium Bapeten dan BRIN saat menerima kedatangan kontainer cengkeh suspect tersebut.
📲 Ikuti terus berita kami di Google News .





