10 Makanan Legendaris Yogyakarta yang Bertahan Sejak 1940

by -185 Views

Kuliner Legendaris Yogyakarta yang Harus Dicoba

Yogyakarta tidak hanya dikenal dengan kebudayaannya, tetapi juga dengan beragam kuliner legendaris yang telah bertahan sejak lama. Meskipun kota ini semakin berkembang dengan hadirnya kafe modern dan tempat makan kekinian, banyak restoran tradisional yang masih mempertahankan cita rasa autentik dan pengalaman makan yang tak terlupakan. Berikut adalah 10 rekomendasi kuliner legendaris Yogyakarta yang layak dikunjungi.

1. Gudeg Yu Djum

Gudeg Yu Djum adalah salah satu ikon gudeg kering yang sudah ada sejak tahun 1950. Dirintis oleh Djuwariah (Yu Djum), warung ini awalnya berjualan di pinggir jalan kawasan Wijilan. Reputasinya terus meningkat karena ketekunan dalam menjaga resep asli hingga matang sempurna. Pengunjung dapat melihat proses pengemasan gudeg dalam besek atau kendil dengan harga mulai dari Rp 15.000 hingga Rp 300.000. Lokasi utamanya berada di Jalan Wijilan Nomor 167 dengan jam operasional 06.00-22.00 WIB.

2. Lupis Mbah Satinem

Lupis Mbah Satinem telah beroperasi sejak tahun 1963. Ia dikenal sebagai penjual jajanan pasar yang menggunakan teknik tradisional untuk membuat lupis, gatot, dan tiwul. Teknik uniknya adalah memotong lupis menggunakan benang putih agar tekstur tetap utuh. Lokasinya berada di kawasan Diponegoro dengan jam operasional dimulai pukul 05.30 WIB. Harga per porsi mulai dari Rp 10.000.

3. Sate Klatak Pak Bari

Sate Klatak Pak Bari merupakan warisan turun-temurun dari sang kakek, Mbah Amad, yang mempopulerkan sate jeruji besi sejak 1940-an. Meskipun baru didirikan secara mandiri pada 1992, sate ini tetap menjaga resep asli dengan bumbu garam saja. Lokasinya berada di Pasar Wonokromo dengan jam operasional 18.30-01.00 WIB. Harga per porsi sekitar Rp 25.000.

4. Oseng-Oseng Mercon Bu Narti

Oseng-Oseng Mercon Bu Narti lahir di tengah krisis moneter 1998. Bu Narti menciptakan tumisan super pedas dari tetelan dan lemak sapi agar tetap laku. Nama “mercon” diberikan oleh pelanggan karena sensasi pedas yang meledak di mulut. Warung tenda ini berada di Jalan KH Ahmad Dahlan dengan jam operasional 16.00-23.00 WIB. Harga per porsi sekitar Rp 25.000.

5. Mangut Lele Mbah Marto

Mbah Marto memulai usahanya dengan berjualan lele asap secara keliling sejak 1960-an. Kini, ia menjual mangut lele di rumahnya dengan konsep makan di dapur (pawon). Lokasinya berada di Sewon, Bantul, dengan jam operasional 08.00-16.30 WIB. Harga per porsi sekitar Rp 25.000.

6. Bakmi Jawa Pak Pele

Bakmi Jawa Pak Pele dirintis oleh Suhardiman pada 1983. Ia menggunakan telur bebek dan kaldu ayam kampung sebagai ciri khas. Tempat ini menjadi langganan para pejabat dan artis. Jam operasionalnya 17.00-23.00 WIB dengan harga per porsi mulai dari Rp 20.000 hingga Rp 30.000.

7. Ayam Goreng Mbah Cemplung

Ayam goreng Mbah Cemplung berawal dari sebuah warung makan sederhana di perbukitan Sembungan, Bantul. Proses ungkep dua tahap membuat bumbu meresap sempurna. Lokasinya berada di area yang tetap orisinal sejak dekade 70-an. Jam operasional 08.00-19.00 WIB dengan harga mulai dari Rp 35.000.

8. Kopi Joss Lik Man

Kopi Joss Lik Man memiliki cerita unik. Menu ini tercipta secara tidak sengaja ketika seorang pelanggan meminta kopi dicelup arang. Saat ini, segelas kopi seharga Rp 5.000 tetap menjadi ikon budaya nongkrong warga Jogja. Lokasinya berada di Jalan Wongsodirjan dengan jam operasional 16.00-01.00 WIB.

9. Mie Lethek Garuda

Mie Lethek Garuda didirikan oleh Yasir Hadi, seorang imigran asal Yaman. Mie ini dibuat dari bahan lokal seperti tapioka dan singkong tanpa zat pemutih. Pabriknya masih menggunakan tenaga sapi untuk menggerakkan mesin penggiling batu. Jam operasional 10.00-22.00 WIB dengan harga mulai dari Rp 15.000.

10. Es Dawet Mbah Hari

Es Dawet Mbah Hari telah setia mengaduk gentong dawetnya di sudut Pasar Beringharjo sejak tahun 1965. Konsistensi dalam menggunakan bahan alami membuat dawetnya tetap diminati lintas generasi. Harga per gelas hanya Rp 5.000 dengan jam operasional 09.00-15.00 WIB.

Saat berkunjung ke tempat-tempat ini, disarankan membawa uang tunai karena sebagian besar gerai tradisional belum menyediakan fasilitas pembayaran digital.

📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.