WSSF 2025: Inovasi Jangka Panjang dari Indonesia

by -1782 Views

Peran BPJS Kesehatan dalam Meningkatkan Perlindungan Peserta JKN

BPJS Kesehatan menjadi salah satu organisasi yang aktif dalam menyampaikan solusi terkait perlindungan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) hingga usia lanjut. Hal ini menjadi fokus utama dalam World Social Security Forum (WSSF) 2025 di Kuala Lumpur, sebuah ajang internasional yang diselenggarakan oleh International Social Security Association (ISSA). Dalam forum tersebut, BPJS Kesehatan hadir untuk memperkenalkan inovasi dan strategi yang dapat diterapkan secara global.

Direktur Utama BPJS Kesehatan sekaligus Ketua Technical Commission on Medical Care and Sickness Insurance (TC Health), Ghufron Mukti, menegaskan bahwa isu ini semakin relevan mengingat pertumbuhan populasi usia lanjut di berbagai negara, termasuk Indonesia. Penyakit kronis juga semakin meningkat, sehingga memerlukan pendekatan baru dalam pelayanan kesehatan.

Ghufron menjelaskan bahwa Layanan Perawatan Jangka Panjang (LTC) menjadi kebutuhan mendesak karena tidak hanya berkaitan dengan layanan medis, tetapi juga dengan kualitas hidup peserta. LTC dirancang agar masyarakat tetap mandiri dan bermartabat meskipun menghadapi kondisi kesehatan yang kompleks.

Inovasi dalam Penguatan Layanan JKN

Dengan cakupan lebih dari 282 juta jiwa per 1 September 2025, Program JKN menjadi skema jaminan kesehatan terbesar di dunia. Untuk menghadapi tantangan demografi dan biaya kesehatan jangka panjang, BPJS Kesehatan melakukan berbagai langkah strategis. Salah satunya adalah pencegahan, deteksi dini, serta penguatan layanan primer. Selain itu, transformasi digital juga menjadi prioritas utama dalam pengembangan sistem jaminan kesehatan.

Salah satu inovasi yang dilakukan BPJS Kesehatan adalah Skrining Riwayat Kesehatan sebagai upaya promotif preventif. Inisiatif ini juga diperuntukkan bagi peserta lansia. Selain itu, peserta JKN kini semakin mudah mengakses layanan kesehatan hanya dengan menggunakan nomor induk kependudukan (NIK) yang tercantum di Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Kartu Keluarga (KK).

Penggunaan Big Data Analytics dalam Pengambilan Keputusan

BPJS Kesehatan juga mengadopsi big data analytics untuk memetakan tren penyakit kronis dan kebutuhan pelayanan bagi peserta lansia. Data ini menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan yang lebih efektif dan berkelanjutan. Menurut data BPJS Kesehatan per Agustus 2025, kasus penyakit berbiaya katastropik terbanyak adalah penyakit jantung, dengan jumlah kasus sebanyak 10,96 juta. Penyakit gagal ginjal mencatat 7,32 juta kasus, kemudian penyakit stroke sebanyak 4,03 juta kasus, dan penyakit kanker sebanyak 3,54 juta kasus.

Kolaborasi Global dalam Pengembangan Sistem Jaminan Kesehatan

Keterlibatan BPJS Kesehatan dalam forum ini bukan hanya untuk bertukar pengetahuan tentang penerapan LTC, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mempresentasikan keberhasilan transformasi digital yang telah dilakukan Indonesia. Dengan begitu, posisi Indonesia sebagai negara dengan jumlah peserta jaminan kesehatan terbesar di dunia semakin diperkuat.

Selain itu, BPJS Kesehatan juga gencar melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan literasi JKN di kalangan masyarakat. Beberapa program edukasi telah dilakukan, baik melalui kanal digital resmi maupun kolaborasi dengan berbagai stakeholder, termasuk pemerintah setempat dan komunitas.

Tujuan Mewujudkan Sistem Jaminan Kesehatan yang Inklusif

Melalui WSSF 2025, BPJS Kesehatan berharap dapat menjadi ajang diskusi yang efektif untuk bertukar ide, memperkuat jejaring internasional, serta merumuskan langkah konkret bersama negara-negara lain. Tujuannya adalah mewujudkan sistem jaminan kesehatan jangka panjang yang inklusif dan berkelanjutan, yang mampu memberikan perlindungan optimal bagi seluruh masyarakat.

📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.