Polda Papua Barat Gelar Trauma Healing untuk Pemulihan Mental Warga Pasca-Penyerangan di Tambrauw

by -6 Views

Polda Papua Barat Daya Gelar Trauma Healing untuk Warga Pengungsi di Tambrauw

Polda Papua Barat Daya kembali menunjukkan komitmennya dalam memberikan dukungan penuh kepada masyarakat yang terkena dampak konflik. Kali ini, lembaga kepolisian tersebut menggelar aksi pemulihan luka batin (trauma healing) bagi warga pengungsi di Kabupaten Tambrauw. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu (12/4/2026), dengan fokus utama pada pemulihan kondisi mental masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan, dan lansia.

Kegiatan trauma healing ini menyasar warga dari tiga kampung yaitu Kampung Bamusbama, Bano, dan Bamuswaiman. Mereka terpaksa mengungsi setelah terjadi insiden penyerangan di wilayah tersebut. Dengan adanya program ini, Polda Papua Barat Daya berupaya membangun kembali rasa aman dan kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian.

Plt. Kabid Humas Polda Papua Barat Daya Kompol Jenny Hengkelare menjelaskan bahwa agenda ini bertujuan untuk memulihkan kondisi mental masyarakat yang terdampak secara psikologis. “Kami melibatkan personel Polisi Wanita (Polwan) dan tim Biro SDM untuk memberikan pendekatan yang lebih humanis,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa mayoritas pengungsi adalah anak-anak, perempuan, dan lansia. Oleh karena itu, pendekatan yang diberikan harus bersifat empati dan mendukung. Dengan adanya interaksi langsung antara petugas dan masyarakat, diharapkan dapat mengurangi stigma rasa takut yang selama ini melekat pada masyarakat terhadap aparat.

Selain pendampingan psikologis, Polda Papua Barat Daya juga menggelar berbagai kegiatan pemberdayaan dan edukasi. Salah satunya adalah pelatihan merajut noken bagi kaum ibu. Kegiatan ini tidak hanya memberikan keterampilan tambahan, tetapi juga menjadi sarana untuk meningkatkan kemandirian ekonomi para ibu pengungsi.

Di sisi lain, anak-anak di lokasi pengungsian juga diberikan kesempatan untuk bermain dan belajar membaca. Kegiatan ini dirancang agar anak-anak tetap bisa menikmati masa kecilnya meskipun sedang mengungsi. Melalui aktivitas yang menyenangkan, diharapkan anak-anak dapat melupakan trauma yang mereka alami.

Jenny menegaskan bahwa kehadiran Polri di tengah pengungsi bertujuan untuk menghapus stigma rasa takut masyarakat terhadap petugas. “Melalui interaksi langsung ini, diharapkan masyarakat merasa aman dan merasakan kehadiran negara di masa sulit,” katanya.

Kegiatan trauma healing ini direncanakan berlangsung selama tiga hari dengan fokus utama pada pemulihan trauma warga sipil. Selama periode ini, berbagai kegiatan akan terus dilakukan untuk memastikan bahwa masyarakat dapat kembali pulih secara fisik maupun mental.


📲 Ikuti terus berita kami di Google News .

About Author: Sammy NW

Avatar of Sammy NW
Sammy NW adalah seorang jurnalis dan mediapreneur yang berdedikasi mengembangkan media digital yang berintegritas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.