Pertemuan Prabowo-Paloh Bahas Kepemimpinan Bersama NasDem dan Gerindra

by -82 Views



Pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh di kediamannya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, pada Februari 2026 menarik perhatian publik. Pertemuan ini disebut sebagai momen penting dalam dinamika politik Indonesia, khususnya terkait kemungkinan penggabungan partai Gerindra dan NasDem. Informasi tentang pertemuan tersebut dikupas dalam laporan media Tempo yang terbit pada 12 April 2026 dengan judul “Di Balik Ide Prabowo-Surya Paloh Menyatukan Gerindra-Nasdem”.

Pertemuan antara dua tokoh politik ini berlangsung sebelum Prabowo melakukan perjalanan ke Washington DC, Amerika Serikat. Ini adalah pertemuan empat mata pertama Surya Paloh dengan Prabowo sejak Presiden Prabowo dilantik pada 20 Oktober 2024. Sebelumnya, pertemuan terakhir keduanya terjadi saat Prabowo masih berstatus presiden terpilih, yaitu ketika ia mengunjungi kantor NasDem di Gondangdia, Jakarta Pusat, pada Maret 2024.

Dalam pertemuan tersebut, Surya Paloh datang bersama rombongan terbatas. Berbeda dengan pertemuan biasanya, pertemuan ini dilakukan secara tertutup. Selama lebih dari satu jam, Prabowo dan Surya membicarakan berbagai isu politik, termasuk ambang batas parlemen. Putusan Mahkamah Konstitusi pada Februari 2024 menyatakan bahwa Dewan Perwakilan Rakyat harus menghitung ulang ambang batas suara partai untuk masuk Senayan.

Surya Paloh mengusulkan agar ambang batas dinaikkan dari 4 persen menjadi 8 persen. Namun, Prabowo mengkhawatirkan dampaknya terhadap partai-partai kelas menengah dan kecil seperti NasDem. Dengan perolehan suara antara 6-9 persen setelah tiga kali pemilu sejak 2014, NasDem bisa terancam tidak lolos ambang batas jika syarat tersebut dinaikkan.

Menurut informasi yang didapat dari sumber-sumber dekat Surya, Prabowo kemudian melontarkan gagasan penggabungan Gerindra dan NasDem. Jika digabung, partai baru tersebut akan memiliki hampir 35 juta suara nasional atau sekitar 23 persen berdasarkan hasil Pemilu 2024.

Namun, tiga pejabat teras NasDem menyatakan bahwa skema merger ini tidak realistis. Mereka merasa bahwa NasDem belum siap melepas partai yang dirintisnya sejak awal. Meskipun demikian, NasDem tetap memilih untuk mendukung pemerintahan Prabowo meski tidak mendapatkan kursi menteri di Kabinet Merah Putih.

Sebaliknya, lingkaran dekat Prabowo menyampaikan cerita berbeda. Mereka mengklaim bahwa ide penggabungan datang dari Surya sendiri. Alasan yang disampaikan Surya adalah bahwa penggabungan bisa menjadi cara untuk menyederhanakan jumlah partai di Indonesia. Namun, narasumber ini juga mengungkapkan bahwa penggabungan justru bisa menimbulkan kerumitan di lapangan. Contohnya, calon legislator dan daerah pemilihan bisa bertabrakan di wilayah yang selama ini dikuasai NasDem dan Gerindra.

Pengurus Gerindra bahkan memprediksi bahwa merger bisa membuat perolehan suara partai baru jeblok, alih-alih meningkat. Oleh karena itu, mereka menyarankan agar Gerindra dan NasDem berjuang masing-masing untuk lolos ambang batas parlemen.

Hingga saat ini, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi belum memberikan respons terkait informasi ini. Beberapa wartawan dan kontributor seperti Egi Adyatama, Francisca Christy Rosana, Daniel Ahmad Fajri, Hussein Abri Dongoran, Novali Panji Nugroho, dan Septhia Ryanthie turut berkontribusi dalam penulisan artikel ini. Di edisi cetak, artikel ini terbit di bawah judul “Ide Merger dari Hambalang”.

📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

About Author: Sammy NW

Avatar of Sammy NW
Sammy NW adalah seorang jurnalis dan mediapreneur yang berdedikasi mengembangkan media digital yang berintegritas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.