Wisata Edukasi Peninggalan Majapahit di Trowulan, Mojokerto
Liburan akhir tahun adalah momen ideal untuk memperkaya wawasan anak. Daripada hanya mengunjungi tempat hiburan, wisata edukasi peninggalan Majapahit di Trowulan, Mojokerto, menawarkan pengalaman “time travel” yang unik, mengajak anak-anak menapak tilas kejayaan Kerajaan Nusantara terbesar. Tantangannya adalah mengubah serangkaian batu bata kuno menjadi petualangan yang mendebarkan bagi anak.
Museum ini secara komprehensif memamerkan lebih dari 10.000 artefak yang ditemukan di sekitar kawasan Trowulan, mulai dari koleksi patung batu (arca), terakota (gerabah), keramik asing (yang membuktikan Majapahit sebagai hub perdagangan global), hingga replika peta dan maket situs, menawarkan gambaran visual tentang skala dan kemegahan ibu kota di Abad ke-13 hingga ke-15.
Keunggulan Museum Trowulan terletak pada penataannya yang logis dan informatif, membantu pengunjung, terutama anak-anak, untuk memvisualisasikan kejayaan Nusantara melalui artefak yang nyata, sehingga kunjungan tidak terkesan membosankan, melainkan menjadi petualangan edukatif yang kaya akan nilai historis dan menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya Indonesia.
Candi Tikus

Candi Tikus di Trowulan, Mojokerto, merupakan salah satu situs peninggalan Kerajaan Majapahit yang paling unik dan memukau, sering disebut sebagai ‘hidden gem’ yang menyimpan rahasia arsitektur dan teknologi kuno; situs ini ditemukan pada tahun 1914 dalam kondisi terkubur dan dinamai demikian karena banyaknya sarang tikus saat ditemukan.
Secara arkeologis, situs yang telah dipugar ini tidak berfungsi sebagai candi pemujaan biasa, melainkan sebagai Petirtaan atau Pemandian Suci, yang ditunjukkan oleh struktur kolam berbentuk persegi empat dengan kedalaman sekitar 3,5 meter.
Keistimewaan Candi Tikus terletak pada miniatur candi yang menjulang di tengah kolam dan struktur padmasana (tempat duduk teratai) yang mengindikasikan fungsi ritual pembersihan diri atau upacara sakral yang melibatkan air, mungkin sebagai simbol Gunung Mahameru.
Bagi wisatawan, Candi Tikus menawarkan pengalaman time travel yang tenang; view-nya yang asri dan arsitekturnya yang simetris menjadikannya spot instagenic yang sempurna untuk fotografi dan wisata edukasi keluarga, di mana anak-anak dapat dengan mudah membayangkan kemegahan teknologi tata air di masa kejayaan Majapahit tanpa merasa bosan.
Taktik Fun Learning Sejarah Majapahit untuk Anak
Situs-situs peninggalan Majapahit di Trowulan, Mojokerto, seringkali hanya terlihat seperti tumpukan bata merah kuno atau reruntuhan yang membosankan di mata anak-anak. Padahal, lokasi ini adalah permata sejarah yang tak ternilai harganya. Kunci untuk menjadikan kunjungan ini sukses dan mengesankan adalah dengan mengubah batu yang diam menjadi cerita yang hidup.
Orang tua dan pendamping harus meninggalkan metode membaca papan informasi dan menggantinya dengan narasi yang merangsang imajinasi, menempatkan anak-anak sebagai bagian aktif dari petualangan sejarah. Pendekatan ini adalah inti dari fun learning sejarah: menjadikan eksplorasi situs kuno sebagai pengalaman yang terasa nyata dan personal.
Pemanfaatan Pendekatan Karakter
Pendekatan karakter sangat efektif dalam menghidupkan situs bersejarah. Misalnya, saat berdiri di depan Gapura Bajang Ratu, yang dulunya berfungsi sebagai gerbang masuk suci kerajaan, alihkan fokus anak dari arsitektur ke tokoh ikonik di baliknya. Ceritakan kisah heroik Patih Gajah Mada yang gagah berani dan ambisinya menyatukan Nusantara lewat Sumpah Palapa yang legendaris. Setelah cerita, berikan anak peran: minta mereka memilih ingin menjadi karakter kerajaan mana hari itu, apakah ia akan menjadi Prajurit yang menjaga gerbang, Raja yang bijaksana, atau Ratu yang anggun? Metode ini secara instan menciptakan koneksi emosional, meningkatkan fokus, dan mengubah kunjungan menjadi permainan peran yang menarik.
Fokus pada Detail dan Skala
Di situs-situs besar seperti Kolam Segaran, yang merupakan kolam raksasa tempat menjamu tamu-tamu kehormatan dari mancanegara, skala tempat tersebut bisa terasa abstrak bagi anak. Berikan gambaran yang memukau: ceritakan tentang kapal-kapal dagang dari berbagai negeri yang merapat, pesta-pesta besar yang penuh warna, dan alunan musik gamelan yang riuh di tepian kolam. Pertanyaan seperti: “Menurutmu, berapa banyak kapal yang bisa masuk ke kolam sebesar ini?” membantu anak memvisualisasikan kemegahan dan ukuran Kerajaan Majapahit di masa jayanya, sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya nenek moyang.
Alat Peraga DIY
Untuk menjaga interaksi dan meningkatkan daya ingat, alat peraga DIY harus menjadi bagian dari kit perjalanan. Bekali anak dengan buku catatan kecil dan pensil warna sebelum memasuki situs. Daripada hanya mengambil foto, minta mereka untuk melakukan journaling visual: menggambar apa yang mereka lihat. Misalnya, mereka bisa membuat sketsa unik dari bentuk Candi Tikus, mencoba meniru ukiran relief di Gapura Wringin Lawang, atau menggambar perahu imajiner yang berlayar di Kolam Segaran.
Aktivitas menggambar ini secara signifikan meningkatkan fokus observasi anak, memaksa mereka memperhatikan detail arsitektur yang mungkin terlewatkan jika hanya sekadar melihat.
📲 Ikuti terus berita kami di Google News .





