Angka Stunting di Kabupaten Sumedang Menurun Signifikan
Angka stunting di Kabupaten Sumedang menunjukkan penurunan yang signifikan. Berdasarkan data Sigizi Kesga per 30 September 2025, prevalensi stunting pada balita usia 0–59 bulan tercatat sebesar 6,74 persen, lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Penurunan ini menjadi bukti dari upaya pemerintah dan berbagai lembaga dalam menjalankan program-program yang efektif untuk memperbaiki kesehatan anak-anak.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sumedang, Dikdik Sadikin, penurunan ini merupakan hasil dari pelaksanaan aksi konvergensi yang terintegrasi, tepat sasaran, dan berbasis data di seluruh wilayah intervensi. Ia menjelaskan bahwa setiap program dan kegiatan yang dilakukan didasarkan pada data yang valid dan akuntabel. Pengukuran balita dilakukan secara periodik dengan standar Kementerian Kesehatan.
Bulan Penimbangan Balita (BPB) yang rutin digelar setiap Agustus menjadi momen penting untuk memastikan validitas data stunting. Tahun ini, dari total 68.873 balita sasaran, sebanyak 68.605 balita (99,61 persen) berhasil diukur. Data by name by address menjadi dasar dalam menentukan intervensi bagi setiap balita yang terindikasi stunting.
Berdasarkan hasil pengukuran, Kecamatan Jatigede mencatat angka stunting tertinggi, yakni 10,92 persen, disusul Ujungjaya dengan 9,36 persen. Sebaliknya, Kecamatan Wado menjadi wilayah dengan angka terendah, hanya 3,13 persen. Sebagian besar kecamatan mengalami penurunan, kecuali lima wilayah, Sukasari, Cisitu, Darmaraja, Paseh, dan Buahdua yang mengalami sedikit kenaikan. Adapun Cimanggung, Situraja, dan Tomo menunjukkan perbaikan signifikan dibandingkan tahun 2024.
Dinkes Sumedang bersama UPTD Puskesmas telah melakukan berbagai bentuk intervensi terhadap balita yang teridentifikasi stunting. Langkah-langkah tersebut meliputi:
- Edukasi dan konseling kepada keluarga (99,82 persen)
- Pelaporan ke puskesmas (98,95 persen)
- Kunjungan ulang (78,67 persen)
- Pemantauan perkembangan menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) (56,27 persen)
- Rujukan ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan (3,77 persen)
Faktor Penyebab Stunting
Hasil analisis juga menunjukkan masih adanya faktor-faktor penyebab stunting di Sumedang, seperti kebiasaan merokok di dalam rumah (89,70 persen), ketiadaan JKN/BPJS (44,94 persen), ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronik (10,41 persen), dan balita yang belum diimunisasi (3,38 persen). Selain itu, penyakit penyerta, kecacingan, kurangnya jamban sehat, dan akses air bersih terbatas turut menjadi faktor pendukung.
Kepala Dinas Kesehatan menyatakan bahwa pihaknya terus memperkuat kolaborasi lintas sektor agar intervensi terhadap faktor-faktor tersebut lebih efektif. Tujuan akhirnya bukan hanya menurunkan angka stunting, tapi juga meningkatkan kualitas hidup anak-anak Sumedang.
Ia menambahkan, capaian ini mencerminkan komitmen kuat Pemerintah Kabupaten Sumedang dalam membangun generasi yang sehat dan berdaya saing melalui pendekatan konvergensi berbasis data. Capaian ini harus dijaga bersama. Pihaknya ingin memastikan setiap anak di Sumedang tumbuh sehat, kuat, dan cerdas sebagai investasi masa depan daerah.
📲 Ikuti terus berita kami di Google News .






