Kengerian Runtuhnya Ponpes Al Khoziny, Taj Yasin: Jangan Lupakan Ilmu dan Standar Konstruksi

by -482 Views

Peringatan Serius Wagub Jateng terhadap Kepatuhan Standar Pembangunan

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap standar konstruksi dan aturan pembangunan yang telah ditetapkan pemerintah. Hal ini dilakukan sebagai upaya mencegah terulangnya insiden runtuhnya mushala di Ponpes Al Khoziny, Sidoarjo, yang menewaskan puluhan korban jiwa.

Yasin mengatakan bahwa musibah tersebut harus menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pihak, termasuk pengembang, mandor, dan lingkungan pondok pesantren. Ia menekankan bahwa faktor-faktor dalam ilmu pembangunan tidak boleh dilanggar, karena bisa berdampak serius pada keselamatan manusia.

Pentingnya Izin Bangunan

Ia meminta semua pihak untuk mematuhi kewajiban dalam izin bangunan, khususnya Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). Menurutnya, kepatuhan terhadap perizinan ini adalah langkah penting agar insiden serupa tidak terjadi lagi di mana pun.

“Ini perlu menjadi pelajaran bersama, bukan hanya untuk pondok pesantren, tetapi juga bagi pengembang atau mandor yang mengabaikan standar konstruksi,” ujarnya saat ditemui di kediamannya di BSB City, Semarang.

Yasin menambahkan bahwa kejadian serupa bisa terjadi di bangunan-bangunan lain jika standar konstruksi tidak dipatuhi. Ia menekankan pentingnya ketertiban terhadap aturan yang sudah diatur oleh pemerintah.

Santri dalam Proses Pembangunan

Menanggapi keterlibatan santri dalam proses pembangunan ponpes, Yasin menyebut bahwa keikutsertaan mereka biasanya bersifat membantu, bukan sebagai tenaga ahli atau mandor. Ia menjelaskan bahwa santri biasanya terlibat dalam tugas-tugas sederhana seperti membawa bata atau semen untuk mempercepat proses pembangunan.

“Santri ini sifatnya hanya membantu, namanya ro’an. Ro’an itu dari kalimat ya tabarukan, tapi disikat menjadi berkah, ‘ngalap’ (mencari) berkah itu ya. Mereka ini para santri yang mengikuti ini bukan menjadi mandor, mereka hanya pekerja saja,” jelasnya.

Yasin menambahkan bahwa santri sering kali dilibatkan saat proses pengecoran. Hal ini dilakukan karena tidak semua ponpes memiliki akses ke alat berat atau jalan yang cukup baik untuk truk pengecor.

“Biasanya yang paling banyak itu ketika pengecoran. Karena di pengecoran itu kan tidak semua pondok pesantren itu lokasinya bisa pakai alat berat sehingga mereka harus manual dan manual ini karena pengecoran tidak punya mulai waktunya panjang, harus selesai seketika itu maka digerakkanlah santri-santri untuk mempercepat itu,” katanya.

Upaya Pencegahan Kedepan

Untuk mencegah terulangnya kejadian serupa, Pemprov Jawa Tengah akan melakukan sosialisasi kepada pondok pesantren tentang pentingnya perizinan dan standar bangunan yang aman. Yasin berharap dengan sosialisasi ini, seluruh pihak lebih sadar akan tanggung jawab mereka dalam membangun struktur yang kuat dan layak huni.

Selain itu, ia juga memperingatkan para pengasuh pondok untuk memperhatikan sistem kekuatan bangunan, terutama untuk pondok-pondok baru. Jika bangunan sudah tidak layak, maka harus segera dibongkar.

“Ketika memang bangunannya ini sudah tidak layak, sudah harus ada pembongkaran, itu pasti akan dilakukan pembongkaran. Apalagi ini kan pondoknya baru, jadi saya enggak tahu kan apakah itu pembangun pembangunannya bagaimana? Saya belum tahu,” ucapnya.

📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.