Tahap Ketiga Pertumbuhan Organisasi Menurut Model Greiner: Delegasi yang Sering Disertai

by -313 Views

Analisis Tahap Pertumbuhan Organisasi Berdasarkan Model Greiner

Model pertumbuhan organisasi yang dikembangkan oleh Larry E. Greiner menjelaskan bahwa setiap organisasi mengalami beberapa tahap perkembangan. Salah satu tahap penting dalam model ini adalah tahap “delegation” atau pendelegasian wewenang. Tahap ini sering kali diikuti dengan krisis otonomi, yaitu ketegangan antara manajemen puncak dan manajer menengah terkait pengambilan keputusan dan penggunaan sumber daya.

Pada artikel ini, kita akan membahas bagaimana karakteristik tahap “delegation” dapat terwujud dalam struktur PT Maju Sukses pasca ekspansi kapasitas produksi. Sebelumnya, perusahaan ini telah mengalami pertumbuhan pesat dalam tiga tahun terakhir, dengan peningkatan permintaan produk sebesar 75%. Hal ini didorong oleh strategi pemasaran digital yang efektif, kolaborasi dengan influencer fashion ternama, serta peningkatan kesadaran merek di pasar domestik.

Ekspansi Kapasitas Produksi PT Maju Sukses

PT Maju Sukses, yang merupakan perusahaan manufaktur tas tangan wanita berbahan kulit sintetis premium, saat ini merencanakan ekspansi kapasitas produksi dari 1.000 unit/tahun menjadi 1.750 unit/tahun. Tujuan utama dari ekspansi ini adalah untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat dan memperkuat posisi kompetitif di tingkat nasional.

Dengan ekspansi tersebut, perusahaan akan menghadapi tantangan baru dalam manajemen operasional. Pimpinan perusahaan tidak lagi mampu mengendalikan seluruh kegiatan secara langsung. Oleh karena itu, tanggung jawab produksi, pemasaran, dan distribusi akan diserahkan kepada masing-masing kepala divisi.

Karakteristik Tahap “Delegation” dalam Model Greiner

Pada tahap “delegation”, perusahaan mulai memberikan pendelegasian wewenang yang lebih luas kepada manajer menengah agar operasional dapat berjalan lebih efisien. Dalam konteks PT Maju Sukses, pendelegasian ini akan memengaruhi struktur organisasi dan proses pengambilan keputusan.

Manajer menengah akan diberi kewenangan untuk mengambil keputusan terkait operasional divisi mereka. Namun, hal ini juga berpotensi menimbulkan krisis otonomi, di mana manajer menengah mulai menginginkan kebebasan dalam pengambilan keputusan, sementara manajemen puncak masih berupaya mempertahankan kontrol yang ketat.

Ketegangan antara pusat dan unit kerja dapat muncul, terutama terkait prioritas, penggunaan sumber daya, serta kebijakan operasional. Misalnya, kepala divisi produksi mungkin ingin fokus pada peningkatan kualitas produk, sementara kepala divisi pemasaran mungkin lebih berfokus pada promosi dan penjualan.

Solusi untuk Mengatasi Krisis Otonomi

Untuk mengatasi hal tersebut, PT Maju Sukses perlu menata ulang sistem pelaporan, memperjelas batas kewenangan, serta membangun komunikasi vertikal yang efektif. Dengan demikian, keseimbangan antara kontrol dan kemandirian dapat terjaga.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
* Membuat struktur organisasi yang jelas dengan peran dan tanggung jawab masing-masing divisi
* Menyusun pedoman operasional yang dapat diacu oleh semua tingkatan manajemen
* Melakukan evaluasi berkala untuk memastikan bahwa pendelegasian wewenang berjalan sesuai rencana
* Memberikan pelatihan dan pengembangan bagi manajer menengah agar mereka mampu mengambil keputusan secara mandiri

Dengan strategi yang tepat, PT Maju Sukses dapat memanfaatkan tahap “delegation” sebagai kesempatan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan tanpa mengorbankan kontrol manajemen puncak.


📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.