Gunung Semeru yang terletak di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, beberapa hari terakhir sering mengeluarkan suara dentuman. Suara tersebut terdengar hingga jarak 12 kilometer dari puncak kawah.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru, Mukdas Sofian menjelaskan bahwa peningkatan jumlah dentuman disebabkan oleh pelepasan gas bertekanan tinggi. Berdasarkan data seismik, dominasi gempa letusan dengan amplitudo menengah dan durasi panjang menunjukkan adanya akumulasi gas di saluran erupsi yang dilepaskan secara tiba-tiba.
Sofian menegaskan bahwa intensitas suara dentuman yang sering terdengar tidak selalu berarti peningkatan energi magmatik dari kedalaman. Pelepasan impulsif ini menghasilkan gelombang kejut akustik yang terdengar sebagai dentuman kuat, meskipun tinggi kolom erupsi tidak selalu besar.
Selain faktor tekanan gas, perubahan morfologi kawah pasca awan panas pada 19 November 2025 turut memperkuat intensitas suara. Analisis foto lapangan menunjukkan bahwa sebagian tumpukan material erupsi dan lava yang sebelumnya menutupi area di sekitar kawah telah hilang. Struktur yang lebih terbuka ini membuat suara letusan tidak lagi teredam oleh material di puncak.
Akibatnya, energi akustik dari setiap letusan dangkal dapat merambat lebih bebas ke lingkungan sekitar. Perubahan ini menjelaskan mengapa dentuman lebih sering terdengar meskipun secara visual tinggi kolom relatif rendah.
Di sisi lain, kondisi atmosfer pada periode pagi hingga malam hari juga memengaruhi intensitas suara dentuman. Lapisan udara yang stabil dan suhu lebih rendah membuat gelombang suara dipantulkan kembali ke permukaan dan terdengar lebih keras di permukiman. Selain itu, arah angin yang dominan mengarah ke utara dan timur laut membuat suara dentuman terdistribusi lebih jelas ke wilayah tersebut.
Meski begitu, Sofian menyatakan bahwa suara dentuman yang kerap terdengar tidak mengindikasikan risiko erupsi besar dalam waktu dekat. Hal ini merupakan bagian dari karakter erupsi dangkal pada Gunung Semeru pada fase aktivitas saat ini. Namun, aktivitas permukaan yang impulsif tetap berpotensi memicu guguran, awan panas, dan letusan sekunder, terutama saat intensitas hujan tinggi.
Secara keseluruhan, dentuman yang semakin sering terdengar tidak secara langsung mengindikasikan potensi erupsi besar dalam waktu dekat.
Pada periode pengamatan Kamis (27/11/2025) pukul 00.00-06.00 WIB, Gunung Semeru mengalami 54 kali gempa letusan dan empat kali gempa guguran. Saat ini, status Gunung Semeru masih tetap berada di level IV atau Awas.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Dentuman Gunung Semeru
-
Pelepasan gas bertekanan tinggi
Gas yang terakumulasi di saluran erupsi dilepaskan secara tiba-tiba, sehingga menghasilkan gelombang kejut akustik yang terdengar sebagai dentuman kuat. -
Perubahan morfologi kawah
Setelah peristiwa awan panas pada 19 November 2025, struktur kawah berubah, sehingga suara letusan tidak lagi teredam oleh material di puncak. -
Kondisi atmosfer
Lapisan udara yang stabil dan suhu rendah memungkinkan gelombang suara dipantulkan kembali ke permukaan, sehingga terdengar lebih keras di permukiman. -
Arah angin
Angin yang dominan mengarah ke utara dan timur laut membuat suara dentuman terdistribusi lebih jelas ke wilayah tersebut.
Potensi Risiko yang Harus Diperhatikan
-
Guguran dan awan panas
Aktivitas permukaan yang impulsif berpotensi memicu guguran dan awan panas, terutama saat intensitas hujan tinggi. -
Letusan sekunder
Meski tidak mengindikasikan erupsi besar, letusan sekunder tetap mungkin terjadi akibat dinamika tekanan di dekat permukaan.
Status Gunung Semeru Saat Ini
Gunung Semeru masih berada pada level IV atau Awas. Pemantauan terus dilakukan untuk memastikan keamanan masyarakat sekitar dan mengantisipasi kemungkinan risiko yang muncul.
📲 Ikuti terus berita kami di Google News .






