Bayangkan sebuah gelas kaca yang indah, yang Anda jaga dengan hati-hati selama bertahun-tahun. Tiba-tiba, seseorang yang paling Anda percaya menjatuhkannya begitu saja. Prang! Hancur berkeping-keping. Anda terluka, tangan Anda berdarah saat mencoba memungut serpihannya. Namun, alih-alih membalut luka itu, Anda justru mengambil potongan kaca paling tajam dan memutuskan untuk menggores orang lain—atau bahkan melukai diri sendiri lebih dalam—hanya untuk membuktikan bahwa Anda masih bisa “merasakan” sesuatu.
Itulah analogi kasar, namun jujur, dari fenomena yang sering saya temui di ruang praktik saya selama tiga dekade ini: korban perselingkuhan yang bermetamorfosis menjadi pelaku. Banyak orang di luar sana, dengan kacamata moral hitam-putih, akan langsung menuding jari. “Lihat, dia sama buruknya!” atau “Dia tak punya hati!” Namun, ini bukan sekadar soal empati yang hilang. Ini jauh lebih rumit dari itu. Ini adalah tentang rasa lapar emosional yang tak tertahankan dan ketidakmampuan jiwa untuk menavigasi badai.
Izinkan saya, sebagai orang tua yang telah mendengar ribuan cerita patah hati, mengajak Anda melihat fenomena ini bukan sebagai hakim, melainkan sebagai sesama manusia yang rentan.
Memakai topeng monster agar tak takut
Dalam psikologi, kita mengenal istilah adaptasi. Bayangkan Anda berada di sebuah ruangan yang suhunya mendadak menjadi sangat panas karena AC mati. Anda punya dua pilihan. Pertama, Anda diam saja, berkeringat, mungkin melepas baju, dan mencoba menahan panas itu (ini disebut adaptasi autoplastis—mengubah diri sendiri). Kedua, Anda mengambil palu, memecahkan jendela agar angin masuk, atau membongkar tembok (ini adaptasi alloplastis—mengubah lingkungan).
Ketika perselingkuhan terjadi, “suhu” dalam pernikahan menjadi neraka. Korban yang memilih jalan selingkuh balasan sedang melakukan adaptasi alloplastis yang ekstrem. Mereka tidak mau lagi menjadi pihak yang duduk diam menahan panas (sakit hati, depresi, merasa tak berharga). Mereka memilih memecahkan jendela—dengan cara yang salah.
Ada mekanisme pertahanan jiwa yang dijelaskan oleh putri Sigmund Freud, Anna Freud, pada tahun 1936. Ia menyebutnya Identification with the Aggressor. Pernahkah Anda melihat anak kecil yang takut pada hantu, lalu dia memakai topeng hantu dan menakut-nakuti adiknya? Saat dia memakai topeng itu, dia tidak lagi merasa takut; dia merasa kuat. Dia menjadi “hantu” itu sendiri.
Begitulah yang terjadi pada korban perselingkuhan. Rasa sakit dikhianati membuat mereka merasa kerdil, lemah, dan tak berdaya. Dengan berselingkuh balik, secara tidak sadar mereka sedang memakai “topeng monster”. Mereka berpikir, “Jika saya menjadi pelaku, saya bukan lagi korban. Saya yang memegang kendali. Saya yang menyakiti, bukan yang disakiti.”
Ketidakmampuan meninggalkan hubungan yang beracun sering kali menjadi pemicu utama. Mereka terperangkap dalam rumah yang terbakar, tak tahu jalan keluar, lalu memutuskan untuk ikut menyalakan api di kamar sebelah sebagai bentuk protes putus asa.
Kudeta diam di balik selimut
Mari kita bicara soal kekuasaan. Rumah tangga, suka atau tidak, adalah sebuah negara kecil. Ada politik di sana. Ada kesepakatan damai (janji pernikahan) dan ada diplomasi harian.
Filsuf Michel Foucault pernah berkata bahwa di mana ada kekuasaan, di situ ada perlawanan. Ketika pasangan Anda berselingkuh, dia sebenarnya sedang melakukan tindakan tirani. Dia melanggar konstitusi pernikahan kalian secara sepihak. Dia mengambil hak Anda atas rasa aman dan percaya.
Dalam kacamata psikologi politik, korban yang berselingkuh sedang melakukan kudeta. Ini adalah pemberontakan sunyi. Saat mereka menemukan orang ketiga, mereka tidak sekadar mencari seks atau kesenangan fisik. Itu terlalu dangkal. Mereka sedang merebut kembali “wilayah jajahan” dalam diri mereka.
Psikolog Esther Perel dalam bukunya The State of Affairs (2017) memberikan pandangan yang sangat jernih dan manusiawi tentang ini. Sering kali, seseorang berselingkuh bukan karena ingin meninggalkan pasangannya, tetapi karena ingin meninggalkan dirinya yang lama.
Korban perselingkuhan sering merasa dirinya telah “mati”. Harga dirinya hancur, rasa percaya dirinya lenyap. Saat mereka berselingkuh, mereka merasa “hidup” kembali di mata orang lain. Orang ketiga itu berfungsi seperti cermin baru yang memantulkan bayangan yang utuh, cantik, dan diinginkan—bukan bayangan retak yang mereka lihat di rumah.
Jean Baudrillard mungkin akan menyebut ini sebagai simulakra—sebuah realitas palsu yang diciptakan karena realitas yang asli terlalu menyakitkan untuk dihadapi. Mereka memakan buah plastik yang tampak segar karena buah asli di meja makan mereka sudah busuk.
Memutus rantai tanpa menghancurkan diri
Namun, dan ini adalah bagian terpentingnya: apakah meminum racun akan menyembuhkan Anda dari gigitan ular? Tentu tidak.
Sebagai psikolog yang berfokus pada integritas diri, saya harus jujur mengatakan bahwa “balas dendam” semacam ini adalah solusi yang menipu. Memang, sesaat rasanya memuaskan. Anda merasa impas. Skornya 1-1. Tapi setelah euforia sesaat itu pudar, Anda akan bangun di pagi hari dengan perasaan yang lebih kosong.
Mengapa? Karena sekarang Anda bukan hanya berduka atas pengkhianatan pasangan, tapi Anda juga berduka atas hilangnya integritas diri Anda sendiri. Anda menjadi sosok yang dulu Anda benci. Ini menciptakan perang batin (disonansi kognitif) yang melelahkan. Anda membenci perselingkuhan, tapi Anda melakukannya. Jiwa Anda terbelah dua.
Data statistik berbicara jujur. Riset dalam Journal of Marital and Family Therapy (2015) menunjukkan bahwa pasangan di mana kedua belah pihak berselingkuh membutuhkan upaya pemulihan yang jauh lebih berat—tiga kali lipat lebih sulit—dibandingkan jika hanya satu pihak. Luka yang ditumpuk di atas luka tidak akan menjadi daging yang sehat; ia akan menjadi borok yang bernanah.
Lalu, apa yang harus kita lakukan? Kita tidak butuh sekadar nasihat moral kosong. Kita butuh langkah konkret yang sistemik.
Pertama, untuk Anda yang sedang terluka: Sadarilah bahwa kekuatan sejati (power) bukan didapat dengan meniru kejahatan orang lain. Kekuatan sejati adalah kemampuan untuk berkata, “Kamu menyakitiku, tapi aku tidak akan membiarkanmu mengubahku menjadi penjahat.” Ini disebut boundary setting atau penetapan batas. Menolak untuk ikut bermain dalam lumpur adalah kemenangan sesungguhnya.
Kedua, untuk masyarakat dan pembuat kebijakan: Kita perlu berhenti memandang perceraian sebagai “kegagalan mutlak” yang lebih memalukan daripada mempertahankan pernikahan “mayat hidup”. Sering kali, korban berselingkuh karena mereka merasa tidak punya pintu keluar yang bermartabat (safe exit strategy). Stigma sosial memaksa mereka bertahan dalam rumah yang sudah runtuh, sehingga mereka mencari ventilasi udara lewat perselingkuhan. Kita perlu menyediakan edukasi tentang resolusi konflik dan keberanian untuk mengakhiri hubungan secara sehat jika memang sudah tidak bisa diselamatkan.
Ketiga, dan ini yang paling krusial: Fokuslah pada pemulihan “Aku”, bukan “Kita”. Sebelum memperbaiki hubungan (jika itu yang diinginkan), perbaiki dulu diri sendiri yang sudah retak. Jangan mencari validasi dari orang ketiga. Carilah validasi dari pencapaian diri, dari koneksi spiritual, dari hobi yang dulu Anda tinggalkan, atau dari terapi profesional.
Sebagai penutup dari refleksi panjang ini, saya ingin memeluk Anda lewat tulisan ini. Jika Anda adalah korban yang kini menjadi pelaku, Anda bukanlah monster. Anda adalah manusia yang sedang kesakitan luar biasa dan tersesat mencari obat. Namun, obat yang Anda pegang saat ini palsu. Letakkan pisau kepalsuan itu. Jangan biarkan perilaku buruk pasangan Anda mendefinisikan siapa Anda.
Jadilah pemutus rantai trauma itu. Anak-anak Anda, dan masa depan Anda sendiri, berhak mendapatkan versi diri Anda yang utuh, bukan versi yang retak dan tajam. Kesembuhan dimulai saat Anda berani berhenti melukai, terutama melukai diri sendiri.
📲 Ikuti terus berita kami di Google News .






