Penyebab kematian sopir truk sampah akibat kelelahan antre di Bantargebang

by -216 Views

Kame, Sopir Truk Sampah yang Meninggal Dunia Akibat Kelelahan

Seorang sopir truk sampah di Jakarta, Kame (50 tahun), dilaporkan meninggal dunia pada Sabtu (20/12/2025) setelah mengalami kelelahan berat. Ia dikenal sebagai pengemudi truk sampah dari Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin) LH Jakarta Utara. Kematian Kame diduga terkait dengan kondisi kerja yang melelahkan, khususnya karena harus menunggu hingga belasan jam untuk membuang sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi.

Menurut informasi yang diperoleh, Kame meninggal dunia di Klinik Jantung Hasna Medika, Indramayu, Jawa Barat. Humas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Yogi Ikhwan, menjelaskan bahwa almarhum meninggal pada pukul 10.02 WIB saat sedang dalam perjalanan pulang kampung untuk menghadiri acara pernikahan anaknya. Sebelumnya, Kame sedang mendampingi istrinya yang sedang menjalani rawat inap di rumah sakit.

Riwayat Kesehatan dan Kondisi Saat Kematian

Yogi menyebutkan bahwa Kame memiliki riwayat penyakit jantung dan rutin mengonsumsi obat-obatan terkait kondisinya tersebut. Selama ini, ia terbiasa mengonsumsi obat jantung serta obat pengencer darah. Namun, keadaan kesehatannya memburuk ketika ia hendak menuju ruang perawatan istrinya.

“Saat hendak menuju ruang rawat inap di lantai dua dengan menggunakan tangga, almarhum mengalami sesak napas dan sempat kehilangan kesadaran,” ujar Yogi. Meski sempat sadar dan masuk ke ruang perawatan, Kame kembali tidak sadarkan diri dan akhirnya dinyatakan meninggal dunia oleh petugas medis.

Evaluasi Shift dan Skrining Kesehatan

Menanggapi antrean pembuangan sampah yang dinilai terlalu lama, DLH DKI Jakarta akan segera mengambil langkah tindak lanjut. Salah satu langkah yang akan diambil adalah pengaturan ulang shift dan jadwal pembuangan sampah menuju TPST Bantargebang. Tujuannya adalah mencegah penumpukan kedatangan truk pada waktu tertentu.

Selain itu, DLH DKI juga menyoroti faktor cuaca ekstrem yang diprediksi akan terjadi dalam satu pekan ke depan. “Kami menyampaikan imbauan kewaspadaan kepada para pengemudi truk sampah, mengingat kondisi cuaca berpotensi menghambat proses pembuangan sampah di TPST Bantargebang,” tambah Yogi.

Langkah preventif lainnya yang akan segera dilakukan adalah pemeriksaan kesehatan massal bagi para pengemudi truk sampah. Yogi menjelaskan bahwa ia telah berkoordinasi dengan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta untuk melaksanakan screening kesehatan bagi para pengemudi truk sampah di TPST Bantargebang. Rencananya, kegiatan tersebut akan dimulai hari ini, Senin (22/12/2025).

Skema Rujukan Medis Darurat

DLH DKI juga menyiapkan skema rujukan medis darurat apabila ditemukan adanya kondisi medis yang mendesak saat pengecekan kesehatan. Rujukan tersebut akan dilakukan melalui puskesmas dan rumah sakit. Termasuk rujukan kegawatdaruratan ke rumah sakit di wilayah Bekasi jika kegawatdaruratan terjadi di TPST Bantargebang.

Antrean yang Menyebabkan Kelelahan

Sebelumnya, Kame dilaporkan meninggal dunia setelah berbulan-bulan harus mengantre belasan jam untuk membuang sampah di TPST Bantargebang. Hal ini menjadi kejadian kedua kalinya, setelah sebelumnya Yudi (51), salah satu sopir truk sampah juga meninggal dunia karena kelelahan pada Jumat (5/12/2025).

Rekan korban sesama sopir truk, Ian (bukan nama sebenarnya, 50), menduga kelelahan berat menjadi penyebab utama meninggalnya Kame. Menurut Ian, dalam tiga bulan terakhir Kame nyaris tidak memiliki waktu istirahat yang cukup. Antrean pembuangan sampah di TPST Bantargebang kerap mencapai 12 hingga 13 jam membuat para sopir harus bekerja hampir tanpa jeda.

Pada Rabu (17/12/2025), Kame sempat memutuskan pulang ke kampung halamannya di Indramayu. Ia ingin menghadiri pernikahan anaknya yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (24/12/2025). Namun, setibanya di kampung halaman, kondisi tubuh Kame sudah mulai terasa tidak sehat. Meski demikian, menurut Ian, Kame tetap memikirkan pekerjaannya di Jakarta.

“Jumat pagi pun sempat menanyakan pengemudi yang back up lokasinya gimana, armada sudah nyampe belum dari Bantargebang,” tutur dia. Tak lama setelah itu, kondisi Kame menurun drastis hingga akhirnya dibawa keluarganya ke rumah sakit. “Setelah itu, sakit dan langsung meninggal, meninggalnya pagi ini Sabtu,” ucap Ian.

📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.