Performa Francesco Bagnaia di MotoGP 2025 Menjadi Perhatian
Francesco Bagnaia, pembalap Ducati Lenovo, kembali menjadi perhatian setelah menunjukkan performa yang tidak memuaskan di Sirkuit Mandalika, Indonesia, pada Minggu (5/10/2025). Ini menjadi momen yang mengecewakan bagi sang juara dunia bertahan, mengingat sebelumnya ia berhasil meraih kemenangan di Motegi, Jepang, sepekan sebelumnya.
Pembalap asal Italia ini gagal melanjutkan tren positifnya, yang sebelumnya sangat menjanjikan. Hal ini membuat rekan satu timnya, Alex Marquez, merasa prihatin terhadap kondisi Bagnaia. Ia menilai bahwa fluktuasi performa seperti ini adalah hal wajar dalam dunia balap, namun tetap saja sulit diterima oleh seorang juara dunia.
“Kadang semuanya berjalan sempurna di satu seri, tapi di seri berikutnya justru terasa seperti kehilangan arah,” ujar Alex Marquez. Ia juga mencoba memberikan dukungan kepada Bagnaia agar dapat bangkit dan menunjukkan performa terbaiknya di seri-seri berikutnya.
Musim 2025 memang tidak mudah bagi Bagnaia. Sejak awal tahun, ia kesulitan menemukan kestabilan dengan motor Ducati Desmosedici GP25. Namun, setelah uji coba pasca-balapan di Misano, ia sempat mendapatkan terobosan teknis berkat bantuan dari tim VR46 dan Franco Morbidelli. Hasilnya langsung terlihat di MotoGP Jepang, di mana Bagnaia tampil dominan dan keluar sebagai pemenang.
Namun situasi berbalik drastis di Mandalika. Bagnaia tidak pernah mampu menembus posisi 10 besar di semua sesi latihan dan kualifikasi. Bahkan, ia finis terakhir dari 14 pembalap yang terklasifikasi di Sprint Race, tertinggal 29 detik dari Marco Bezzecchi. Bagnaia sendiri mengaku bingung dengan penurunan performa tersebut.
Alex Marquez, yang saat ini unggul 66 poin darinya di klasemen pembalap, berpendapat bahwa performa Bagnaia yang naik-turun ini tidak sepenuhnya unik. Ia menjelaskan bahwa balapan di luar Eropa memiliki kondisi yang berbeda dibandingkan sebagian besar balapan musim ini yang berlangsung di benua asal sebagian besar pembalap elite.
“Pada akhirnya, kami datang ke lintasan yang benar-benar berbeda dibandingkan dengan Eropa, di mana Anda kurang lebih memiliki basis (setelan) yang terkontrol di sirkuit lain,” jelasnya. “Di sini (Asia), ketika Anda tiba di Motegi atau di sini (Mandalika), selalu terasa aneh sekali, Anda tidak pernah tahu di mana feeling-nya, di mana batasnya, dan itu sangat sulit.”
Pembalap dari tim Gresini Racing ini juga berpendapat bahwa kombinasi ban dan lintasan yang ada di Indonesia memengaruhi Bagnaia secara khusus. Karakteristik tata letak sirkuit Mandalika membuat Michelin membawa konstruksi ban belakang yang lebih keras dan tahan panas.
“Ban belakang itu juga saya pikir tidak membantu gaya membalapnya (Bagnaia),” terang adik Marc Marquez. Alex coba membandingkan performa Bagnaia di Mandalika pada edisi-edisi sebelumnya yang bisa dikatakan punya catatan apik meski memble di latihan bebas atau kualifikasi.
“Kami melihatnya (Bagnaia) pada 2023 dan 2024, ia cukup menderita di sini, dan pada akhirnya dia tiba (di depan), tetapi terlambat, atau tidak cukup baik,” ungkap Alex. “Seperti pada 2023, dia memulai dari belakang, seperti posisi ke-13 atau saya tidak tahu di mana, sementara Martin melesat.”
“Jadi, itu tergantung pada gaya membalap. Pada akhirnya, selama satu musim yang terdiri dari 22 balapan, Anda hanya perlu bertahan di sirkuit-sirkuit yang penampilan Anda tidak hebat,” pungkasnya.
Kondisi Balapan di Luar Eropa
Balapan di luar Eropa sering kali menimbulkan tantangan tersendiri bagi para pembalap. Berbeda dengan sirkuit-sirkuit di Eropa yang sudah sangat dikenal dan memiliki setelan yang stabil, sirkuit-sirkuit di Asia atau Amerika Serikat sering kali membutuhkan penyesuaian yang lebih cepat. Hal ini terbukti dari pengalaman Alex Marquez sendiri di Motegi, di mana ia sempat mengalami penurunan performa meskipun sebelumnya sangat konsisten.
Sirkuit Mandalika, yang merupakan salah satu sirkuit baru di Asia, memiliki karakteristik yang unik. Tidak hanya kondisi lintasan yang berbeda, tetapi juga pengaruh cuaca dan suhu yang bisa memengaruhi kinerja motor serta ban. Kombinasi ini sering kali menyulitkan pembalap untuk menemukan ritme yang tepat.
Penyesuaian yang Diperlukan
Untuk menghadapi tantangan ini, para pembalap dan tim harus melakukan penyesuaian yang cepat. Mulai dari setelan motor hingga strategi penggunaan ban. Alex Marquez menekankan bahwa kemampuan untuk beradaptasi adalah kunci keberhasilan dalam balapan di luar Eropa.
“Di sini, Anda tidak pernah tahu di mana feeling-nya, di mana batasnya, dan itu sangat sulit,” tambahnya. Ia juga mengingatkan bahwa setiap sirkuit memiliki cara berbeda dalam menghadapi masalah teknis dan fisik.
Dengan demikian, meskipun Bagnaia mengalami penurunan performa di Mandalika, hal ini tidak sepenuhnya menunjukkan kegagalan. Justru, ini menjadi pelajaran penting bagi dirinya dan tim untuk terus beradaptasi dan meningkatkan kinerja di seri-seri berikutnya.
📲 Ikuti terus berita kami di Google News .





