Sleman Jadi Sasaran Narkoba di DIY

by -272 Views

Sleman, Wilayah Paling Rawan Narkoba di DIY

Kabupaten Sleman, yang dikenal sebagai pusat pendidikan dengan banyaknya kampus besar, justru menghadapi ancaman serius terkait penyalahgunaan narkoba. Sleman menjadi wilayah paling rentan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam hal peredaran narkoba. Dengan jumlah mahasiswa dan anak muda yang tinggi, kawasan ini justru berubah menjadi tempat yang mudah dimanfaatkan oleh para pelaku perdagangan narkoba.

Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DIY menunjukkan bahwa Sleman masih menduduki posisi teratas dalam peta kerawanan narkotika. Penyidik Madya BNNP DIY, Kombes Pol. Ventie Bernard Musak, menjelaskan bahwa luasnya wilayah Sleman serta padatnya kawasan kampus dan indekos membuat aktivitas mahasiswa menjadi titik rawan yang sulit dipantau.

“Saat ini, Sleman adalah wilayah dengan tingkat kerawanan tertinggi di DIY,” ujarnya. Pemetaan BNNP menunjukkan bahwa Bantul dan Kota Yogyakarta menyusul di bawahnya, namun angka di Sleman jauh lebih mengkhawatirkan. Arus mahasiswa dari berbagai daerah, ditambah kelompok ekonomi menengah ke bawah yang rentan, menjadi kombinasi yang memperkuat pasar narkoba di wilayah ini.

Transaksi Digital Dominan, Jejak Peredaran Kian Kabur

Salah satu tantangan utama dalam penanganan narkoba di Sleman adalah perubahan pola transaksi. Sekitar 80 persen peredaran narkoba yang terungkap di DIY kini dilakukan melalui media sosial, khususnya Instagram. Dengan akun-akun anonim dan sistem pengiriman lintas pulau, jaringan ini nyaris tak tersentuh.

“Anak-anak muda yang diamankan itu memesan ganja dari Papua, ada juga dari Sumatra. Mereka biasanya punya komunitas tersendiri,” jelas Bernard. Para pengguna, khususnya mahasiswa, umumnya memesan dalam jumlah kecil untuk konsumsi pribadi. Motifnya pun beragam, mulai dari coba-coba hingga ikut lingkaran pertemanan. Kondisi ini membuat peredarannya tersebar, kecil, tetapi masif.

Jenis Narkoba yang Beredar di Sleman

Jenis narkoba yang beredar di Sleman sangat beragam. Ganja masih menjadi favorit mahasiswa, disusul sabu. Namun ancaman yang tak kalah besar datang dari psikotropika lokal seperti pil sapi dan Yarindo (pil koplo), termasuk obat resep seperti Tramadol, Reklona, hingga Alprazolam yang diperoleh tanpa resep dokter.

“Di sini ada beberapa penyalahguna yang menggunakan psikotropika lokalan,” kata Bernard. Angka prevalensi penyalahgunaan narkoba di DIY mencapai 2,3 persen, yang melampaui rata-rata nasional sebesar 1,8 persen. Kelompok usia 15-24 tahun—pelajar dan mahasiswa—menjadi korban terbesar.

Upaya BNN: Edukasi dari Desa Hingga Kampus

Menghadapi situasi genting ini, BNNP DIY menggerakkan program Desa Bersinar dan kampung bersinar untuk membentengi wilayah dari akar rumput. Edukasi juga diperluas ke sekolah dan kampus melalui program P4GN, bahkan dengan integrasi kurikulum anti-narkoba dari tingkat SD hingga SMA.

“Sudah ada program P4GN yang dilaksanakan dari SD sampai SMA,” tegas Bernard. Dengan kerawanan yang meningkat dan metode peredaran yang makin modern, Sleman kini berdiri di persimpangan: tetap menjadi Kota Pelajar atau berubah menjadi sarang narkoba. Tantangannya bukan hanya penindakan, tetapi memastikan generasi muda tidak terperosok lebih jauh ke lingkaran gelap narkotika.


📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.