Galah dan Permainan Tradisional Atasi Kecanduan Gawai Anak SD di Bandung Barat

by -936 Views

Permainan Tradisional sebagai Solusi untuk Mengurangi Kecanduan Gawai

Di tengah serbuan gawai dan akses internet yang semakin mudah, anak-anak di berbagai daerah Indonesia menghadapi tantangan baru. Di satu sisi, teknologi ini memberikan akses ke pengetahuan dan keterampilan yang luas. Namun, di sisi lain, penggunaan gawai yang berlebihan dapat berdampak negatif terhadap perkembangan anak, termasuk kecanduan dan kurangnya aktivitas fisik.

Namun, di sebuah sekolah dasar jauh di Kabupaten Bandung Barat (KBB), khususnya di Kampung Cijuhung, Desa Margaluyu, Kecamatan Cipeundeuy, para murid menemukan solusi yang unik dan alami: permainan tradisional. Aktivitas ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi cara untuk menjaga kesehatan fisik dan mental serta membangun keterampilan sosial.

Medan Laga yang Penuh Tawa

Hamparan tanah merah di depan Sekolah Dasar Negeri Cibungur kelas jauh Cijuhung menjadi tempat berlangsungnya pertandingan antara dua tim yang masing-masing terdiri dari tujuh murid. Mereka dibagi menjadi dua kelompok dan mulai bermain galah atau galasin, permainan tradisional yang melibatkan strategi dan kerja sama.

Awalnya, dua siswa perwakilan dari masing-masing tim melakukan suten atau mengadu jari untuk menentukan siapa yang akan memulai permainan. Setelah itu, anggota tim yang menang suten mulai memasuki garis paling awal, sementara tim yang kalah bertugas menjaga setiap garis agar tidak bisa ditembus lawannya.

Gelak tawa terdengar saat para penjaga mulai kebobolan atau garis mereka bisa ditembus. Ketika satu garis berhasil dibobol, garis dan penjaga lainnya segera menanti. “Tong sologoto (Jangan terburu-buru)” kata seorang guru memberi peringatan kepada murid yang terlalu cepat terobos.

Manfaat Permainan Tradisional

Permainan tradisional seperti galah, boy-boyan, dan lainnya tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memiliki manfaat yang besar bagi anak-anak. Menurut Ivan Abdurrahman Juniato, salah satu guru SD tersebut, permainan ini membantu mengembangkan motorik kasar, kerja sama, serta kemampuan fokus.

Selain itu, aktivitas fisik yang dilakukan selama bermain membuat anak-anak lebih sehat. Mereka harus berlari, menggerakkan tangan, dan tetap waspada. Dengan begitu, kebiasaan menggunakan gawai untuk bermain game atau berselancar di media sosial bisa dikurangi.

Peran Guru dalam Edukasi Digital

Meskipun permainan tradisional menjadi alternatif yang baik, Ivan juga menyatakan bahwa para murid tetap dikenalkan dengan dunia digital. Namun, pengenalan ini dilakukan secara bertanggung jawab, dengan edukasi tentang keamanan dan konten negatif di internet.

Salah satu cara yang digunakan adalah dengan memutar video YouTube melalui komputer jinjing dan proyektor. Video-video ini membantu murid memahami materi pelajaran seperti gejala alam atau bencana alam. Selain itu, guru juga memberikan pesan-pesan tentang konten yang bermanfaat dan yang tidak seharusnya ditonton.

Partisipasi Orang Tua dalam Pengawasan Gawai

Orang tua juga memiliki peran penting dalam mengawasi penggunaan gawai oleh anak-anak. Dalam pertemuan sekolah dengan orang tua, guru-guru memberikan edukasi tentang pengelolaan gawai. Ivan meminta orang tua untuk ikut mendampingi anak-anaknya saat bermain gawai dan mengakses internet.

Dengan demikian, solusi untuk menciptakan ruang digital yang ramah anak tidak perlu dicari jauh-jauh. Kearifan lokal seperti permainan tradisional bisa menjadi jawaban yang efektif dan alami. Melalui permainan ini, anak-anak tidak hanya belajar, tetapi juga berkembang secara holistik.


📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.