Remaja Keracunan Setelah Minum Darah Akibat Ikuti Tips Media Sosial

by -323 Views

Remaja di Moskow Tertipu Informasi Media Sosial, Akibatnya Kritis

Seorang remaja berusia 17 tahun di Moskow mengalami kondisi kritis setelah mencoba meningkatkan kadar hemoglobin dengan cara yang sangat tidak biasa. Ia nekat meminum darahnya sendiri karena terpengaruh informasi yang ia temukan di media sosial. Tindakan ini justru berujung pada keracunan akut dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Kasus ini terungkap setelah remaja tersebut melakukan pengambilan darah secara mandiri lalu meminumnya. Ia percaya bahwa tindakan ini akan membuat tubuhnya lebih kuat dan meningkatkan kadar hemoglobin. Namun, dalam waktu singkat, kondisinya memburuk. Ia mengalami muntah bercampur darah, demam tinggi, dan akhirnya dilarikan ke rumah sakit.

Setelah stabil, remaja tersebut mengaku bahwa tindakannya dilakukan dengan niat baik untuk kesehatan. Namun, tenaga medis menilai tindakannya sangat berisiko dan merekomendasikan pemeriksaan lanjutan, termasuk konsultasi kejiwaan.

Tren Kesehatan Berbahaya di Media Sosial

Kasus ini kembali memicu perbincangan tentang maraknya tren kesehatan berbahaya yang menyebar di media sosial, terutama di kalangan remaja. Banyak dari mereka mudah terpengaruh oleh konten singkat tanpa dasar medis. Hal ini membuktikan bahwa tidak semua informasi yang beredar di internet bisa dipercaya.

Mengapa Minum Darah Tidak Efektif?

Dokter spesialis penyakit dalam Andrey Kondrakhin, kandidat doktor ilmu kedokteran, menjelaskan bahwa darah sama sekali tidak bisa dicerna oleh sistem pencernaan manusia. “Darah yang masuk ke lambung justru bersifat iritatif dan tidak diserap tubuh. Kandungan zat besi dan sel-sel darah di dalamnya membuat darah diperlakukan tubuh sebagai zat agresif,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa plasma darah dan komponen pembentuknya tidak dirancang untuk diproses melalui saluran cerna. “Tubuh tidak tahu bagaimana cara mencerna darah. Ini proses yang sangat kompleks dan tidak mungkin terjadi di saluran pencernaan,” ujarnya.

Akibatnya, darah hanya akan melewati usus hampir tanpa perubahan, meski warnanya bisa berubah karena pengaruh asam lambung. Kandungan zat besi di dalam hemoglobin pun tidak akan terserap. “Yang terjadi justru mual, muntah, bahkan keracunan. Cara ini sama sekali tidak bermanfaat untuk mengatasi anemia,” tegas Kondrakhin.

Risiko Tambahan: Infeksi Hingga Kerusakan Organ

Bahaya tidak berhenti di situ. Kondrakhin juga menyoroti tindakan pengambilan darah secara mandiri yang sangat berisiko. “Pengambilan darah hanya boleh dilakukan di fasilitas medis. Jika dilakukan sendiri, risiko infeksi sangat tinggi karena membuka jalan masuk bagi mikroorganisme berbahaya ke dalam tubuh,” katanya.

Luka terbuka, alat tidak steril, dan kurangnya pengetahuan medis dapat menyebabkan komplikasi serius, mulai dari infeksi lokal hingga gangguan sistemik.

Cara Medis Menangani Anemia yang Benar

Dokter spesialis penyakit dalam Lyudmila Lapa menjelaskan bahwa hemoglobin adalah protein penting dalam sel darah merah yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. “Jika zat besi berkurang, kadar hemoglobin turun dan terjadilah anemia. Gejalanya meliputi lemas, cepat lelah, dan pucat,” ujar Lapa.

Menurutnya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah pemeriksaan darah, termasuk mengecek kadar hemoglobin, ferritin, dan transferrin. Dokter juga perlu menelusuri penyebab kekurangan zat besi, yang sering kali berkaitan dengan perdarahan tersembunyi, gangguan pembuluh darah, atau penyakit saluran cerna.

“Penanganan anemia harus melalui obat yang diresepkan dokter. Selain itu, pola makan bisa diperbaiki dengan menambahkan sumber zat besi seperti hati, daging, apel, dan gandum,” jelas Lapa.

Jangan Percaya Tren Kesehatan Tanpa Dasar

Kasus ini menjadi pengingat bahwa tidak semua informasi kesehatan di internet aman untuk diikuti, apalagi jika bertentangan dengan prinsip medis dasar. Alih-alih mencoba metode ekstrem, dokter menekankan pentingnya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan ketika mengalami keluhan, terutama yang berkaitan dengan darah dan metabolisme tubuh.

Tubuh manusia memiliki mekanisme yang kompleks, dan jalan pintas yang terlihat “alami” atau “logis” di media sosial justru bisa berujung pada kondisi yang mengancam nyawa.

📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.