Kiper Muda Bandung Klarifikasi soal TPPO ke Kamboja, Warganet Curiga dengan Banyak Kejanggalan

by -311 Views

Klarifikasi Riski Nur Fadhilah Terkait Isu Tindak Pidana Perdagangan Orang

Kiper muda asal Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Riski Nur Fadhilah kini memberikan klarifikasi terkait isu yang sedang beredar mengenai tindakan yang dilakukan oleh pihak tertentu. Namun, video klarifikasinya justru memicu keraguan di kalangan warganet.

Dalam video tersebut, Riski menyatakan bahwa dirinya tidak dianiaya selama bekerja di Kamboja dan bahwa keberangkatannya ke sana adalah atas kemauannya sendiri. Ia juga menyangkal adanya pemaksaan atau kekerasan dari pihak mana pun.

“Nama saya Rizki Nurfadhilah, saya ingin meluruskan fakta terkait isu yang sedang beredar, dikarenakan itu tidak benar, itu kemauan saya sendiri tidak ada paksaan,” ujarnya dalam video.

Riski juga mengungkapkan bahwa ia diperlakukan baik selama berada di Kamboja dan bahkan diberi makan. “Kondisi saya aman, tadi saya sudah dikasih makan. Itu bikin cerita karena saya ingin pulang cepat,” tambahnya.

Namun, video klarifikasi tersebut dinilai janggal oleh sebagian warganet. Beberapa komentar menunjukkan ketidakpercayaan terhadap pernyataan Riski. Misalnya:

  • “+62 ngk semudah itu percaya bang, up aja kalo emng bner ada tindakan intimidasi”
  • “Itu tangan nya di borgol woyyy”
  • “Keinginan dia sendiri tetapi diakhir dia bilang ‘itu alasan karena saya ingin pulang cepat’ wahh ada kejanggalan”

Selain itu, beberapa netizen juga memperhatikan gerak-gerik Riski dalam video, termasuk nada suara yang tinggi dan ekspresi wajah yang tampak terancam.

Awal Mula Kejadian

Awal mula kejadian ini bermula dari Imas Siti Rohana (52), nenek korban, yang mengungkapkan bahwa cucunya tertipu oleh seseorang yang mengaku-ngaku sebagai manajer dari klub profesional asal Sumatera Utara. Riski diiming-imingi bahwa dirinya akan mengikuti seleksi sebagai pemain sepak bola untuk salah satu klub profesional di Medan.

“Jadi awalnya itu, orang tuanya bilang kalau anaknya mau ikut seleksi pemain bola untuk klub di Medan, PSMS Medan. Katanya mau ikut seleksi ke Jakarta dulu, lalu langsung ke Medan. Itu dapet informasi dari Facebook,” ujarnya kepada Tribun Jabar pada Selasa (18/11/2025).

Namun, setelah berangkat dari Kabupaten Bandung ke Jakarta, Imas terkejut mengetahui bahwa cucu kesayangannya itu sudah berada di negara Kamboja, bukan ke Sumatera Utara. Ia menjelaskan bahwa keberangkatan cucunya dari Bandung ke Jakarta dijemput oleh travel, dan pada tanggal 27 Oktober, ada unggahan tiket pesawat dari Fadil rute Jakarta-Medan-Kualanamu. Namun, pada 4 November, cucunya bilang ada di Kamboja.

Selama proses keberangkatan cucunya itu, Imas mengaku masih bisa berkomunikasi dengan Fadhil. Bahkan saat cucunya berada di Jakarta, komunikasi dirinya dengan orang yang mengaku-ngaku sebagai manajer klub profesional asal Medan itu masih berjalan baik.

Pada awalnya, Imas belum memiliki rasa curiga kepada pihak yang mengaku sebagai manajer tersebut. Namun, seiring berjalanya waktu, rasa curiga itu muncul usai beberapa kejanggalan terjadi di keberangkatan cucunya.

“Saya masih komunikasi dengan orang itu. Dia juga sempat menelfon dan memberikan kabar kalau Fadil sedang makan atau sedang berada di suatu tempat. Yang mulai saya jadi heran itu, orang itu WA-an sama saya tapi tidak memberikan kabar kalau Fadil ada di Medan. Baru ketika Fadil bilang ada di Kamboja, orang itu hilang,” ujarnya.

Kondisi Riski di Kamboja

Mengenai kondisi Riski di negara Kamboja, Imas menceritakan bahwa cucunya itu dipaksa untuk bekerja untuk mencari orang yang bisa ‘ditipu’ (scammer) dengan modus melalui platform percintaan. “Dia (Fadhil) bilang kerjaannya ‘menipu orang-orang Cina’ lewat komputer. Padahal dia tidak bisa komputer. Tapi kalau komunikasi dengan keluarga, dia sembunyi-sembunyi di kamar mandi,” ucapnya.

Lebih lanjut, kata Imas, Riski selama kerja di Kamboja selalu saja mendapat hukuman. Dirinya sering di suruh push up, hingga mendapatkan kekerasan fisik dari pimpinan tempatnya bekerja. “Katanya kondisinya mengkhawatirkan. Dia sering disiksa. Disiksanya seperti disuruh push-up ratusan kali, disuruh membawa galon ke lantai sepuluh. Padahal anak sekecil itu jelas tidak terbiasa kerja seperti itu,” ujarnya.


📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.