BANGKALAN, 1NEWS.ID – Seorang santri yang berhasil selamat dari tragedi ambruknya mushala Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, adalah Alfatih Cakra Buana (14), asal Desa Sendang Dajah, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.
Alfatih menceritakan bahwa dirinya terlindungi oleh timbunan pasir saat mushala lantai tiga tersebut runtuh. Saat peristiwa terjadi, para santri sedang menjalankan salat Ashar.
Menurut ayah Alfatih, KH Abdul Hannan, tubuh anaknya tenggelam ke dalam pasir sehingga reruntuhan bangunan tidak menyentuh tubuhnya. Bagian wajah Alfatih juga terlindungi oleh seng, sehingga tidak mengalami luka.
Alfatih sendiri mengisahkan bahwa ia berada di saf tengah saat shalat Ashar bersama teman-temannya. Tiba-tiba ia merasakan guncangan seperti gempa.
“Saya ada di saf tengah dan shalat Ashar bersama teman-teman,” kata Alfatih.
Tidak lama kemudian, bangunan mushala ambruk menimpa seluruh santri yang berada di dalamnya. Alfatih mengaku sempat pingsan dan ketika sadar, ia merasa dalam kondisi gelap dan posisinya miring ke kiri.
“Awalnya saya kira gempa, lalu bangunan ambruk. Saya pingsan, bangun-bangun sudah gelap. Posisi saya miring ke kiri,” ujarnya.
Di bawah reruntuhan, Alfatih tidak banyak ingat apa yang terjadi. Ia mengira sempat pingsan berulang kali, bahkan bermimpi sedang bermain dengan teman-temannya.
“Di dalam sana saya hanya mimpi bermain sama teman-teman. Yang saya ingat, saya seperti bermain handphone dan bersepedahan dengan teman-teman,” ungkapnya.
Alfatih juga mengaku tidak makan dan minum selama tertimbun. Namun, ia sempat merasa minum dalam mimpinya.
“Saat bangun rasanya haus sekali dan sudah bernafas,” tambahnya.
Ia kemudian mendengar suara tim penyelamat dan melihat cahaya senter, yang membuatnya sadar bahwa bantuan telah tiba.
“Saya bangun karena ada suara itu dan saya melihat cahaya lampu. Alhamdulillah, setelah itu saya berhasil keluar dari sana,” katanya.
Alfatih berharap teman-temannya yang masih tertimbun segera bisa ditemukan dan diselamatkan.
“Semoga segera ditemukan dan diselamatkan,” pungkasnya.
Diketahui, Alfatih tertimbun selama 3 hari, sejak Senin hingga Rabu. Ia berhasil dievakuasi pada malam Kamis dan langsung dibawa ke RSUD R.T Notopuro Sidoarjo untuk perawatan.
Setelah dirawat selama dua hari, Alfatih diperbolehkan pulang dan keluarganya membawanya kembali ke Bangkalan. Setibanya di rumah, ia sempat mengunjungi makam kakek dan neneknya.
📲 Ikuti terus berita kami di Google News .





