Pendidik dan Penyiram Generasi

by -319 Views

Kenangan tentang Pater Frans Pora Ujan, SVD

Pater Frans Pora Ujan, SVD, meninggal pada 20 Oktober 2025. Kepergiannya mengejutkan banyak orang, termasuk sahabatnya, Robert Bala. Beberapa kali sebelum kematiannya, Pater Frans masih sempat berkomunikasi melalui WhatsApp. Ia juga mengikuti perkembangan tulisan-tulisan Robert dan bahkan memesan bukunya.

Buku terakhir yang ia baca adalah Sebelum Bunuh Diri: Fakta, Data, dan Pencegahan Bunuh Diri. Pada 6 Mei 2025, ia menulis, “Pa Robert, suatu usaha yang bagus. Semoga membantu orang tua dan para guru dalam usaha mendampingi para remaja kita.” Ini menunjukkan bahwa Pater Frans selalu peduli dengan isu-isu sosial yang relevan dengan generasi muda.

Dalam rangka merayakan 50 tahun imamatnya pada tahun 2021, Robert Bala menulis dalam buku Bunga Rampai. Pak Marcel Ruben Payong meminta Robert ikut menulis, sambil berkisah sebuah anekdot untuk sang idolanya. Marsel telah menyediakan seekor babi untuk pesta emas, tetapi bukan untuk dikonsumsi. Babi itu dijual dan hasilnya digunakan sebagai modal untuk membuat buku kenangan 50 tahun emas. Robert pun dengan senang hati ikut menulis, meskipun tidak sebesar seekor babi, tetapi bisa ke arah sana.

Robert mulai menulis dengan mengingat pertemuan pertamanya dengan Pater Frans. Tahun 1985, saat itu Mundus (P. Raimundus Beda SVD) berada di Sesado Hokeng, dan Pater Frans yang waktu itu Provinsial SVD Ruteng, mampir di Seminari Hokeng. Pertemuan ini menjadi awal dari hubungan persahabatan antara Robert dan Pater Frans.

Perjalanan Seorang Frans Pora dalam Berbagai Generasi

Jika Graeme Condrignton dan Sue Grant Marshal membagi teori generasi, maka Robert melihat bahwa Pater Frans dapat ditempatkan dalam semua generasi. Lahir pada periode generasi tradisional-konservatif (19/7/1941), lima tahun kemudian ia masuk dalam generasi baby-boomers (1946–1964). Periode ini sangat sulit dan kompetitif. Lowongan pekerjaan yang terbatas memaksa kompetisi yang ketat. Terbayang, seorang bocah dari Kalikasa Lembata bisa memulai kompetisi itu.

Dunia ternyata tidak selebar Waimuda karena dia bisa ke Hadakewa kemudian Hokeng (1955–1962). Saat memasuki Generasi X (1965–1980), Pora melewatinya dengan pendidikan dan kerja keras mulai dari Ledalero (1963–1970) hingga Roma (1973–1976). Ia lalu masuk berinteraksi dengan Generasi Y (1981–1996), saat mulai berkarya dan mengambil posisi sentral sebagai direktur APK (1982–1988) dan Provinsial SVD Ruteng (1986–1993). Pada dua tahun 1986–1988, ia bahkan merangkap jabatan Provinsial dan direktur APK.

Ia tidak berhenti di sana. Generasi Z (1997–2010) juga tidak sulit untuk ia jalin kontak. Inilah periode di mana Pora selain kembali ke basis sebagai dosen, tetapi juga menepi ke Novisiat Kuwu sebagai pembina. Ia tidak canggung karena dengan kelenturannya, ia dengan mudah bergaul dengan generasi Z bahkan generasi Alpha yang lebih cocok jadi cucu dan cecenya.

Email, SMS, instan messaging (yahoo messenger), media sosial (Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan lain-lain) bukan sesuatu yang asing baginya dan dengan mudah berada tanpa canggung di lintas generasi.

Mengapa Frans Pora Tidak Sulit Masuk ke Setiap Generasi?

Mengutip Price, C (2009) dalam Why Don’t My Students Think I’m Groovy, dan juga pada artikel online tentang Five Strategies to Engage Today’s Students, 2011, Robert merasa strategi 5R merupakan jawaban yang tepat yakni: riset, relevan, rasional, rileks, dan rapor (hubungan baik).

Frans Pora menjadi seorang pengamat (riset tingkah laku) yang jitu. Ia mengenal orang lain apa adanya dan menjadikannya sebagai basis untuk jalin hubungan. Inilah alasan mengapa ia jadi ‘klop’ dengan setiap generasi. Di kelas sebagai guru ia juga membawakan pembelajaran yang relevan dan ‘nyambung’ dengan kebutuhan. Di luar kelas, ia pun rileks yakni tahu tempat di mana ia bisa santai tetapi juga tahu kapan harus mengantar mahasiswanya berpikir rasional.

Semua ini menjadi kesimpulan bahwa hingga wafatnya ia punya ‘rapport’ sebagai catatan baik sekali untuk riwayat hidupnya.

Seperti Hujan

Apa yang bisa menjadi simbol yang menggambarkan seorang Frans Pora? Sambil bertanya demikian, hujan sore menjelang malam saat kematiannya seakan menjadi jawaban: hujan. Hujan adalah bagian dari siklus air: mengendap dalam tanah, mengalami penguapan air, mengembun di atmosfer hingga jatuh kembali sebagai tetesan air.

Frans Pora menghidupi falsafah dari siklus air. Sebagai hujan, Pora menghadirkan makna filosofis dan spiritual dari air. Ia adalah simbol kehidupan, harapan, pembaharuan, dan berkah. Ibarat air yang lewat, yang ditinggalkan adalah kehidupan. Sebuah kehidupan yang disertai tugas membaharui dunia dan jadi berkat bagi banyak orang.

Ini sebuah fakta yang tidak bisa disangkal oleh siapapun yang pernah jadi mahasiswanya. Hujan juga membawa makna ketenangan, kesegaran, dan kesempatan introspeksi diri. Kematian Pora kelihatan ‘tanpa masalah’. Ia tidak mau menjadi beban banyak orang. Karenanya di sore harinya ia masih sempat menyapa rekan-rekannya di dunia maya. Tetapi ketika malam menjemput, ia biarkan diri untuk pergi dengan tenang dengan penuh keyakinan bahwa ‘di sana’ ia mengalam kesegaran yang abadi. Ia pergi ke mata air yang sebenarnya.

Makna simbolik ini tentu bukan sebuah kebetulan untuk Frans Pora karena memang ia berasal dari ‘hujan’ (Ujan). Mitos mengatakan, sukunya keluar dari tanah (seperti air yang mengendap) dan duduk di bawah pohon bernama ‘uja’. Tetapi tidak kebetulan bahwa dari tanah yang sudah mengendap, keluarlah uap air yang mengembun dan kemudian menjadi titik air hujan.

Karena selalu menghasilkan air hujan maka disebut sebagai ‘Ata Ujan’ sebagai sebuah pengakuan. Tetapi Frans tidak berhenti di situ. Sebagai hujan ia membawa kesegaran bagi tanaman yang sempat dilewati. Ia lebih dari itu menjadi penyiram. Ibarat bambu yang sangat banyak di Kalikasa, ia membelah dirinya, mengeluarkan buku agar jadi penyalur dan penyiram di lintas daerah terutama di Manggarai.

Selamat jalan sang penyiram, kembali ke Sumber Air utama.

📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

About Author: Adam NW

Gravatar Image
Adam Nugraha Wiradhana adalah seorang jurnalis dan mediapreneur yang berdedikasi mengembangkan media digital yang berintegritas. Menjabat sebagai Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kota Banjarmasin dan Anggota Majelis BPSK Banjarmasin, ia juga dikenal sebagai SEO Expert yang berpengalaman dalam strategi konten dan pengembangan portal berita berbasis teknologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.