Tuhan di Ujung Kalimat — Pementasan Ngaos Art, Doa Lahir dari Diam, Konfirmasi untuk Menonton!

by -369 Views

Ngaos Art Hadirkan Pertunjukan yang Menggugah Batin

Di tengah dunia teater yang semakin megah namun sering kehilangan makna, Ngaos Art kembali menawarkan karya yang mampu menggugah batin. Kali ini, mereka mempersembahkan pertunjukan bertajuk Pentas Sebelum Pantas: “Tuhan di Ujung Kalimat”, sebuah monolog karya Ab Asmarandana yang diperankan oleh Hendri Pramono, aktor peraih nominasi Aktor Terbaik di Lanjong Art Festival (LAF) 2025. Pementasan ini akan digelar pada Sabtu, 11 Oktober 2025, pukul 19.30 WIB di Studio NGAOS ART.

Karya ini tidak hanya sekadar menampilkan adegan, tetapi juga mengajak penonton untuk merenung dan berpikir. “Tuhan di Ujung Kalimat” bukan hanya tentang pergulatan spiritual, tetapi juga tentang diam yang bermakna—tentang manusia yang sibuk menyebut nama Tuhan, namun lupa mendengarkan-Nya. Seperti potongan monolog yang dibawakan Hendri, “Tuhan tidak pernah butuh suara lantangku, Ia hanya menungguku diamku menjadi doa.”

Kekuatan: Naskah dan Kesederhanaan

Monolog ini dibuka dengan kesadaran getir sang tokoh yang lelah bukan karena berpikir, tetapi karena setiap pikirannya selalu menyeret nama Tuhan. Dalam suasana akrab warung kopi, ia berdialog dengan para tokoh seperti Babeh, Om Ed, Dr. Billy, dan Ustadz Aan, yang masing-masing mewakili cara manusia memaknai keberadaan Tuhan. Dengan gaya jenaka dan absurd khas Hendri Pramono, penonton diajak menelusuri paradoks manusia modern: semakin sering menyebut Tuhan, semakin jauh dari mendengar-Nya.

Kekuatan karya ini terletak pada kesederhanaan dan kejujuran tafsirnya. Ab Asmarandana tidak menulis naskah untuk menggurui, melainkan untuk membuka ruang hening, ruang jeda, di mana penonton dapat menemukan “Tuhan”-nya sendiri. Hendri Pramono, melalui permainan tubuh dan suaranya yang khas, menghadirkan performa yang intim dan reflektif, seolah mengajak kita duduk bersama dalam keheningan yang penuh makna.

Latihan Bersama

Ngaos Art menyebut pementasan ini sebagai “latihan bersama untuk lebih mendengar, lebih diam, dan mungkin lebih dekat.” Sebuah ajakan sederhana namun dalam: bahwa teater bukan sekadar panggung estetika, melainkan tempat menakar jarak antara manusia dan Tuhannya.

Bagi yang ingin menyaksikan peristiwa teater yang lembut sekaligus menggugah ini, dapat melakukan konfirmasi ke nomor 082120195531 (Ato). Karena, seperti kata sang tokoh, “Mungkin Tuhan tidak ingin dijelaskan. Ia hanya ingin kita berhenti merasa paling tahu apa yang Ia mau.”

Dan ketika adzan terdengar di akhir pertunjukan, mungkin kita akhirnya sadar—teater ini bukan tentang mencari Tuhan, tapi tentang belajar mendengarkan-Nya dalam diam.


📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.