Suasana Pub Hadir di Arab Saudi, Bir Non-Alkohol Jadi Incaran Generasi Muda

by -87 Views



RIYADH, 1News.id

Di kota Riyadh, Arab Saudi, suasana yang sebelumnya tidak biasa kini mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bir tanpa alkohol, camilan kacang, dan layar lebar yang menampilkan pertandingan olahraga kini menjadi pemandangan yang sering ditemui di berbagai kafe.

Kafe-kafe ini menciptakan pengalaman unik bagi pelanggan, baik mereka yang mengenakan jubah putih maupun perempuan bercadar. Tujuannya adalah memberikan kesempatan kepada pelanggan untuk merasakan sensasi minum bir tanpa risiko mabuk.

“Idenya adalah menawarkan pengalaman orisinal yang bisa dibagikan di media sosial,” ujar Abdallah Islam, manajer kafe A12 di Riyadh. Di sini, para perempuan Saudi terlihat sesekali mengangkat cadar mereka untuk menikmati bir dingin yang disajikan.

Seorang pelanggan bertanya dengan ragu, “Apakah ada alkohol di sini?” Namun, kafe tersebut tetap menjaga aturan yang berlaku.

Suasana kafe yang ganjil, dengan perempuan bercadar bersahutan dan laki-laki bersorban merekam diri mereka, menjadi gambaran perubahan lambat di kerajaan konservatif ini. Seiring dengan reformasi yang sedang berlangsung, beberapa norma sosial mulai disentuh.

A12, salah satu kafe yang berada di jalan utama Riyadh, memiliki gambar bir berbusa besar di jendelanya. Sejak April lalu, kafe ini menyediakan bir draft Warsteiner Jerman dengan kadar alkohol 0,0 persen. Kafe ini hampir selalu penuh sejak saat itu.

Bir dituangkan dari keran, disajikan dalam gelas besar, dan ditemani kacang seperti di pub tradisional. Pelanggan muda yang mengenakan gamis putih mengabadikan pengalaman ini, sementara pelayan menarik bir di balik meja bar hitam mengilap. Di sudut ruangan, layar televisi menayangkan pertandingan sepak bola.

Sejak Putra Mahkota Mohammed bin Salman memimpin rangkaian reformasi sosial, beberapa hal baru mulai muncul. Bioskop kembali hadir, perempuan diizinkan mengemudi, dan turis asing mulai datang. Namun, batasan tentang alkohol tetap dipertahankan.

Arab Saudi melarang minuman keras sejak 1952 setelah putra Raja Abdulaziz saat itu mabuk dan menembak mati seorang diplomat Inggris. Larangan ini masih berlaku hingga kini, menjadikan Arab Saudi dan Kuwait sebagai dua negara Teluk yang masih menutup pintu bagi alkohol.

Selama bertahun-tahun, sebagian warga membuat anggur ilegal secara sembunyi-sembunyi, sementara lainnya mengandalkan pasar gelap di mana sebotol wiski bisa dijual dengan harga ratusan dollar.

Pada Januari 2024, kerajaan membuka toko minuman keras khusus untuk diplomat non-Muslim di Riyadh. Namun, alkohol akan tetap tidak tersedia selama Piala Dunia 2034.

“Kerajaan harus berhati-hati dengan potensi legalisasi alkohol karena hal itu akan bertentangan dengan citranya sebagai pemimpin dunia Islam yang kredibel,” kata Sebastian Sons dari lembaga riset Jerman CARPO.

Di tengah perdebatan ini, kafe A12 menarik perhatian warga muda Saudi yang penasaran dengan bir 0,0 persen.

“Sheikha (18),” kata perempuan itu, “mengatakan bahwa tampilannya menakutkan, seperti alkohol.” Ia juga mengatakan bahwa kata “bir” saja sudah menakutkan, tapi ia berhasil mengatasi rasa takutnya dan merasa bahwa rasanya menyegarkan.

Bagi manajer kafe, A12 berusaha memberikan pengalaman baru tanpa melanggar norma yang ada. Ini menjadi tantangan di negara dengan populasi muda yang ingin mencoba hal-hal baru, tetapi tetap berada dalam batasan nilai sosial dan agama.

“Di negara kami, tidak ada minuman beralkohol,” kata Ahmed Mohammed (18) sambil menunjukkan gelas kosongnya. “Dan kami tidak ingin ada minuman beralkohol,” tegas dia.

📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.