Ekonom Indef Prediksi PMI Manufaktur Tetap di Zona Ekspansi Sampai Akhir 2025

by -270 Views



JAKARTA – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai kenaikan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia ke level 51,2 pada Oktober 2025 menjadi sinyal positif bagi pemulihan industri nasional.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, Rizal Taufikurahman menjelaskan bahwa angka tersebut mencerminkan mulai menguatnya denyut aktivitas manufaktur setelah beberapa bulan tertahan di zona nyaris stagnan. Ia menilai bahwa kondisi ini menunjukkan bahwa sektor manufaktur mulai merespons berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.

Kenaikan PMI Dampak dari Peningkatan Pesanan Baru

Rizal menyebutkan bahwa pemulihan tersebut terutama didorong oleh meningkatnya pesanan baru dari pasar domestik. Kondisi ini menandai kembalinya aktivitas konsumsi rumah tangga dan investasi. Meski demikian, kapasitas produksi belum sepenuhnya pulih.

“Kenaikan PMI menunjukkan bahwa sektor manufaktur mulai merespons kebijakan dorongan fiskal dan stabilisasi makro yang lebih kondusif,” ujarnya.

Peran Kebijakan Fiskal dalam Pemulihan

Menurut Rizal, kebijakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, khususnya penempatan dana pemerintah dan relaksasi fiskal bagi sektor produktif, turut memberi efek psikologis positif bagi pelaku industri. Meskipun bukan satu-satunya faktor pendorong, kebijakan fiskal tersebut memperbaiki likuiditas dan menurunkan risiko pembiayaan di sektor riil.

“Koordinasi fiskal-moneter yang lebih sinkron telah menciptakan ruang bagi industri untuk kembali ekspansif tanpa tekanan biaya yang berlebihan,” katanya.

Proyeksi PMI Hingga Akhir Tahun

Hingga akhir tahun, Rizal memperkirakan PMI manufaktur akan bertahan di zona ekspansi moderat, yakni di kisaran 51–52. Ia menilai permintaan domestik masih akan menjadi penopang utama, meski prospeknya dibatasi oleh lemahnya ekspor global dan kenaikan harga bahan baku.

“Jika momentum belanja pemerintah dan pembiayaan sektor riil berlanjut, sektor manufaktur berpotensi menjaga laju ekspansinya meski tekanan eksternal meningkat,” imbuh Rizal.

Pentingnya Kebijakan Hilirisasi dan Efisiensi Rantai Pasok

Lebih lanjut, Rizal menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan ekspansi melalui kebijakan hilirisasi dan efisiensi rantai pasok nasional. Pemerintah, katanya, perlu memastikan stimulus fiskal diarahkan pada sektor-sektor yang meningkatkan produktivitas, bukan sekadar menjaga permintaan jangka pendek.

“Dengan strategi yang konsisten, sektor manufaktur dapat menjadi jangkar pertumbuhan ekonomi domestik di tengah perlambatan global,” pungkasnya.

Tantangan yang Menghadang

Meskipun ada indikasi positif, Rizal menyoroti beberapa tantangan yang bisa menghambat pertumbuhan sektor manufaktur. Salah satunya adalah fluktuasi harga bahan baku yang bisa memengaruhi biaya produksi. Selain itu, situasi ekonomi global yang tidak pasti juga bisa memengaruhi ekspor.

Namun, ia tetap optimis jika pemerintah dan pelaku industri bekerja sama dalam membangun sistem yang lebih kuat dan efisien.

Strategi Jangka Panjang

Untuk menjaga pertumbuhan sektor manufaktur, Rizal menyarankan adanya kebijakan yang lebih progresif. Misalnya, dengan fokus pada pengembangan industri hilir dan penguatan infrastruktur. Hal ini dapat membantu meningkatkan daya saing sektor manufaktur di pasar global.

Selain itu, pengembangan sumber daya manusia dan inovasi teknologi juga diperlukan agar industri bisa tetap kompetitif.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, kenaikan PMI manufaktur Indonesia menunjukkan adanya tanda-tanda pemulihan. Namun, untuk mempertahankannya, diperlukan kerja sama antara pemerintah dan swasta serta kebijakan yang berkelanjutan. Dengan langkah-langkah yang tepat, sektor manufaktur dapat menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.