Tiga Seniman Perempuan Aceh Berjuang Melawan Patriarki

by -648 Views

Tiga Perempuan Muda Aceh Menggunakan Seni untuk Menyuarakan Kritik terhadap Syariat Islam

Tiga perempuan muda dari Aceh, yaitu Zikrayanti, Arifa Safura, dan Riska Munawarah, menggunakan seni sebagai media untuk menyampaikan kritik mereka terhadap sebagian pelaksanaan syariat Islam di wilayahnya. Mereka berusaha mengangkat isu-isu yang berkaitan dengan kesetaraan gender dan memperjuangkan hak-hak perempuan.

Zikrayanti: Seni Pertunjukan sebagai Bentuk Kritik

Zikrayanti, seorang seniman pertunjukan, melalui monolog tubuh Cut Nyak Dhien, menafsirkan ulang sosok pahlawan nasional tersebut dari perspektif perempuan. Ia menekankan bahwa perjuangan Cut Nyak Dhien dulu sangat modern dalam hal feminisme dan kekuatan gender, tetapi saat ini, masalah ketubuhan perempuan justru menjadi fokus. “Aku melihat kayak kita ini mundur, bukan maju,” ujarnya.

Ia juga menyatakan bahwa dirinya tidak menolak syariat Islam, tetapi kritiknya terhadap beberapa praktik yang dianggap tidak berpihak pada perempuan. Zikrayanti menjelaskan bahwa sebelum syariat diberlakukan, tidak ada yang mengatur ketubuhan perempuan. Namun, setelah syariat diterapkan, ketubuhan perempuan selalu menjadi sasaran aturan.

Arifa Safura: Seni Instalasi sebagai Bentuk Pemikiran Kritis

Arifa Safura, seorang seniman instalasi, mencoba mengkritik pelaksanaan syariat Islam yang dinilai memarjinalkan perempuan. Ia menegaskan bahwa fokusnya selalu pada tubuh perempuan, bukan pada isu-isu lain seperti sampah atau korupsi. “Kenapa fokusnya tubuh, tubuh dan tubuh [perempuan], kenapa tidak diurus soal sampah, atau korupsi parah di Aceh,” tanyanya.

Arifa melakukan riset mendalam tentang Cut Nyak Dhien dan menggabungkannya dengan pengalaman ketubuhan perempuan Aceh. Karyanya, “Tanoh, Tuboh, Ie Mata, Darah ngoen Nyawoeng (Tanah, Tubuh, Air Mata, Darah dan Nyawa)”, merupakan campuran dari lukisan, aksara Arab Jawi Aceh, serta simbol-simbol seperti goni dan rempah.

Riska Munawarah: Fotografi Dokumenter sebagai Bentuk Advokasi

Riska Munawarah, seorang fotografer dokumenter, menggunakan bidikan kameranya untuk menyuarakan isu-isu yang berkaitan dengan hak-hak perempuan di Aceh. Ia menyoroti bagaimana jilbab menjadi kontrol sosial bagi perempuan dan bagaimana pembatasan interaksi laki-laki dan perempuan di ruang publik.

Karya-karyanya, termasuk seri foto dokumenter ‘This Is Us’, dipamerkan di Rumah Cut Nyak Dhien di Aceh Besar. Dalam karyanya, Riska menggambarkan pengalaman pribadinya serta cerita ibunya yang dipaksa mengenakan jilbab di awal-awal penerapan syariat.

Pengalaman Pribadi dan Kritik terhadap Syariat Islam

Zikrayanti, Arifa Safura, dan Riska Munawarah lahir dan tumbuh besar di Aceh yang mengalami perubahan besar. Mulai dari tsunami hingga konflik bersenjata, wilayah ini telah mengalami banyak perubahan. Saat itu, ketiga perempuan ini menyaksikan bagaimana ibu-ibu mereka dipaksa mengenakan jilbab.

Zikrayanti mengingat bahwa ia memutuskan mengenakan jilbab saat duduk di bangku SMP. Ia menyatakan bahwa pilihan itu dilakukan karena kesadaran diri, bukan karena keharusan setelah diberlakukan formalisasi syariat Islam di Aceh. “Karena waktu itu syariat belum ada,” tegasnya.

Arifa Safura juga menyebutkan bahwa ia tumbuh besar di zona merah saat masa konflik. Pengalaman masa kecilnya memberinya wawasan tentang bagaimana perempuan di kampungnya sudah terbiasa tampil di ruang-ruang publik.

Riska Munawarah mengingat pengalaman ibunya yang pernah dicegat oleh polisi syariat. Ia juga mengingat bagaimana ibunya harus membeli seragam baru SD yang sesuai syariat untuk dirinya. Ia menyatakan bahwa dirinya mengenakan jilbab karena lingkungan sosial, bukan karena pencarian jati diri.

Karya-Karya yang Mengangkat Isu Kesetaraan Gender

Karya-karya Zikrayanti, Arifa Safura, dan Riska Munawarah menyuarakan keberanian untuk menolak nilai-nilai patriarki yang masih mendominasi. Mereka berusaha menggerakkan banyak orang agar lebih dekat ke arah kesetaraan gender.

Zikrayanti, Arifa Safura, dan Riska Munawarah berkolaborasi dalam sebuah acara seni guna menafsir ulang sosok pahlawan nasional Cut Nyak Dhien. Mereka ingin menampilkan sosok tersebut dari kaca mata pengalaman ketubuhan perempuan dan situasi sekarang.

Melalui karya-karya mereka, ketiga perempuan ini berupaya untuk membuka dialog dengan para pengunjung dan mengubah persepsi orang terhadap perempuan. Mereka percaya bahwa dialog adalah kunci untuk menciptakan perubahan.

Penutup

Tiga perempuan muda Aceh, yaitu Zikrayanti, Arifa Safura, dan Riska Munawarah, menggunakan seni sebagai medium untuk menyampaikan kritik terhadap sebagian pelaksanaan syariat Islam di wilayahnya. Mereka berusaha mengangkat isu-isu yang berkaitan dengan kesetaraan gender dan memperjuangkan hak-hak perempuan.

Dengan karya-karya mereka, ketiga perempuan ini tidak hanya menyuarakan pendapat mereka, tetapi juga berupaya untuk membuka dialog dengan para pengunjung dan mengubah persepsi orang terhadap perempuan. Mereka percaya bahwa dialog adalah kunci untuk menciptakan perubahan.

📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.