OJK dan BI Jaga Keamanan dan Keterlibatan Ekosistem Keuangan Digital

by -907 Views

Komitmen OJK dan BI dalam Memperkuat Ekosistem Keuangan Digital

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmen mereka untuk terus memperkuat ekosistem keuangan digital di Indonesia. Tujuan utama dari komitmen ini adalah menciptakan sistem yang inovatif, inklusif, aman, dan berintegritas. Hal ini dilakukan mengingat tingginya adopsi teknologi dan layanan keuangan digital oleh masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Anggota Dewan Komisioner OJK Ex-Officio Bank Indonesia, Juda Agung, dalam acara “OJK Mengajar” di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada Jumat (7/11). Acara ini memiliki tema “Inovasi Digital di Sektor Keuangan Indonesia: Mendorong Inovasi dan Mitigasi Risiko.”

Juda Agung menyoroti bahwa Indonesia termasuk negara dengan pertumbuhan digitalisasi tercepat di dunia. Faktor-faktor yang mendukung hal ini antara lain:

  • Karakter masyarakat yang sudah sangat akrab dengan teknologi (digital-native).
  • Tingginya kepemilikan perangkat seluler, di mana jumlah handphone bahkan melebihi jumlah penduduk.
  • Luasnya pemanfaatan internet, dengan rata-rata waktu menatap layar (screen time) mencapai 7 jam per hari.

Perkembangan ini telah mempercepat transformasi di sektor jasa keuangan, mencakup layanan pembayaran digital, perbankan digital, pembiayaan berbasis teknologi, investasi digital, hingga aset keuangan baru.

Manfaat Inklusi dan Efisiensi

Transformasi digital membawa manfaat besar, terutama kemudahan akses. Masyarakat, termasuk pelaku UMKM, masyarakat di wilayah terpencil, dan generasi muda kini lebih mudah mengakses layanan keuangan yang sebelumnya sulit dijangkau secara konvensional.

Selain itu, efisiensi dan inovasi juga menjadi salah satu hasil dari transformasi digital. Pemanfaatan teknologi meningkatkan efisiensi dan mendorong produk serta layanan keuangan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Risiko yang Menyertainya

Meskipun pertumbuhan digital sangat pesat, Juda Agung mengingatkan akan risiko yang menyertainya, seperti:

  • Kejahatan siber.
  • Penipuan digital (fraud).
  • Phishing.
  • Ancaman serangan siber yang kompleks.

Untuk mengatasi risiko tersebut, OJK dan BI mengambil langkah-langkah penguatan seperti mitigasi risiko, yaitu memperkuat standar keamanan sistem, pengaturan, dan pengawasan. Selanjutnya, pemanfaatan teknologi dengan mengembangkan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dan Machine Learning untuk mendeteksi dan mencegah kejahatan keuangan digital.

Kemudian kolaborasi nasional, yakni mendirikan Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) sebagai pusat kolaborasi antara regulator dan industri jasa keuangan (perbankan, e-money, e-commerce) untuk mempercepat penanganan penipuan digital dan pemblokiran dana.

Sinergi Antar-Otoritas

Juda Agung juga menekankan pentingnya sinergi antar-otoritas dalam menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah risiko digital yang meningkat. OJK bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Kementerian Keuangan dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk memastikan sistem keuangan tetap stabil.

Acara “OJK Mengajar” ini merupakan rangkaian peringatan HUT ke-14 OJK. Melalui kegiatan ini, OJK berharap generasi muda dapat menjadi agen literasi keuangan digital yang cerdas, beretika, dan berdaya saing di tengah cepatnya inovasi teknologi keuangan.


📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.