Persebaya Surabaya kembali merasakan kekalahan yang mengecewakan setelah kalah 3-0 dari Persija Jakarta pada pertandingan yang digelar di Stadion Gelora Bung Tomo (GBK), Sabtu (11/4). Kekalahan ini menjadi yang kedua kalinya dalam tiga pertandingan terakhir, yang memperlihatkan bahwa performa tim asuhan pelatih Bernardo Tavares masih jauh dari harapan.
Sebelumnya, Persebaya juga mengalami kekalahan telak saat menjamu Borneo FC dengan skor 5-1. Hal ini membuktikan bahwa lini pertahanan Green Force tidak stabil, terutama ketika bermain di luar kandang. Kelemahan tersebut terlihat jelas dalam pertandingan melawan Persija Jakarta, yang merupakan salah satu tim kuat di Liga 1 Indonesia.
Dari statistik pertandingan, Persebaya kalah jauh dalam penguasaan bola dengan rasio 67% untuk Persija dan 33% untuk Persebaya. Selain itu, gawang Persebaya menerima sebanyak 12 tendangan, enam di antaranya mengarah ke gawang, dan tiga di antaranya berbuah gol. Sementara itu, Persija berhasil menciptakan lebih banyak peluang daripada Persebaya, yaitu enam peluang dibandingkan empat peluang milik Green Force.
Pelatih Persebaya, Bernardo Tavares, mengatakan bahwa gol penalti yang dicetak Allano menjadi titik awal kekacauan dalam pertandingan tersebut. Ia menyebut bahwa setelah gol tersebut, Persija semakin percaya diri, terlebih karena dukungan ribuan suporter yang hadir di stadion. “Kami terlalu banyak memberikan ruang kepada mereka,” ujarnya.
Selain faktor permainan, mentalitas pemain Persebaya juga turut memengaruhi hasil pertandingan. Setelah kebobolan, para pemain kesulitan mempertahankan fokus dan kontrol emosi akibat tekanan suporter Persija yang sangat luar biasa. “Ketika situasi tidak berjalan baik, kontrol emosi dan fokus kami menurun. Hal seperti itu tidak boleh terjadi jika kami ingin menjadi tim yang lebih baik. Mentalitas juga harus diperbaiki,” tambahnya.
Tavares menegaskan bahwa evaluasi besar-besaran akan dilakukan terhadap skuad Persebaya. Karena ketidakkonsistenan mereka di Liga 1 musim ini, posisi Persebaya sebagai juara dua kali berturut-turut semakin jauh dari lima besar. “Kami harus belajar dari pertandingan ini. Saya tidak suka kalah, begitu juga para pemain. Tetapi kekalahan ini harus menjadi pelajaran bagi kami,” katanya.
Kekalahan dari Persija juga menambah catatan buruk Persebaya selama era kepelatihan Tavares. Sejak ia mengambil alih pada Januari lalu, jumlah gol yang dikemas oleh Persebaya justru lebih sedikit dibandingkan gol yang mereka kemasukan. Sampai pekan ke-27, Persebaya telah kemasukan 18 gol dan mencetak 17 gol. Ini membuat selisih gol sejauh ini adalah minus satu.
Meski secara keseluruhan Persebaya masih memiliki surplus gol sebesar lima gol (38 gol masuk dan 33 gol kemasukan), situasi ini tidak bisa dianggap remeh. Apalagi jika Persebaya terus mengalami kekalahan telak di laga-laga tandang, maka selisih gol secara keseluruhan bisa saja berubah menjadi negatif.
📲 Ikuti terus berita kami di Google News .





