Apa Itu ‘Dwi Bandara’? Usulan Bandung ke DPR RI untuk Bangkitkan Husein dan Kertajati

by -1079 Views

Inisiatif Pemkot Bandung untuk Mengaktifkan Dua Bandara di Jawa Barat

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung melalui Wali Kota, Muhammad Farhan, mengajukan konsep pengoperasian bersama antara Bandara Husein Sastranegara dan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati. Tujuan utamanya adalah untuk membangkitkan kembali fungsi kedua bandara tersebut sebagai bagian dari ekosistem transportasi udara di Jawa Barat.

Konsep ini disampaikan langsung oleh Farhan saat kunjungan kerja Wakil Ketua DPR RI di Gedung Sate Bandung. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Wakil Ketua DPR RI, Saan Mustafa, Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Saeful Huda, serta jajaran Komisi V dan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman. Menurut Farhan, pengaktifan kembali Bandara Husein tidak hanya penting bagi Kota Bandung, tetapi juga untuk memperkuat sistem transportasi udara di wilayah Jawa Barat secara keseluruhan.

Farhan menekankan bahwa kedua bandara harus dihidupkan secara simultan, bukan satu per satu. Ia menilai bahwa jika hanya menunggu satu bandara bergerak dulu, maka yang lain akan tertinggal dan tidak bisa berkontribusi maksimal.

Konsep Dwi Bandara ini merupakan hasil kajian bersama antara Pemkot Bandung, Institut Teknologi Bandung (ITB), Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Jawa Barat, PT Dirgantara Indonesia (PT DI), Lanud Husein Sastranegara, serta PT Angkasa Pura II. Menurutnya, Bandara Husein memiliki posisi strategis sebagai “satelit” yang mendukung operasional Kertajati. Ia menyatakan bahwa Bandara Husein adalah bagian tak terpisahkan dari ekosistem penerbangan Jawa Barat.

DPR RI memberikan dukungan terhadap rencana ini, dengan alasan bahwa tidak boleh ada satu bandara yang mati karena hal itu bisa membuat kedua-duanya menjadi tidak berfungsi. Farhan menirukan pandangan anggota DPR RI yang menilai bahwa hidupkan dua-duanya lebih baik daripada hanya mengaktifkan satu saja.

Meskipun demikian, Farhan mengakui bahwa Kementerian Perhubungan menghadapi tantangan besar karena kebijakan pemerintah pusat menekankan aktivasi Kertajati sebagai hub utama. Meski begitu, Kemenhub terbuka terhadap ide Pemkot Bandung untuk menghidupkan keduanya. Ia menyarankan agar pemerintah memberikan insentif kepada maskapai dan pelaku usaha penerbangan agar mereka dapat memanfaatkan kedua bandara tersebut secara optimal.

Keunggulan Bandara Husein

Bandara Husein berada di atas lahan seluas 145 hektare dengan akses yang sangat strategis. Lokasinya hanya berjarak 3 km dari Tol Pasteur, sekitar 15 menit dari pusat kota, dan terhubung ke Stasiun Cimindi dalam waktu 10–15 menit dengan kereta. Fasilitas bandara dinilai masih layak beroperasi. Pemkot Bandung mengusulkan fokus pada rute-rute unggulan seperti Denpasar, Medan, dan Balikpapan untuk penerbangan domestik, sementara Kuala Lumpur diprioritaskan untuk penerbangan internasional karena tingginya permintaan wisata dan perdagangan.

Sebelumnya, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Malaysia bahkan telah menyurati Pemkot Bandung agar Bandara Husein kembali aktif. Farhan menjelaskan bahwa aktivasi dwi bandara ini akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Barat. Semester pertama 2025, pertumbuhan ekonomi Bandung mencapai 5,42 persen berkat inflasi yang terkendali dan meningkatnya kunjungan wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Tingkat hunian hotel di Agustus lalu rata-rata mencapai 56,38 persen, dengan hotel berbintang bahkan lebih dari 60 persen. Ini menunjukkan bahwa wisatawan yang datang memiliki daya beli premium. Pemkot Bandung menargetkan penyusunan masterplan gabungan Husein-Kertajati dalam 12 bulan ke depan agar dapat diluncurkan sebagai “West Java Twin Airport” pada akhir 2026.

Dukungan dari DPR RI

Wakil Ketua DPR RI, Saan Mustafa, memberikan dukungan terhadap pengaktifan dua bandara di Jawa Barat. Ia menilai bahwa Bandara Husein memiliki sejarah panjang dan merupakan aset penting yang tidak boleh dibiarkan mati. Saan menekankan bahwa Jawa Barat punya dua bandara, yaitu Kertajati dan Husein. Ia menilai bahwa tidak boleh ada satu bandara yang dihidupkan sementara yang lain dimatikan, karena bisa berujung pada kematian keduanya.

Saan menambahkan bahwa bandara adalah etalase sebuah daerah dan memiliki dampak ekonomi besar. Ia berharap semua pihak terkait seperti DPR RI, Pemprov Jabar, Pemkot Bandung, Angkasa Pura, Lanud Husein, dan Kementerian Perhubungan mencari solusi realistis agar kedua bandara bisa beroperasi secara maksimal. Ia berharap bahwa yang mati bisa hidup, yang hidup tambah sehat, sehingga tidak menjadi beban tetapi memberi manfaat dan kemudahan bagi masyarakat Jawa Barat.

Pada akhir pertemuan, Farhan menyerahkan Proposal Dwi Bandara secara resmi kepada Wakil Ketua DPR RI dan Komisi V DPR RI sebagai bentuk komitmen memperkuat konektivitas transportasi udara Jawa Barat.

📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.