Survei: Banyak yang Puas dengan SPMB

by -798 Views

Penilaian Responden terhadap Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB)

Survei yang dilakukan oleh Katadata Insight Center (KIC) menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat merasa puas dengan pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang dijalankan mulai tahun ini. Dibandingkan dengan sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sebelumnya, SPMB dinilai lebih baik dan sesuai dengan harapan para responden.

Dalam survei tersebut, sebanyak 9 dari 10 responden menyatakan bahwa pelaksanaan SPMB berjalan dengan baik. Mereka melihat adanya peningkatan dalam pemerataan akses pendidikan (63,7%), transparansi seleksi (50,9%), serta pengurangan dominasi sekolah favorit (49,8%). Hal ini menjadi indikasi bahwa sistem baru ini berhasil menciptakan lingkungan yang lebih adil dan merata bagi calon siswa.

Menurut Manajer Riset dan Analitik KIC, Satria Triputra Wisnumurti, SPMB mampu meningkatkan pemetaan akses layanan pendidikan. Selain itu, sistem ini juga memberikan kejelasan mengenai kuota jumlah pendaftar dan peringkat pendaftar. Tidak hanya itu, SPMB juga membantu mengurangi dominasi sekolah unggulan yang selama ini sering menjadi kendala dalam proses penerimaan siswa.

Pada skala penilaian, kepuasan responden terhadap pelaksanaan SPMB berada pada kategori “baik” dengan skor rata-rata 3,26. Aspek yang paling tinggi adalah ketiadaan biaya selama proses (3,46), disusul oleh transparansi hasil seleksi (3,31) dan kejelasan waktu pelaksanaan (3,30). Namun, ada beberapa aspek yang mendapat penilaian rendah, seperti kompetensi panitia dan kemudahan prosedur SPMB.

Satria menambahkan bahwa responden yang anaknya diterima di sekolah negeri cenderung lebih puas dibandingkan mereka yang diterima di sekolah swasta. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada perbedaan dalam persepsi antara sekolah negeri dan swasta terkait kualitas layanan dan proses seleksi.

Meski demikian, SPMB masih menghadapi tantangan utama, yaitu kurangnya sosialisasi dan kendala teknis. Menurut Satria, faktor utama yang memengaruhi ketidakpuasan terhadap SPMB adalah sosialisasi yang tidak memadai (24,9%) dan kesulitan dalam pelaksanaannya. Para responden berharap agar sistem SPMB dapat diperbaiki dengan fokus pada kemudahan proses, transparansi, keadilan, serta sosialisasi yang lebih masif dan jelas.

Masalah Keberpihakan dalam Pelaksanaan SPMB

Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Komisi X DPR, Lalu Hadrian Irfani, mengungkapkan bahwa Komisi X masih menemui sejumlah kecurangan dalam pelaksanaan SPMB. Terutama pada jalur prestasi dan domisili, ditemukan adanya praktik tidak sehat.

Menurutnya, di jalur prestasi, ada orang tua yang bekerja sama dengan guru untuk mengatur nilai siswa sejak semester I hingga V. Bahkan, ada beberapa calon siswa yang mendapatkan nilai sempurna (100) untuk empat mata pelajaran, sehingga total nilainya mencapai 2.000 untuk lima semester. Hal ini menunjukkan adanya manipulasi dalam sistem penilaian.

Di jalur zonasi, juga ditemukan kecurangan, seperti siswa yang mendaftar ke sistem SPMB bukan dari rumah, tetapi dari lokasi yang dekat dengan sekolah. Sampai saat ini, kecurangan yang terjadi hanya terbatas pada jalur prestasi dan domisili.

Tanggung Jawab Kemendikdasmen

Direktur Sekolah Menengah Atas, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Kemendikdasmen, Winner Jihad Akbar, mengakui bahwa kekurangan-kekurangan dalam pelaksanaan SPMB menjadi pekerjaan rumah bagi institusi tersebut. Ia menyatakan bahwa pihaknya akan terus berupaya memperbaiki sistem agar lebih efektif dan adil bagi seluruh peserta didik.

📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.