Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Tantangan dan Kritik yang Menghiasi Implementasi
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diluncurkan dengan harapan besar untuk mengatasi masalah gizi anak Indonesia. Tujuannya adalah memberikan makanan gratis kepada jutaan pelajar setiap hari, sehingga dapat meningkatkan status gizi, membebaskan anak dari malnutrisi, serta menekan angka stunting. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah mengalokasikan dana ratusan triliun rupiah. Namun, setelah berjalan selama sembilan bulan, program ini justru menuai banyak kritik.
Masalah dalam Pelaksanaan MBG
Salah satu isu utama yang muncul adalah terburu-burunya implementasi program. Menurut Fachrial Kautsar, Policy and Advocacy Manager dari Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), MBG dijalankan terlalu cepat karena menjadi bagian dari visi dan janji kampanye Presiden Prabowo. Akibatnya, beberapa aspek seperti perencanaan, distribusi, dan pengawasan di lapangan sering kali tidak optimal.
Pendirian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga dinilai tidak sejalan dengan kebutuhan wilayah tertentu. Misalnya, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memiliki prevalensi stunting tertinggi, hanya memiliki 32 SPPG, sedangkan Jawa Tengah dengan prevalensi stunting lebih rendah memiliki 1.285 unit. Hal ini menunjukkan ketidakseimbangan dalam penyebaran infrastruktur program.
Selain itu, hanya 34 dapur pengelola MBG yang memiliki Sertifikasi Laik Higienis dan Sanitasi (SLHS) dari ribuan dapur yang beroperasi. Ini menunjukkan bahwa standar keamanan pangan belum sepenuhnya terpenuhi.
Realitas di Lapangan
Di berbagai sekolah, ada keluhan tentang menu yang monoton, porsi yang tidak sesuai kebutuhan gizi, serta keterlambatan distribusi makanan. Situasi ini diperparah oleh laporan keracunan massal di sejumlah daerah. Data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat 8.649 kasus keracunan makanan akibat MBG dari Januari hingga September 2025.
Ahli gizi masyarakat Tan Shot Yen menyoroti bahwa lemahnya kontrol terhadap standar keamanan pangan menjadi penyebab utama berulangnya kasus keracunan. Ia menjelaskan bahwa prinsip HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point) harus diterapkan secara ketat, mulai dari bahan baku, penyimpanan, cara memasak, hingga distribusi makanan.
Selain itu, penggunaan produk ultra-processed food (UPF) dalam menu MBG juga dikritik. Berdasarkan studi internasional, konsumsi UPF berpotensi menurunkan fungsi kognitif anak, meningkatkan risiko obesitas, serta memicu penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi.
Desakan Moratorium dan Evaluasi
Desakan moratorium terhadap program MBG kini semakin kuat, datang dari berbagai kalangan seperti LSM, akademisi, dan ekonom. Fachrial Kautsar menyatakan bahwa evaluasi menyeluruh hanya bisa dilakukan jika program ini dihentikan sementara. Ia juga menyoroti bahwa koordinasi lintas sektor selama ini hanya didasarkan pada nota kesepahaman (MoU) bilateral yang tidak cukup detail.
Menurut Fachrial, tanpa moratorium dan evaluasi, risiko yang dihadapi bukan hanya soal keuangan negara, tetapi juga kesehatan para siswa. Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa program MBG akan tetap berjalan, sambil melakukan evaluasi dan peningkatan kualitas.
Tantangan Struktural dan Komitmen Pemerintah
Program MBG mendapat alokasi dana sekitar Rp335 triliun, hampir setengah dari total anggaran pendidikan nasional sebesar Rp757,8 triliun. Untuk menutupi kebutuhan tersebut, pemerintah juga memangkas lebih dari Rp300 triliun anggaran kementerian, lembaga, dan daerah.
Fachrial menekankan bahwa investasi sebesar ini harus diiringi dengan evaluasi berkelanjutan. Efektivitas MBG sangat bergantung pada perencanaan yang matang, sistem pengawasan yang akuntabel, dan implementasi yang sesuai standar. Tanpa perbaikan mendasar, ia menilai MBG berisiko menjadi proyek politis mahal yang gagal menjawab akar persoalan gizi anak Indonesia.
Ahli gizi masyarakat Tan Shot Yen juga menekankan pentingnya tata kelola yang rapi dan pedoman yang jelas dalam pelaksanaan MBG. “Ini sudah harus jadi perhatian nasional,” ujarnya.
📲 Ikuti terus berita kami di Google News .





