Trump Akui Kekurangan Pekerja Berbakat, Pendukung MAGA Protes

by -88 Views



WASHINGTON DC, 1News.id –

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah menyampaikan pernyataan yang menimbulkan pro dan kontra di kalangan pendukungnya. Dalam wawancara dengan Laura Ingraham di Fox News, Trump menyatakan bahwa AS tidak memiliki cukup pekerja berbakat untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.

Pernyataan ini disampaikan pada malam hari waktu setempat, saat Trump membela program visa kerja terampil H-1B yang sering digunakan oleh sektor teknologi. Ia menegaskan bahwa ekonomi Amerika harus mendatangkan talenta dari luar negeri.

Saat Ingraham menegaskan bahwa banyak orang Amerika yang berbakat bisa dipekerjakan, Trump menolak dengan tegas. Ia mengatakan, “Tidak, kamu tidak punya. Kamu tidak punya bakat tertentu, dan orang harus belajar. Kamu tidak bisa mengambil orang dari antrean pengangguran lalu berkata, ‘Aku akan menempatkanmu di pabrik untuk membuat rudal.’”

Contoh Kasus Penggerebekan di Georgia

Trump memberikan contoh kasus penggerebekan yang dilakukan ICE di fasilitas Hyundai di Georgia pada September lalu. Ratusan kontraktor asal Korea Selatan ditangkap dan dideportasi karena masalah imigrasi. Menurut Trump, mereka adalah pekerja yang sangat terampil dalam membuat baterai, sebuah proses yang kompleks dan berisiko tinggi.

Ia menambahkan, “Mereka punya sekitar 500 atau 600 orang di tahap awal untuk membuat baterai dan mengajari orang lain. Sekarang mereka ingin orang-orang itu keluar dari negara ini.”

Trump sebelumnya juga sempat mengkritik razia tersebut ketika berkunjung ke Korea Selatan dua minggu lalu. Namun, ia juga telah menandatangani keputusan eksekutif yang menaikkan biaya visa H-1B hingga 100.000 dollar AS (sekitar Rp 1,6 miliar), bagian dari kebijakan imigrasi yang lebih ketat selama masa pemerintahannya.

Kritik dari Pendukung Sendiri

Pernyataan Trump segera memicu gelombang kritik dari basis pendukung gerakan “Make America Great Again” (MAGA). Mereka merasa presiden telah melenceng dari agenda “America First” yang seharusnya mengutamakan pekerja domestik.

Anthony Sabatini, komisaris daerah di Florida yang dikenal sebagai pendukung garis keras Trump, menulis di platform X, “Ini gila — kita akan kalah telak di pemilu sela nanti. Belum pernah ada pemerintahan yang hancur secepat ini hanya demi menyenangkan donatur dan kelompok berkepentingan.”

Komentator sayap kanan Mike Cernovich juga menambahkan, “Trump menghancurkan hati semua orang dengan ucapannya tentang tenaga kerja Amerika dan visa H-1B.” Bahkan anggota Kongres Partai Republik, Marjorie Taylor Greene, ikut mengecam pernyataan Trump.

Greene menulis di X, “Saya percaya pada rakyat Amerika. Kalian berbakat, kreatif, cerdas, pekerja keras, dan ingin sukses. Saya menolak kalian digantikan oleh tenaga kerja asing seperti H-1B.”

Tanggapan Trump dan Perdebatan Politik

Menanggapi kritik tersebut, Trump membalikkan serangan kepada Greene. Ia mengatakan, “Dia sudah kehilangan arah,” dan menuduh Greene sedang mencoba menyenangkan pihak lain.

Sebagian pendukung MAGA menuduh Trump mengkhianati janjinya, namun sejumlah komentator konservatif menilai pernyataan presiden itu justru realistis. Scott Jennings, analis politik di CNN, mengatakan, “Kamu bisa tetap menjadi ‘America First’ sambil mengakui bahwa terkadang kamu perlu mendatangkan talenta dari luar negeri agar Amerika menjadi lebih kuat. Kita sudah melakukannya selama puluhan tahun.”

Kebijakan Imigrasi yang Berubah-ubah

Beberapa pengamat mencatat bahwa posisi Trump soal H-1B memang sering berubah. Saat kampanye awal, ia bersumpah akan menghapus program itu, namun kemudian pada 2024 justru berjanji untuk memperluasnya sebagai bagian dari upaya mendekati para tokoh teknologi besar.

Program H-1B memungkinkan warga asing bekerja di AS selama tiga tahun dan dapat diperpanjang tiga tahun lagi. Ekonom menilai program ini membantu perusahaan Amerika tetap kompetitif dan menciptakan lapangan kerja tambahan. Namun, pihak lain menganggapnya sebagai cara perusahaan besar untuk menggantikan pekerja AS dengan tenaga asing berupah lebih rendah.

Di sisi lain, kebijakan baru Trump seperti biaya aplikasi visa H-1B sebesar 100.000 dollar AS telah membuat perusahaan besar seperti Walmart menghentikan perekrutan tenaga asing, sementara Kamar Dagang AS menuntut pemerintah atas kebijakan tersebut.

📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.