Petani Lahat Menghadapi Fluktuasi Harga Kopi, Tantangan dan Harapan

by -423 Views

LAHAT, 1News.id

Petani kopi di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, terus beradaptasi dengan fluktuasi harga yang terjadi di pasar. Dalam situasi ini, banyak petani memilih untuk menahan stok hasil panen mereka agar tidak mengalami kerugian. Hal ini dilakukan karena harga kopi yang tidak stabil dapat memengaruhi pendapatan dan keberlanjutan usaha pertanian mereka.

Tantowi, salah satu petani kopi di Lahat, menjelaskan bahwa tahun lalu harga kopi sempat mencapai Rp 70.000 per kilogram. Saat itu, ia memutuskan untuk menjual seluruh hasil panennya karena dinilai cukup menguntungkan. Namun, pada tahun ini, harga kopi robusta turun menjadi sekitar Rp 60.000 per kilogram. Akibatnya, Tantowi memilih untuk menyimpan stok kopi yang dimilikinya.

“Kalau harga sedang turun, kami jual seadanya hanya untuk kebutuhan makan saja. Tapi kalau harga naik, baru kami lepas banyak,” ujar Tantowi, Selasa (5/11/2025). Ia mengatakan bahwa langkah ini dilakukan untuk menghindari kerugian, mengingat biaya pupuk dan tenaga kerja juga terus meningkat.

“Jika tidak seperti itu, kami akan rugi,” tambahnya.

Di sisi lain, Very, seorang pengepul kopi di Lahat, menjelaskan bahwa saat musim panen tiba, produksi kopi yang masuk dan dikirim bisa mencapai 1.000 ton per bulan. Namun, ketika pasar lesu, jumlah pengiriman turun drastis menjadi sekitar 100 ton, tergantung pada kondisi pasar dunia.

“Untuk pengiriman ke eksportir di Lampung, kami ikuti harga basis yang ditawarkan. Ada banyak eksportir di sana, jadi kami menyesuaikan permintaan dan harga yang ditawarkan,” ujar Very, yang juga merupakan Mitra Usaha BRI.

Ia menambahkan bahwa laju ekspor kopi dari petani lokal bergantung pada akses permodalan, termasuk dari perbankan. “Sejauh ini kami solid dengan BRI, mereka banyak membantu terutama untuk akses permodalan. Tanpa itu sulit jalan,” kata Very.

Menurut Very, pembelian kopi dari petani membutuhkan modal besar dan risiko tinggi. “Kami terpaksa menahan stok untuk dijual sampai harga membaik. Jika tidak, kerugian akan selalu ada,” ujarnya.

Sementara itu, Rico Subiato atau yang lebih dikenal sebagai Ko Cuncun, pemilik Kopi Bola Dunia, menekankan pentingnya hilirisasi dan ekspor kopi dalam menjaga stabilitas harga di Sumatera Selatan. “Bila pelabuhan Tanjung Carat di Banyuasin terwujud, harga kopi bisa stabil dan ekonomi daerah bergerak lebih baik,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa pabrik Kopi Bola Dunia sudah berdiri sejak 1978 dan telah merambah pasar lokal serta nasional. Seluruh biji kopi yang digunakan berasal dari wilayah Sumatera Selatan.

“Selain Bola Dunia, kini ada juga merek Bukit Serelo yang lebih premium dan mengangkat nama kopi lokal dari Lahat,” ujarnya.

📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.